OPINI

PASANG SURUT KIAI DALAM POLITIK

Kemelut pasca keruntuhan rezim Orde Baru ternyata tidak segera sirna dibawah pemerintahan yang menggusung bendera reformasi. Kompleksitas masalah justru semakin rumit dan meluas sebab selain harus menangani sisa masalah Orde Baru yang masih menumpuk, muncul pula masalah yang berkaitan dengan perilaku dan kebijakan pemerintahan baru. Dalam beberapa hal justru kebijakan tersebut menjadi counter produktif dan controversial, ditambah maraknya KKN dikalangan pemerintah sendiri dari tingkat pusat sampai ke daerah, bersamaan dengan langkah desentralisasi dan otonomi daerah. Format keulamaan selama rezim Orba yang berkuasa selama tiga dekade dengan sangat dominan dan sentralistis berubah drastis menjadi sangat jinak dan akomodasionis. Pada masa tersebut, berbagai kekuatan otonom masyarakat lumpuh total terserap kedalam kekuatan gurita negara dalam bentuk korporatisme negara, termasuk entitas keulamaan. Posisi ulama ketika itu sangat dilematis. Pada satu sisi, ulama paling tidak dalam tradisi Sunni senantiasa memberikan legitimasi keagamaan pada pemegang kekuasaan de facto, pada sisi lain, juga ada pandangan umum bahwa kekuasaan itu selalu korup dan berdekatan dengan mereka yang sedang berkuasa. Hal ini tentu akan merusak harkat moral ulama dan integritas ajaran mereka. Ada sebuah hadis popular yang menganjurkan sikap ini yang sering dikutip dalam khotbah, “ Seburuk-buruk ulama adalah mereka yang pergi menemui umara, sedangkan sebaik-baiknya umara adalah mereka yang menemui ulama”.

Dinamika dan proses politik yang terjadi di Indonesia terutama menjelang ajang Pilkada, Pileg, Pilgub sampai dengan Pilpres mengalami perubahan yang amat drastis. Actor politik yang biasanya dilakukan oleh kalangan umum dan professional sekarang ini mengalami pergeseran, terutama dengan adanya actor lain yaitu Kiai sosok yang selama ini dikenal hidup ditengah-tengah santri dan masyarakat. Garis perjuangan kiai mulai bergeser merambah wilayah politik partisan dengan segala manuver politik dukung – mendukung (legitimasi) yang seringkali dinamai dengan istilah memberi restu atau silaturahmi. Proses ini karena adanya simbiosis mutualisme untuk interest tertentu demi mendapatkan bagian dari kekuasaan atau minimal mendapatkan bantuan dari elite politik yang di dukung untuk lembaga baik formal maupun non formal yang dipimpin. Sementara elit politik akan mendapatkan legitimasi moral keagamaan dari kiai sebagai bahan kampanye. Dalam politik praktis, kiai memberikan legitimasi pada elit politik dengan memakai agama, karena agama adalah energy dahsyat yang mampu menyublimasikan dan mensakralkan dunia profane.

Adanya kebijakan kembali ke khittah, pada satu sisi memang membebaskan kiai dan umat Islam pada umumnya dari afiliasi terhadap partai tertentu, tetapi pada sisi yang lain, hal itu telah menyebabkan tidak saja munculnya berbagai orientasi politik di kalangan umat Islam tetapi juga makin menurunnya politik Islam dan pengaruh politik kiai itu sendiri. Meminjam konsep klasifikasi tradisi dari Robert Redfield, dalam realitas historis, para ulama selalu terpolarisasi kedalam dua tradisi, yaitu tradsi besar (great tradition) yaitu ulama yang berada di lingkaran tradisi feodalistik, aristocrat elite istana yang bercorak patron klien sebagai corong istana, pendamping umara dan terkadang menjadi informan. Dengan demikian, rakyat dipandang ulama dalam tradisi besar ini sebagai objek eksploitasi dan berposisi subordinat. Ulama model ini tidak pernah mau bersatu dengan rakyatnya dengan suatu keakraban dan keterlibatan social. Tradisi kedua yaitu, tradisi kecil (little tradition), yaitu para ulama yang menyatu dengan masyarakat bawah, menjadi pemimpin pelopor yang aspiratif dan terlibat langsung dalam persoalan-persoalan kemasyarakatan. Pengaruh kiai dalam wilayah politik tidak sekuat dalam bidang social dan kemasyarakatan. Meskipun menjadi tokok kharismatik, hanya sedikit pengikut yang merasa terdorong untuk mengikuti langkah politik kiai.

