TEOLOGI

PEMIKIRAN KALAM ABU HASAN AL-ASY’ARI

Oleh: Ishak Abd. Aziz

Doktrin Islam mempunyai dua cabang yang esensial,‘aqidah dan syari’at. Aqidah adalah aspek teoritis (nazhari) yang harus diyakini kebenarannya tanpa ragu-ragu oleh setiap muslim, sedangkan syari’at merupakan aspek praktis (`amali) yang memuat aturan-aturan yang harus dipatuhi seorang muslim dalam kehidupannya, baik dalam hubungannya dengan Tuhan, alam semesta, dan sesama manusia, maupun dengan kehidupan itu sendiri. Dalam terminologi al-Qur’an, ‘aqidah disebut “al-iman” (kepercayaan) dan syari’at disebut “al-amal al-shalih” (perbuatan baik). Keduanya sering disebut bergandengan dalam ayat-ayat al-Qur’an, sehingga tampak integritas keduanya dalam ajaran Islam.

Dalam perspektif sejarah, aspek akidah merupakan bagian pertama dalam ajaran Islam yang didakwahkan Nabi Muhammad s.a.w akidah lebih dahulu ditekankan daripada syari’at, karena akidah ditekankan selama periode Mekkah sedangkan syari’at baru diutamakan selama periode Madinah. Di samping itu, Nabi Muhammad s.a.w telah menjelaskan akidah Islam secara lengkap kepada umat menurut wahyu yang diterimanya dari Allah, baik berwujud ayat-ayat al-Qur’an maupun hadis-hadis (al-sunnah). Umat Islam periode pertama yang dibina belaiau secara langsung telah meyakini dan menghayati akidah tersebut secara mantap, meskipun belum diformulasikan secara sistematis. Dalam perkembangan selanjutnya, masalah akidah ini ditekuni secara ilmiah oleh segolongan intelektual Islam yang kemudian disebut mutakallimun (tunggal: mutakallim), berbarengan dengan munculnya ilmu kalam sebagai salah satu ilmu dalam khazanah pemikiran Islam. Perkembangan ini dimulai sejak abad ke-2 H. (8 M), meskipun bibit pertumbuhannya sudah ada sejak masa sebelumnya. Dalam abad-abad sesudahnya terdapat beberapa aliran dalam ilmu kalam, di antaranya yang terbesar ialah : Mu’tazilah, Asy’ariyyah, Maturidiyyah, dan Salafiyyah.

Asy’ariyyah, Abu al-Hasan Ali ibn Ishaq ibn Salim ibn Isma’il ibn Abdillah ibn Musa ibn Bilal ibn Abi Bardah ibn Abi Musa al-Asy’ari (260-324 H) dianggap sebagai pendiri aliran ini. Lahir di Bashrah, dan sampai usia 40 tahun dia masih merupakan seorang penganut kalam Mu’tazilah. Al-Asy’ari berguru kepada Abu ‘Ali al-Juba’i (w. 303 H), seorang tokoh terkenal Mu’tazilah. Dia sering menggantikan gurunya dalam mengajar. Tetapi dalam usia kematangan berpikir seseorang, dia mengalami konversi. Dia meninggalkan paham Mu’tazilah dan berbalik menyerangnya dengan alat yang digunakan aliran itu sendiri, dan menetapkan paham baru yang dianutnya.

Peristiwa konversi paham akidah yang dialami oleh Al-Asy’ari banyak mendapat perhatian para penulis sejarah pemikiran Islam, terutama mengenai sebab-sebab instrinsik peristiwa tersebut. Jalal Musa, seorang analis kontemporer mengenai masalah ini, berpendapat bahwa faktor penyebabnya berkaitan erat dengan pergolakan spritual al-Asy’ari sendiri. Di bidang kalam, dia seorang Mu’tazilah dan berguru dengan al-Juba’i, sedangkan di bidang Fiqh, dia bermazhab Syafi’i dan berguru dengan Abu Ishaq al-Marwazi (w. 340 H), seorang tokoh mazhab Syafi’i di Irak. Dari kedua sisi kehidupan intelektualnya ini, al-Asy’ari melihat adanya dua kubu yang memilah-milah umat dengan kekuatannya masing-masing, yaitu kubu yang memilah-milah umat dengan kekuatannya masing-masing, yaitu kubu ulama kalam dengan kekuatan metode rasionalnya, dan kubu ulama fiqh dan hadis dengan kekuatan metode tekstualnya. Kekuatan kedua kubu tersebut diketahuinya dan diapun memilikinya. Karena itu timbullah keinginannya untuk menyatukan kedua kekuatan itu dalam satu aliran, sehingga para ulama kedua kubu itu dapat diintegrasikan pula. Realisasi idenya ini dimulai dengan peristiwa konversi tersebut.

