PERADABAN ISLAM

PEMBENTUKAN KEKHILAFAHAN FATHIMIYAH DI MESIR

Gesekan dengan Kekuasaan Abbasyiyah

Sebagaimana pada artikel sebelumnya, baca: ASAL-USUL DINASTI FATHIMIYAH, al-Muiz sebagai Khilafah Fathimiyah memindahkan kekhilafahannya ke Mesir dan menjadikan Mesir sebagai Ibu Kotanya.

Sewaktu Khilafah Fathimiyah telah menobatkan dirinya di Tunisia, Mesir telah kembali ditangani langsung oleh Daulat Abbasiah di Bagdad setelah Dinasti Thuluniah mengalami kehancuran pada tahun 906 M. Ketika pusat Khilafah Abbasiah di Bagdad dilanda kerusuhan, maka kaum Fathimiyah sebagai saingan berat Abbasiah itu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk merebut wilayah kekuasaan Abbasiah yang terkenal dengan kesuburan lembah sungai Nil nya itu, apalagi Mesirpun tidak tidaklah sunyi dari berbagai kegoncangan. Pada masa kegoncangan yang demikian itu kata Ahmad Syalabi, kaum Fathimiyah sempat melancarkan serangan terhadap wilayah Mesir sebanyak tiga kali.

Pertama yaitu pada tahun 301 H di bawah pimpinan Abu al-Qasim ibn Ubaidullah al-Mahdi, akan tetapi berhasil dipatahkan oleh pasukan Abbasiah, sehingga pasukan Fathimiyah terpaksa kembali ke Maghribi. Kedua yaitu tahun 307 H, dan mereka berhasil menguasai Iskandariah, akan tetapi pada tahun 309 H pasukan Abbasiah sukses pula menghajar tentara Fathimiyah. Ketiga yaitu pada tahun 321 H, serangan kali ini, pasukan Fathimiyah mendapat bantuan dari sebagian orang-orang Mesir yang ingin melepaskan diri dari kegoncangan yang diderita Mesir ketika itu, lalu kaum Fathimiyah berhasil menduduki Iskandariah. Karena kegoncangan yang tidak menguntungkan Daulat Abbasiah itu, maka Khalifah Abbasiah memilih Ikhsyid untuk berkuasa di Mesir sehingga dia mampu mengantisipasi ancaman Fathimiyah, bahkan Mesir sempat dikuasai oleh beberapa orang keturunannya (Dinasti Ikhsyidiah). Dengan demikian ambisi Fathimiyah untuk menaklukkan Mesir terpaksa harus tertunda.

Penaklukan Mesir

Walaupun dalam beberapa tahun penguasa Ikhsyidiah dapat mengantisipasi ancaman Fathimiyah, namun setelah wafatnya Kafur yaitu penguasa Ikhsyidiah yang ke empat pada tahun 968 M, Dinasti Ikhsyidiah telah berada diambang kehancuran, sebab Abu al-Fawaris yang belum berumur sebelas tahunpun diangkat sebagai penggantinya tentu saja tidak dapat berbuat apa-apa, sementara wazir-wazir yang mendampinginya tidak pula memiliki sifat-sifat seperti yang dimiliki Kafur, akhirnya kebencian orang-orang Mesirpun terhadapnya tidak terelakkan, sehingga Mesir kembali dalam keadaan tidak stabil, kemudian Khalifah Fathimiyah di Tunisia ketika itu adalah Al-Muiz Lidinillah memanfaatkan situasi itu sebagai kesempatan yang baik untuk menaklukkan Mesir, sementara dia melihat Khalifah Abbasiah di Bagdad tidak pula mungkin dapat mempertahankan Mesir, karena mereka sendiri sedang disibukkan oleh rongrongan Bizantium. Untuk merealisasikan tujuannya, Khalifah Al-Muiz mengutus bala tentaranya dibawah pimpinan Jauhar al-Shiqilli pada tahun 358 H/ 968 M. Jadi sebagai seorang panglima yang berani dan setia, Jauhar al-Shiqilli terus melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya dengan mengerahkan pasukan berkuda dan infantrinya, sehingga pada permulaan bulan Sya’ban tahun itu berhasil tiba di Mesir, lalu menyerang tentara Ikhsyidiah dan akhirnya pasukan Jauhar muncul sebagai pemenang, sehingga dia berhasil memasuki Fusthath (ibu kota Mesir waktu itu) pada hari Selasa, 17 Sya’ban 358 H.  Dengan demikian wilayah Mesir telah berada dibawah kekuasaan Fathimiyah.

