PEMBAHARUAN ISLAM

PEMBAHARUAN DALAM DUNIA ISLAM

[toc title=”Pembahasan dalam Artikel ini antara lain:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Lingkup Pembaharuan pada Tataran Personal

Ketika memulai perkuliahan tentang Filsafat Islam Modern dan Kontemporer dengan sub bahasan pengertian dan ruang lingkup tajdid atau pembaharuan, seorang mahasiswa bertanya apa yang harus kita perbaharui? Pertanyaan ini sebenarnya menarik mengingat tanpa jawaban yang tepat atas pertanyaan ini, ulasan-ulasan tentang materi pembaharuan akan berjalan tanpa arah dan apa yang ditargetkan tidak jelas. Sebelum memulai materi-materi dalam mata kuliah ini, perlu saya sampaikan bahwa kata pembaharuan berasal dari kata “baru”, “kebalikan dari lama”, atau “perubahan dari yang ada sebelumnya.” Jika diuraikan secara istilah, maka pembaharuan merupakan sebuah upaya untuk memperbarui dan memperbaiki sesuatu yang telah ada agar menjadi lebih baik, lebih bermakna, dan seterusnya.

Guna mengarahkan kepada keperluan pembaharuan pemikiran Islam, maka yang harus diperbaharui adalah pola pikir dan perbuatan. Jadi kalau konteksnya adalah dalam agama, maka pembaharuan itu mencakup pembaharuan pola pikir dan pemahaman terhadap agama serta pembaharuan dalam perbuatan sebagai wujud implementasi dan manifestasi agama. Ummat Islam adalah ummat yang besar dari segi jumlah pemeluknya. Perhatikan misalnya pada uraian tentang pertumbuhan Ummat Islam yakni; Benarkah Islam Merupakan Agama Yang Cepat Berkembang. Sebagai langkah strategis untuk memperbaharui Ummat Islam adalah memperbaharui pemahaman terhadap agama yang dirasa agak jauh atau bahkan bertentangan Islam. Jujur saja, sedikit sekali orang yang mencoba memikirkan agamanya, bersedia memahami agama dengan sebaik-baiknya, dan malah mabuk dalam ritualitas yang tidak dimengertinya. Jika sudah demikian, tentu sangat sulit memanifestasikan ajaran agama dalam kehidupan mereka. Di sisi lain, perilaku seseorang pada satu sisi merupakan gambaran dari struktur pikirannya, apa yang dipikirkan, dan bagaimana dia mendamaikan pemikirannya. Saya sangat tidak yakin bahwa orang yang gagal membangun pemahaman keagamaan yang baik dapat memanifestasikan ajaran agama dengan baik.

Alur pemikiran di atas menurut saya cukup mendasar. Lantas mengapa saya perlu menyampaikan hal yang menurut saya mendasar ini? Mari kita pikirkan, mungkinkah Ummat Islam sebagai komunitas yang besar akan menjadi ummat yang kuat, manakala isinya hanya person-person yang tidak punya prinsip, pendirian, komitmen, dan konsistensi? Baiklah, mari kita beranjak kepada pembahasan pembaharuan Islam dalam jangkauan yang lebih luas, baik dalam aspek pemikiran, posisi sosial, maupun interaksi dengan modernitas.

Pembaharuan Islam sebagai Peningkatan Kualitas Ummat

Ide-ide pembaharuan Islam yang santer digaungkan pada kisaran abad 18 semisal oleh Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, maupun Sayyid Ahmad Khan dipicu oleh rekaman mereka atas kondisi Ummat Islam yang mereka saksikan setiap saatnya. Jika kita baca gagasan mereka, memang terdapat anomali dan persoalan pada Ummat Islam kala itu. Karena kepedulian mereka atas kondisi ummat, mereka mulai memetakan persoalan keummatan dan kemudian menawarkaan konsep pembaharuan agar ummat sadar dan dapat membenahi diri.

Lantas apa yang terekam oleh para tokoh pembaharuan Islam tersebut terkait kondisi keummatan kala itu?

Mereka menilai bahwa Ummat Islam berada pada posisi lemah disebabkan pemahaman keislaman yang berkembang dianggap tidak mampu mendukung peningkatan kualitas kehidupan ummat. Satu bentuk tradisi berpikir di kalangan ummat yang paling mengundang kegelisahan para tokoh pembaharu adalah taklid buta terhadap pandangan ulama diselingi dengan praktek-praktek pengagungan figur-figur yang dianggap suci. Tragisnya lagi, dalam kondisi seperti itu wacana tentang ditutupnya pintu ijtihad semakin memperparah kondisi ummat. Menurut saya, sangat mungkin dua benang kusut ini memiliki kaitan yang erat. Di satu sisi taklid telah membunuh kreativitas berpikir ummat dan menyebabkan kebodohan ummat. Maka wajar saja ketika banyak ulama mendengungkan untuk ditutupnya pintu ijtihad. Maraknya kebodohan dan merebaknya praktek-praktek asing merupakan dampak dari taklid buta, tertutupnya pintu ijtihad, dan pengagungan atas tokoh-tokoh yang dianggap suci.