Ibn ‘Asakir menulis bahwa al-Asy’ari pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad, yang menyuruhnya supaya mempertahankan akidah Islam dengan sintesa antara metode ahli hadis dan ahli kalam. Jalal Musa menganggap bahwa riwayat ini hanya dibuat-buat karena beberapa alasan. Selanjutnya, al-Syahrastani menyatakan bahwa penyebab konversi itu ialah ketidakpuasan al-Asy’ari terhadap jawaban gurunya, al-Juba’i, dalam masalah keadilan Tuhan, sekitar kewajiban Tuhan memperbuat yang lebih baik bagi hamba-Nya. Riwayat ini juga diragukan keabsahannya oleh para pemikir yang datang sesudahnya, seumpama al-nasafi, Ibn Khalikan dan al-Subkhi. Hampir senada dengan pendapat ini, Ahmad Amin juga menolak semua riwayat yang berkaitan dengan sebab-sebab konversi yang pernah diriwayatkan. Dia sendiri berpendapat lebih menekankan aspek kultural dan struktural pada masa itu. Yaitu setelah terjadinya “Mihnah” pada abad ke-3 H, banyak orang yang meninggalkan Mu’tazilah dan simpati umat tertuju kepada pihak Ahl al-Hadis, apalagi setelah pihak penguasa memberikan dukungannya sejak Khalifah al-Mutawakkil (232-247 H). Amin berpendapat bahwa konversi al-Asy’ari disebabkan lebih banyak oleh faktor sosial dan politik; yaitu adanya dukungan pihak penguasa dan keinginan al-Asy’ari untuk mendapatkan kepemimpinan umat waktu itu. Pendapat Amin ini, menurut Jalal Musa, adalah meniru-niru pendapat pendapat pada orientalis, seperti De Boer, Wensinek, Mac Donald, dan lain-lain yang memang diakuinya lebih rasional dibandingkan riwayat-riwayat terdahulu. Namun terlalu menitikberatkan kepada aspek eksternal dari kehidupan al-Asy’ari, tanpa menyentuh pergolakan internalnya. Sementara itu, para ahli juga menolak pendapat Ibn Asakir yang juga membicarakan event sejarah yang menandai awal konversi tersebut, karena menganggap event sejarah yang direkonstruksikan itu tidak rasional. Namun demikian, ketokohannya sebagai seorang teolog besar diakui oleh semua pihak, sehingga menurut terminologi kalam-aliran Ahlussunnah diidentikkan dengan aliran yang dibawanya. Tetapi, al-Baghdadi mengatakan bahwa al-Asy’ari bukanlah tokoh pertama dalam aliran Ahlussunnah. Namun ia adalah seorang tokoh terbesar yang berhasil mempertahankan aliran ini dari lawan-lawannya.

Meskipun al-Asy’ari menegaskan dirinya sebagai pengikut Ahmad ibn Hanbal, tokoh Salafiyyah yang disebut sebagai “Ahl al-Haqq wa al-Sunnah” (golongan yang benar dan pendukung sunnah), namun sebagian pengikut Hanabilah tidak mengakuinya. Karena al-Asy’ari, menurut pandangan mereka, tidak sepenuhnya mengikuti Salafiyyah yang sama sekali menolak kalam dengan metodenya yang rasional dalam pembicaraan masalah akidah. Sementara itu, al-Asy’ari juga dikatakan sebagai Ibn Kullab, karena sewaktu dia menyatakan diri keluar dari Mu’tazilah banyak mengadoptasi pendapat-pendapat ibn Kullab. Analisis ini dikemukakan oleh ibn Taimiyyah, yang tidak mengakui kesunnian al-Asy’ari.

Penilaian terhadap al-Asy’ari yang merupakan kesimpulan yang kontradiktif di atas masih dapat dijernihkan. Masalah ini membawa kita kepada pertanyaan : Bagaimana sebenarnya pemikiran al-Asy’ari dalam teolog Islam, khususnya dalam masalah Sifat Tuhan ? Jawaban pertanyaan ini akan membantu kita meletakkan posisi al-Asy’ari di tengah-tengah para Teolog Islam lainnya.