Pembangunan Kota Al-Qahirah

Setahun setelah penaklukkan Mesir oleh Jauhar al-Shiqilli itu, dia terus membangun sebuah kota baru pada pinggir barat Sungai Nil, kota ini diberinya nama dengan Al-Qahirah (kota kemegahan) dan diikuti pula dengan pembangunan sebuah masjid dengan nama Al-Jami’ al-Azhar. Di sela-sela kegiatannya membangun kota baru itu, Jauhar juga aktif meyakinkan masyarakat bahwa Khalifah Fathimiyah tidak hendak menghancurkan mereka, akan tetapi sebaliknya bahwa pemerintah Fathimiyah senantiasa berniat baik kepada semua rakyat. Dia terus mendoktrin masyarakat dengan mazhab Syi’ah serta mencegah dakwah Abbasiah dari mimbar-mimbar Mesir dan Syam.

Setelah dia merampungkan bangunan baru yang akan dijadikan sebagai sentral Khilafah Fathimiyah itu, dia mengutus utusannya untuk memberi tahu semua itu kepada Khalifah, dan dengan rasa gembira Khalifah Al-Muiz memastikan untuk pindah ke Mesir dengan keluarga, harta dan para pengikutnya, sehingga pada 7 Ramadhan 362 H bertepatan dengan 11 Juni 973 M Khalifah Fathimiyah itupun berhasil memasuki kota Al-Qahirah sekaligus memasuki istana kekhalifahan yang telah disiapkan Jauhar dengan penuh haru sambil bersujud kepada Allah SWT.

Silsilah Raja-raja Dinasti Fathimiyah

Maka sejak tahun 973 M itu resmilah Khalifah Fathimiyah berikut dengan ibu kotanya di Mesir. Setelah Khalifah Al-Muiz wafat pada tahun 975 M, Mesir diperintah oleh 10 orang Khalifah Fathimiyah, sehingga Khalifah Fathimiyah seluruhnya berjumlah 14 orang sebagaimana tersebut berikut ini:

  1. Al-Mahdi (909 – 934 M)
  2. Al-Qaim (934 – 946 M)
  3. Al-Mansur (946 – 952 M)
  4. Al-Muiz (952 – 975 M)
  5. Al-Aziz (975 – 996 M)
  6. Al-Hakim (996 – 1021 M)
  7. Al-Zakir (1021 – 1035 M)
  8. Al-Mustansirr (1035 – 1094 M)
  9. Al-Musta’li (1094 – 1101 M)
  10. Al-Amir (1101 – 1130 M)
  11. Al-Hafiz (1130 – 1149 M)
  12. Al-Zafir (1149 – 1154 M)
  13. Al-Faiz (1154 – 1160 M)
  14. Al-Adid (1160 – 1171 M)

Dengan demikian, berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa masa Pemerintahan Fathimiyah secara keseluruhan adalah sekitar 262 tahun, dan oleh karena mulai tahun 973 M Khalifah Al-Muiz memindahkan ibu kota Khalifah ini ke Mesir, maka dapat pula dikatakan bahwa selama lebih kurang 64 tahun Khilafah Fathimiyah berpusat di Qairawan Tunisia dan 198 tahun berpusat di Al-Qahirah Mesir.

Zikwan Soleh

Dosen Sejarah dan Peradaban Islam pada IAIN STS Jambi

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!