TEOLOGI

MU’TAZILAH DAN RASIONALISME DALAM ISLAM

[toc title=”Pembahasan dalam Artikel ini Meliputi:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Pengantar

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas salah satu aliran kalam atau teologi Islam yang memiliki karakter agak berbeda dari dua aliran sebelumnya, baca: Khawarij dan Khawarijisme, dan baca juga: Murji’ah dan Paradigma Teologi Irja’. Mu’tazilah dikenal sebagai aliran atau bahkan madzhab pemikiran Islam rasional yang menonjolkan kiprah akal atau ra’yu di dalam membahas persoalan agama. Meskipun terdapat pengaruh dari kekisruhan politik antara Ali ibn Abi Thalib, Mu’awiyah dan Khawarij terhadap kelahiran Mu’tazilah, aliran ini lebih menggunakan akal di dalam merespon wacana keagamaan yang telah digulirkan oleh aliran sebelumnya.

Definisi Mu’tazilah

Secara etimologi, kata Mu’tazilah berasal dari kata “I’tazala” yang berarti “menarik diri”, “memisahkan diri”, atau “abstain”. Adapun secara terminologi, penamaan Mu’tazilah merujuk kepada fenomena yang berbeda-beda sehingga definisinyapun beragam dan terkesan kontradiktif. Berikut 3 (tiga) fenomena yang dijadikan rujukan bagi penyebutan Mu’tazilah

  1. Orang-orang yang menarik diri dari urusan dunia (keinginan dunia, kesenangan, dan dosa) dan menekankan kesalehan dan asketisme. Sebagai contoh ketika ‘Amr ibn ‘Ubayd yang memerintahkan muridnya untuk menjauhi dosa.
  2. Orang-orang yang memilih netral dalam Perang Saudara. Sebagaimana diketahui bahwa pada saat kekhalifahan Ali, terdapat 3 (tiga kelompok antara lain Kawarij yang memusuhi Ali, kelompok Aisyah ra yang menentang Ali, dan Syiah yang setia kepada Ali. Tetapi di luar kelompok ini terdapat kelompok yang memisahkan diri, dan tidak hendak ikut dalam perang saudara. Keyakinan mereka menyatakan tidak sah untuk memerangi Ali ataupun berperang bersama Ali. Mereka disebut sebagai fenomena “I’tizala” pertama di mana di dalam kelompok ini terdapat Abu Musa al-Asy’ari, Abu Said al-Khudri, dan lainnya.
  3. Orang-orang yang menarik atau keluar dari kelompok kajian Hasan al-Bashri dan mendirikan kelompok pengajian yang lain. orang-orang ini adalah Washil ibn Atha’ dan orang-orang yangsependapat dengannya. Washil tidak sepakat dengan gurunya mengenai status pelaku dosa besar. Bagi Washil, pelaku dosa besar bukan mu’min tetapi bukan pula kafir, tetapi berada di antara dua posisi atau yang lazim dikenal sebagai al-manzilatu bain al-manzilatain. Setelah menyatakan itu, Washil meninggalkan pengajian gurunya dan mengambil tempat pada salah satu pilar Masjid diikuti oleh beberapa orang yang lain. atas peristiwa ini Hasan al-Bashri berkata “Washil meninggalkan kita (I’tizalaanna).

Tokoh-tokoh Mu’tazilah

Wasil ibn Atha’ (80 H/699 M – 131 H/ 748 M) merupakan pemuka Mu’tazilah pertama setelah ia keluar dari dari pengajian Hasan al-Bashri. Washil membangun pemahaman teologi yang baru yakni al-manzilatu bain al-manzilatain. Para sejarawan menjelaskan bahwa Wasil ibn Atha’ mendirikan mendirikan Mu’tazilah pada kisaran pertengahan abad ke-8. Di samping Washil, terdapat pemuka yang lain yakni ‘Amr ibn Ubaid (80 H/699 M – 144 H/761 M). Dia sangat dekat dan banyak terlibat dalam pengajian dengan Hasan al-Bashri.

Adapun poros Mu’tazilah terdapat pada dua tempat yakni Bashra dan Baghdad. Mu’tazilah Bashra merupakan Mu’tazilah yang awal, yang didirikan oleh Wasil ibn Atha’. Termasuk dalam rombongan Mu’tazilah Bashrah adalah ‘Amr ibn Ubayd. Sedangkan Mu’tazilah di Baghdad merupakan pengembangan dari Mu’tazilah di Bashra. Beberapa pemuka Mu’tazilah Baghdad antara lain; Bishr ibn al-Muʻtamar (W. 210 H/825-26 M), Thumāma ibn Ashras (W. 213 H/828M), Abū Mūsā al-Murdār (W. 226 H/841 M), dan lain-lain.

Ajaran Pokok Mu’tazilah

Mu’tazilah memiliki penekanan khusus kepada beberapa pemahaman keislaman yang mereka nilai sebagai hal pokok. Meski demikian, mereka merupakan Ummat Islam seperti pada umumnya yang meyakini Rukun Islam dan Rukun Iman. Hanya saja, mereka memiliki konstruksi pemahaman keislaman yang mereka anggap pokok. Pendek kata, jika disebut Mu’tazilah, maka mereka memiliki ciri-ciri kepemilikan akan 5 (lima doktrin pokok. Adapun doktrin mereka antara lain;