Ilmu politik adalah ilmu yang mengkaji hubungan-hubungan manusia dengan Negara dan manusia dengan manusia. Dalam Islam hal ini juga merupakan bidang agama karena ia mencakup semua segi kehidupan. Islam tidak menyetujui penyekatan antara agama dan politik. Islam ingin melaksanakan politik selaras dengan yang diberikan agama dan menggunakan Negara sebagai pelayan Tuhan. Islam menggunakan kekuatan politik untuk mereformasi masyarakat agar tidak terjatuh kedalam tempat yang paling buruk. Pada awal perjuangan, Umat Islam dalam bidang politik pada masa penjajahan adalah untuk menegakkan akidah, melawan kekafiran dan melawan ketidakadilan para penjajah pada masa itu. Namun seiring berjalannya waktu Umat Islam mulai menyadari bahwa perjuangan mereka tidak akan berhasil kalau melanjutkan cara-cara tradisional. Oleh karena itu perlu diadakan perubahan-perubahan yang walaupun berasal dari pengaruh colonial sendiri, yaitu berjuang melalui organisasi-organisasi baik bidang social, pendidikan ataupun dibidang pergerakan politik. Diantara organisasi pergerakan yang lahir dan memiliki peranan besar hingga saat ini adalah Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan dan NU yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari.

Kehadiran ulama dalam bidang politik seharusnya memiliki dampak positif dalam pengertian memberikan sumbangan bagi terciptanya bangunan struktur politik yang bermoral, karena ulama adalah symbol moral. Namun ketika Ulama sudah terpolarisasi sedemikian rupa, sehingga sering antara seorang ulama dengan ulama lain saling berhadapan dan membela partainya masing-masing dan problematika umat Islam masa kini adalah suka meributkan bid’ah dan khilafiyah sampai lupa untuk memperkuat ukhuwah dan akidah. Kondisi ini akan menimbulkan perpecahan dan dampaknya membingungkan rakyat, sehingga akan memperlemah kekuatan Umat islam sendiri yang akhirnya dimanfaatkan oleh golongan partai-partai lain. Padahal seandainya saja antara ulama yang satu sama ulama yang lain sama-sama bisa berlapang dada. Maka Inn Shaa Allah, penulis yakin umat ini akan senantiasa dilimpahi berkah dan tidak mudah di adu domba oleh faham liberal dan faham sempalan lainnya. Miris sekali ketika melihat sebagian tokoh umat ini lebih terlihat mesra dengan kelompok yang berbeda dalam akidah dan melempar muka acuh tak acuh pada kelompok yang berbeda khilafiyah. (padahal hanya khilafiyah). Sungguhlah benar dan tepat sekali perkataan ini, “ Hanya karena khilafiyah, saling bermusuhan. Dengan yang berbeda akidah, saling erat berpelukan. Maka dari itu menurut penulis, mulailah dari saat ini dan seterusnya untuk selalu menebar hal-hal yang menuju pada kekokohan dalam hal UKHUWAH dan berlapang dada dengan hal-hal yang mengandung KHILAFIYAH. Jika hal itu terjadi, maka akan terbentuk pribadi umat yang penuh berkah.

Yulfi Alfikri

Dosen Agama Islam pada STITAD AL-Azhar Jambi

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!