FILSAFAT

PEMIKIRAN FILSAFAT MUHAMMAD IQBAL

[toc title=”Pembahasan dalam Artikel ini Meliputi:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Pengantar

Sebagaimana diketahui bahwa Muhammad Iqbal telah dikategorikan sebagai salah satu tokoh pembaharuan Islam dikarenakan pemikirannya dilandasi oleh kondisi sosial kemasyarakatan Ummat Islam yang berada taraf sangat memperihatinkan. Pada artikel sebelumnya yakni Gagasan Pembaharuan Islam Muhammad Iqbal, bahasan tentang gagasan Iqbal lebih menekankan pada gagasan pembaharuan Islam dalam rangka menumbuhkan kebangkitan jiwa dan semangat kemanusiaan Ummat Islam untuk mencapai kebangkitan dan kemajuan. Pada artikel kali ini, kajian atas Iqbal lebih menekankan pada karakter pemikiran filsafat Iqbal yang banyak menyinggung tentang pembinaan mental spiritual manusia di mana banyak orang sering mengidentikkan pemikiran filsafat Iqbal sebagai filsafat etika.

Ego Kepribadian dan Kedirian Manusia

Terkait dengan kemanusiaan, Iqbal memiliki konsep tentang Khudi yang dapat dipadankan maknanya dengan “ego” dan “self”. Pembahasan ego-nya Iqbal secara otomatis mengarah kepada kesadaran tentang “kedirian” sehingga derajat ego sangat ditentukan oleh seberapa jauh seseorang memahami dirinya. bagi Iqbal, ego merupakan manifestasi dari segenap pemikiran dan kesadaran manusia. Ego manusia itu sendiri menurut Iqbal memiliki karakter bergerak, dinamis, berpersepsi, memutuskan, dan kreatif. Ego bergerak terus untuk tujuan formulasi dirinya. Di luar manusia, fenomena kehidupan sosial tak dapat dihindari dapat berupa hal-hal yang bertentangan dan tidak dikehendaki oleh ego, di sinilah kemudian terjadi ketegangan antara ego dan fenomena sosial yang bersifat menuntut atau bahkan menekan ego. Ketegangan terjadi pada saat ego hendak menguasai realitas sosial di luar dirinya, sementara realitas sosial di luar ego juga memiliki tujuan yang sama yakni sebuah penguasaan atas ego.

Sifat dan Tujuan Ego

Ego dalam pandangan Iqbal tentu saja bergerak dinamis dan secara alamiahnya dipenuhi oleh semangat, hasrat, curiosity, kreatif, inovatif, dan aktif. Dalam ranah ini, amat relevan makanala dikatakan bahwa ego dimaknai sebagai kepribadian manusia yang sangat berpengaruh bagi kehidupannya. Ego akan memanifestasikan kebebasan dan kemerdekaan manusia sehingga dapat menjadi manusia yang unggul dan pantang menjadikan manusia menjadi budak, robot, terperintah, kalah, dan hina. Pendek kata, ada pemujian Iqbal atas ego karena Iqbal menempatkan ego selalu dalam ranah yang positif. Manusia yang unggul adalah mereka yang menyadari akan keberadaan egonya dan secara tepat terus mengikuti ego-ego positifnya.

Dampak Ego

Dalam konteks ini kemudian ego akan bernilai dan berderajat mulia dan sebaliknya, ia juga akan menjadi hina dan merusak. Menurut Iqbal, manusia yang mulia adalah yang mampu menghayati diri, menyelaraskan dengan ego-ego positif dan menjelma menjadi satu kesatuan yang saling mendukung. Demikian juga ego adakalanya menguat dan adakalanya melemah. Ego akan menguat manakala rasa ke-aku-an pada diri manusia meningkat dan menguat, sebaliknya ego akan melemah manakala rasa ke-aku-an manusia melemah dan menurun.

Akan tetapi dalam konsepsi Iqbal, “ego” manusia harus senantiasa menguat dengan catatan bahwa ego yang dimaksud di sini adalah segenap rasa kemanusiaan yang positif, dinamis, bermartabat karena hanya dengan ego-ego inilah manusia akan tetap dinilai sebagai “yang hidup” bukan “yang mati”. Tanpa ego, manusia tidaklah lebih dari mayat yang berjalan. Mari kita simak bait syair Iqbal berikut ini:

Ghirah memelihara diri gerak tiada henti
Ghirah adalah ombak gelisah dari samudra khȗdĭ
Ghirah adalah simpul untuk memburu cita
Penjilid kitab amal perbuatan
Menolak hasrat berarti mati untuk yang hidup

Tetapi Ego tentu saja sangat subyektif karena dia berada dalam kungkungan kemanusiaan dan hampir setiap manusia memiliki ego. Iqbal mengusulkan bahwa ego sebaiknya tidak sampai menghalangi manusia untuk mencapai super ego. Jika ego menargetkan kesenangan manusia yang sangat subyektif, tetapi super ego menargetkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dalam konteks ini Iqbal menyatakan bahwa tujuan akhir manusia adalah hidup bergairah, kuat, dan bahagia. Manusia dapat disebut memiliki nilai manakala mampu menghadapi ujian-ujian hidupnya. Hidup bergairah, kuat, dan bahagia tidak akan mungkin dapat dicapai manakala manusia tidak memiliki ego. (Bersambung)

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

  1. Dampak Negatif dari Sifat Ego.
    Dalam islam,sifat ego itu adalah fitrah manusia,karena itu orang-orang yang tidak ego atau lebih tepat orang-orang yang mampu mengendalikan sifat ego nya adalah orang yang istimewa.dan tidak boleh juga kita menggunakan sifat ego ini,karna banyak menimbulkan dampak buruk serta kerugian dalam hidup kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!