Pembaharuan Islam sebagai Respon terhadap Kondisi Eksternal

Imperialisme atau penjajahan asing ke negeri-negeri berbasis penduduk Muslim mayoritas merupakan salah satu faktor penyebab kemunduran Ummat Islam. Sudah menjadi karakter penjajah untuk menjadikan tanah jajahannya sebagai sasaran eksploitasi, intimidasi, pelanggaran HAM, dan sejenisnya. Simbol imperialisme yang paling merusak adalah ekspansi Hulagu Khan ke Baghdad pada 1257 M. Ekspansi Hulahu Khan ke Baghdad diwarnai dengan pembantaian, pertumpahan darah, penjarahan, dan pemberangusan kekayaan peradaban, baik ilmu, arsitektur, maupun budaya. Antara ratusan ribu hingga jutaan orang Baghdad diperkirakan tewas semasa penyerangan Hulagu ke Baghdad. Penjarahan buku-buku perpustakaan untuk dimusnahkan serta pembunuhan para ilmuan, semuanya merupakan pukulan telak yang menghancurkan Baghdad. Pada masa Dinasti Abbasyiyah, khususnya pada masa Pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz (682-720) dan Harun Al Rasyid (766-809) Baghdad pernah menjadi negeri yang temasyhur dengan sebutan Kota 1001 Malam dan merupakan Pusat Peradaban Dunia. Sejak kehancuran oleh karena ekspansi Hulagu Khan, Baghdad hingga kini tidak lagi menjadi kota dengan sisa peradaban Islam termasyur.

Ada juga penjajahan dengan soft strategy dengan berusaha memperoleh simpati masyarakat jajahan, meski pada akhirnya strateginya terbongkar ketika suasana memaksa bagi dilakukannya sebuah peperangan. Sebagai contoh misalnya dalam literatur sejarah sering disebutkan bahwa seorang Kaisar Perancis yaitu Napoleon Bonaparte pernah melakukan ekspedisi ke Mesir pada 1798-1799. Uniknya, Bonaparte tidak menyebut perjalanannya ke Mesir sebagai sebuah ekspansi ataupun imperialisme. Malahan, dia membawa serta para ilmuan dalam berbagai bidang. Penilaian yang kontradiktif akhirnya muncul di mana sebagian pengamat menilai hal itu hanya sebagai dalih atau taktik politik belaka, dan pengamat yang lain menyatakan bahwa apa yang dilakukan Bonaparte tersebut sangat positif bagi Mesir. Namun rentetan sejarah sepak terjang Bonaparte di Mesir, khususnya dalam kurun waktu 1798-1799 semakin memperjelas apa yang saya ungkap pada awal-awal paragraf ini. Peperangan yang dilakukan oleh Bonaparte dengan otoritas setempat yakni Kerajaan Turki Usmani (karena Mesir berada dalam wilayah kekuasaan Turki Usmani atau Ottoman) dan Kerajaan Mamluk hingga menewaskan ribuan korban baik dari unsur sipil dan tentara, merupakan fakta bahwa Bonaparte tidak jauh berbeda dengan imperialis lainnya di dunia.

Segala bentuk penjajahan dalam ragam bentuknya pasti mengakibatkan kesengsaraan bagi rakyat jajahannya. Pukulan telak Hulagu Khan dan ragam imperialisme atas negeri-negeri berbasis Muslim merupakan faktor penting bagi kemunduran Ummat Islam, wala hingga hingga kini sekalipun.

Sumber gambar: www.fundea.org

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

  1. dewy oktaviany says:

    mengapa di perlukan pembaharuan dalam islam ?
    Hal itu dilakukan karena betapa pun hebatnya paham-paham yang di lahirkan atau di hasilkan oleh para ulama terdahulu itu tetap ada kekurangannya dan selalu dipengaruhi oleh kecenderungan,pengetahuan,keadaan sosial,dan lain sebagainya.Paham-paham tersebut untuk di masa sekarang mungkin masih banyak yang digunakan.Perubahan yang di lakukan berarti mengubah keadaan islam agar lebih mengikuti ajara-ajaran yang terkandung di dalam Al-qur’an dan hadis.

    • Komentar yang bagus Dewy. Itu artinya setiap orang tidak bisa berpuas diri, harus senantiasa ber-ijtihad sesuai kemampuannya. Mencari ilmu pengetahuan merupakan ijtihad yang utama

  2. By: seriani
    Bagaimana cara kita memperbaharui agama islam yang pemahamannya agak sedikit dan belum banyak mengetahui tentang agama islam.

  3. maksudnya begini pak, bagaimana cara kita memperharui atau meyakini umat islam yang pemahamannya agak sedikit kurang akan agama islam dan masih banyak belum mengetahui agama islam?

    • Ya, lembaga-lembaga keagamaan atau ormas-ormas Islam memiliki peran penting dalam penguatan pemahaman keagamaan ummat. Mereka harus terus pro-aktif dalam memasyarakatkan pemahaman Islam yang tepat, produktif, dan humanis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!