Di samping itu, meskipun pelbagai kesimpulan dari analisis yang dilakukan terhadap al-Asy’ari, namun paham baru yang didirikannya, Asy’ariyyah, masih merupakan aliran kalam yang dominan di dunia Islam hingga saat ini. Selama sebelas abad dalam sejarahnya, aliran ini telah mengalami pasang surut dalam penyebaran dan bervariasi dalam perkembangan doktrinnya. Sejak Abu al-Hasan al-Asy’ari (w. 330 H/942 M) memaklumkan dirinya keluar dari Mu’tazilah, yang dianutnya sampai usia 40 tahun, dan merumuskan sebuah teologi baru, maka paham ini banyak umat Islam yang mengikutinya, karena dianggap suatu bentuk kesinambungan dari paham ortodoks, yang dianut mayoritas umat Islam, tetapi sebelumnya tidak pernah diformulasikan secara lengkap dan sistematis. Al-Asy’ari sendiri mengaku sebagai pengikut Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H/855 M), tokoh kaum ortodoks yang paling dihormati, karena keteguhan pendiriannya dan ketabahannya menghadapi siksaan yang ditimpakan penguasa waktu itu (Abbasiyyah), karena menolak suatu dogma Mu’tazilah yang dipaksakan. Tetapi hanya sepuluh tahun setelah al-Asy’ari wafat, Baghdad, kota utama tempat penyebaran pahamnya, segera jatuh kembali ketangan lawan kaum ortodoks, yaitu Bani Buwayh (945-1055 M), yang bermazhab Syi’ah dan berteologi Mu’tazilah. Akibatnya, selama seratus tahun aliran Asy’ariyyah mendapat tekanan dari pihak penguasa, sehingga perkembangannya jadi terhambat.

Setelah Asy’ariyyah mendapat dukungan politik dan lembaga pendidikan, dua pranata sosial yang sangat besar peranannya dalam suatu ide, maka aliran ini dapat berkembang pesat pada abad-abad berikutnya. Dari segi politik, dukungan pertama diperoleh dari Bani Saljuk yang berhasil menggulingkan Bani Buwayh pada tahun 1055 M, dan berkuasa di Baghdad sampai tahun 1117 M. Akibatnya, aliran ini berkembang pesat di wilayah Irak dan Iran. Di wilayah Syiria dan Mesir, penyebaran Asy’ariyyah mendapat dukungan politis dan Bani Ayyub, yang berkuasa di kawasan ini (1171-1250 M). Ke Afrika Utara dan Spanyol, aliran ini dikembangkan oleh Muhammad ibn Taumart (w. 1131 M), pendiri Daulat al- Muwahiddun ( 1131-1269 M). Dari sini dapat dideteksi mengapa Asy’ariyyah juga berkembang di negara-negara ASEAN, khususnya di Nusantara, karena menurut bukti sejarah yang kuat, Islam masuk ke kawasan Nusantara pertama kali pada abad ke-13 M, di bawa oleh para pedagang dari Gujarat (India).

Dari aspek pendidikan, penyebaran Asy’ariyyah ditopang oleh beberapa madrasah atau perguruan tinggi yang mengajarkannya, sehingga para siswa dan mahasiswa yang berdatangan dari pelbagai negeri, kembali menyebarkan aliran tersebut di negeri masing-masing. Di antaranya yang terkenal ialah : Madrasah Nizhamiyyah di Nisabur dan baghdad, Jami’ al-Azhar di Kairo dan Jami’ al-Zaytuniah di Tunis.

Selain itu, kemampuan Asyariyyah yang mendominasi dunia Islam selama ini juga disebabkan banyaknya aliran ini dengan tokoh-tokoh intelektual yang mampu merumuskan ajaran-ajarannya dan muncul sebagai pembela pada masanya. Tokoh semacam ini selalu di setiap abad, dengan karya-karya mereka yang monumental. Meskipun hasil formulasi mereka kadang-kadang berbeda, atau bahkan bertentangan satu sama lain. Namun, dalam metode pemikirannya, tetap tidak keluar dari batas-batas moderasi aliran ini, sebagaimana yang digariskan oleh pendirinya, al-Asy’ari, khususnya dalam pemikiran teologinya.

Teologi, sebagaimana diketahui, membahas ajaran-ajaran dasar dari sesuatu agama. Setiap orang yang ingin menyelami seluk beluk agamanya secara mendalam, perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari teologi akan memberikan seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan kuat, yang tidak mudah diumbang-ambingkan oleh peredaran zaman.

Sumber gambar ramadan.sindonews

Follow Me:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!