  1. Al-Tawhid
    Al-Tawhid di sini berarti mengesakan Allah. Bagi Mu’tazilah, Allah SWT memiliki sifat yang tidak terpisah dari zat-Nya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari penyematan sifat-sifat kemanusiaan atau anthropomorphisme kepada Allah.
  2. Al-Adlu
    Al-Adlu yang dimaksud di sini adalah Keadilan Tuhan. Bagi Mu’tazilah, karena Tuhan itu Adil, maka Tuhan wajib berbuat adil dan tidak mungkin mengingkari keadilan-Nya dengan berbuat tidak adil.
  3. Al-Wa‘d wa al-Wa‘id
    Al-Wa‘d wa al-Wa‘id berarti janji dan ancaman. Bagi Mu’tazilah, sudah bisa dipastikan bahwa mereka yang beriman akan memperoleh janji kemaslahatan atau keselamatan dari Yuhan, sedangkan mereka yang mengingkari Tuhan sudah pasti akan memperoleh laknat dan adzab-Nya.
  4. Al-Manzilatu bain al-Manzilatain
    Al-Manzilatu bain al-Manzilatain artinya posisi di antara dua posisi. Doktrin ini merupakan doktrin pokok Mu’tazilah yang secara khusus ditujukan kepada Mu’min yang berdosa besar. Maksud dari doktrin Al-Manzilatu bain al-Manzilatain adalah bahwa para Mu’min yang berbuat dosa besar itu berada posisi di antara dua posisi. Artinya, Mu’min yang berdosa besar tidak lagi sepenuhnya merupakan seorang Mu’min, namun demikian dia juga bukan seorang Kafir karena sang Mu’min tersebut pernah menyatakan keimanan atau ketundukannya kepada Allah SWT.
  5. Al-‘Amr bi al-Ma’ruf wa Naha an al-Munkar
    Al-‘Amr bi al-Ma’ruf wa Naha an al-Munkar berarti menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Merupakan kewajiban bagi Mu’tazilah untuk selalu mendakwahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Masa Kejayaan dan Kemunduran

Mu’tazilah mencapai masa kejayaan pada masa kekhalifahan Abbasiyah yakni pada masa Khalifah al-Makmun (813-833). Pada 827, al-Makmun menjadikan Mu’tazilah sebagai Madzhab resmi negara. Fenomena ini merupakan awal bagi terjadinya mihnah atau bencana berupa pengadilan terhadap – khususnya – para ulama yang berbeda pendapat dengan pemahaman keagamaan Mu’tazilah. Salah satu korban yang disebut-sebut dalam sejarah adalah ulama besar seperti Ahmad ibn Hambal (164-241 H). Imam Ahmad ibn Hambal mengalami siksaan yang cukup berat dari pemerintahan pada waktu itu. Imam Ahmad ibn Hambal meninggal dunia setelah dibebaskan dari penjara, di mana hal itu oleh para sejarawan disebut-sebut karena kuatnya siksaan yang beliau derita selama masa penahanan.

Keadaan berbalik ketika kekhalifahan Abbasyiyah dijabat oleh Khalifah al-Mutawakkil (847-861). Pada 848 Al-Mutawakkil membatalkan Mu’tazilah sebagai madzhab resmi negara. Pada masa al-Mutawakkil, ortodoksi Islam kembali memperoleh tempat dan masanya. Sejak masa al-Mutawakkil, aliran Mu’tazilah mengalami kemunduran hingga hilang dari peredaran.

 

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

  1. Dwi Mutiara says:

    apa landasan dasar cara berpikir dari org-org golongan mu’tazilah ini dalam berpikir secara rasional ?
    mengapa islam seperti ini seperti islam liberalisme
    mohon penjelasannya

    • Mengenai rasionalitas Mu’tazilah dapat dicermati dari doktrinnya yang lima. Kalau kita renungkan alur penjelasan Mu’tazilah dalam 5 doktrinnya di atas, alur pikirannya mengutamakan rasionalitas, tentunya rasionalitas kemanusiaan.

  2. Nur Zikra Arfani says:

    apakah org2 murta’zilah ini termasuk orang-orang yang ingin menyesatkan pengikut Islam ?
    atau dapast dikatakan kafir ?

  3. org2 seperti ini adalah orang2 yang bukan kafir tetapi org2 yang mempelaljari Islam atau cara berpikirnya seperti tidak mempercayai adanya wahyu dari sang illahi.
    apa benar pak ?

    • Bukan begitu, dengan kekuatan rasio mereka, justru lebih detail di dalam menerangkan beberapa persoalan agama yang mereka pandang prinsip. Lebih lanjut cobalah dibaca buku al-Syahrastani berjudul al-Milal wa al-Nihal, dan Ahmad Amin berjudul Fajrul Islam.

  4. Rabiyatul Alawiyah says:

    Pada doktrin al-manzilatu bain almanzilatain mengatakan posisi diantara dua posisi.mukmin yang berdosa besar,bukan kafir. Apakah paham ini sama seperti murjiah??

    • Khusus persoalan dosa besar, Kalau Murji’ah tidak mengatakan Kafir, hanya memang dosanya akan dibalas dengan siksaan Allah dan pada masanya akan diampuni dan dimasukkan ke syurga. Tetapi bagi Mu’tazilah posisi pendosa besar masih mengambang apakah akan diampuni ataupun diadzab, sepenuhnya diserahkan kepada Allah.

  5. M.Kurdani fauzi says:

    ass pak, apa tujuan golongan muktazillah, membuat 5 doktrin pokok tersebut, apakah tidak cukup kuat landasan rukun iman dan rukun islam? saya rasa rukun islam dan rukun iman sudah mencakup dari pokok ajaran agama islam, mohon pencerahannya pak?

  6. Rijlan Hasanuddin says:

    Dalam tulisan ini tokoh awal mu’tazilah disebutkan abu Musa alasyari Krn disebutkan abu Musa alasyari keluar dari yang membela atau yang memrangi Ali, akan tetapi bukankah abu Musa alasyari adalah juru runding Ali ketika berkonfrontasi dgn muawiyah yang berarti bliau adalah orang yang berada di pihak Ali?

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!