PEMBAHARUAN ISLAM

PEMIKIRAN PEMBAHARUAN ISLAM MUHAMMAD SYAHRUR

Saya rasa dalam ruang ini saya hanya menyampaikan gagasan Muhammad Syahrur dalam konteks yang terbatas. Saya harap pembaca bisa memperluas bahan bacaan sehingga dapat memperoleh informasi yang komprehensif mengenai Syahrur. Artikel ini hanya membahas sebagian kecil dari sudut pandang yang bisa dialamatkan kepada seorang pembaharu sekaliber Syahrur.

Biografi Singkat

Muhammad Syahrur lahir di Damaskus Syuriah pada 11 Maret 1938. Pendidikan dasar dan menengah berlangsung di Damaskus. Memperoleh gelar Diploma bidang Teknik Sipil di Moscow Uni Soviet pada 1964. Gelar Master Science dalam bidang Mekanika Pertanahan dan Fondasi diperolehnya pada 1969, dan Doktor pada 1972.

Pemikiran Pembaharuan

Saya menarik dan mengkategorikan Muhammad Syahrur sebagai tokoh pembaharu mengingat Syahrur memiliki gagasan pemikiran yang baru dan menantang pemikiran yang dianggapnya telah mapan seperti pemikiran tradisionalisme Islam. Syahrur begitu bersemangat mempromosikan pemikirannya, sehingga terkadang terkesan berani. Pertanyaannya, mengapa Syahrur begitu lantang menyuarakan gagasan pembaharuannya? Mari kita simak pendapat syahrur mengenai beberapa kekeliruan yang terdapat dalam pemahaman keislaman yang berkembang saat ini, yang saya rasa hal itu yang membuat syahrur begitu getol menyuarakan pembaharuan.

  1. Ketiadaan petunjuk metodologi dalam pembahasan ilmiah tematik terhadap penafsiran ayat-ayat al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.
  2. Adanya produk hukum masa lalu diterapkan pada masa kini. Tentu saja hal ini mengharuskan perlunya metodologi fiqh baru menggantikan fiqh yang lima.
  3. Tidak ada pemanfaatan dan interaksi dengan filsafat humaniora (al-Falsafah al-Insaniyah) karena disebabkan dualisme ilmu pengetahuan.
  4. Tidak adanya epistemologi Islam yang valid sehingga berdampak pada fanatisme dan doktrinasi madzhab sehingga pemikiran keislaman menjadi sempit dan tidak berkembang.
  5. Produk fiqh yang ada sekarang sudah tidak relevan lagi dengan tuntutan modernitas sehingga diperlukan formulasi fiqh baru.

Dari beberapa item pemikiran di atas, tampak bahwa Syahrur mengkritik pemikiran Islam yang berkembang saat ini yang didominasi oleh pemikiran yang lemah dan mengandung kekeliruan. Syahrur menegaskan bahwa tipe pemikirannya adalah keluar dari tipe pemikiran tradisional. Syahrur memposisikan dirinya sebagai pemikir yang mengkritik secara keras model pembaharuan seperti yang telah dilakukan oleh kelompok salafi. Seperti diakui Syahrur bahwa apa yang menjadi perhatiannya adalah perlunya tafsiran yang segar atas wahyu Tuhan kepada manusia. Hal ini mengingat karena pada saat ini kita hidup setelah Nabi dan Rasul tidak ada, sedangkan perkembangan jaman telah melahirkan peradaban baru yang berbeda dengan masa ketika Nabi dan Rasul masih ada.

Syahrur pernah mengungkapkan beberapa prinsip pemikirannya, yang sebagian di antaranya sebagai berikut:

  1. Tidak ada jalan lain untuk memahami teks kecuali analisis rasional. analisis yang sesuai dengan realitas objektif di tengah-tengah masyarakat.
  2. Bahwa kebenaran teks tidak terletak pada keindahan dan kecantikan retorikanya, melainkan pada substansi dan keadaan sebenarnya dari teks. Ide-ide kemanusiaan bisa benar atau salah manakala telah diuji oleh batas-batas pemikiran filsafat.
  3. Ketika al-Qur’an telah diwahyukan, ia mewakili sebuah level baru dari evolusi linguistik. Ia menampilkan teks berkualitas tinggi di mana Arab jahiliyah tidak mengetahui sebelumnya. Relevansi hal ini untuk konteks sekarang bahwa metode tafsir juga harus mengalami perubahan agar dapat menjelaskan al-Qur’an yang tafsirannya bermanfaat bagi kehidupan masyarakat saat ini.
  4. Al-Qur’an menjamin adanya kesesuaian yang sempurna antara naskah Kitab dengan realitas keberadaan manusia. Di dalam al-Qur’an tidak ditemukan hal-hal tak bermakna, sepele, dan dangkal.

Karakter Pemikiran Syahrur

Saya rasa, dari sisi semangat dan anjuran Syahrur kita semua sepakat bahwa memang interpretasi baru terhadap nash-nash agama diperlukan untuk menghasilkan produk interpretasi yang segar dan akomodatif terhadap persoalan kemanusiaan dan keummatan kontemporer. Seperti yang disebut Syahrur, karena kita hidup di masa ketika Nabi dan Rasul tidak ada secara fisik di dekat kita, maka interpretasi yang baru jelas dibutuhkan. Sekarang mari kita simak sebagian karakter dan paradigma Syahrur dalam mempromosikan pemikiran pembaharuannya.

Menurut Hamdani Anwar dari UIN Jakarta, epistemologi Syahrur didasarkan pada metode semantik Abu Ali al-Farisi dan ilmu linguistik modern yang menyatakan bahwa bahasa kemanusiaan termasuk Arab sekalipun tidak memiliki satu kata yang sinonim. Dengan pijakan ini maka sebuah makna kata bisa berubah-ubah, berkurang atau bahkan bertambah disebabkan oleh proses evolusi sejarah. Dalam analisis saya dengan paradigma ini maka memang sangat memungkinkan terjadi fenomena “out of date” atas produk pemikiran keagamaan masa lalu jika dilihat dalam konteks kekinian. Hal ini yang mengakibatkan Syahrur mengkritik pemahaman ulama yang masih menggunakan produk pemikiran dan hukum di masa lalu ke dalam konteks kekinian.

Kritik terhadap Pemikiran Syahrur

Para pengkritik Syahrur seperti Ibrahim Abdurrahman menilai bahwa kekeliruan Syahrur adalah melanggar metode tafsir al-Qur’an yang secara ilmiah sudah dianggap baku. Sedangkan Salim al-Jabi, menilai pemikiran Syahrur bersifat meraba-raba dikarenakan tidak mengikuti ketentuan yang telah ada. Syahrur juga dinilai menggunakan dialektika Marxisme dalam pemikirannya yang menjadikan “waktu” sebagai landasan pemahaman dan pemikiran manusia.

Hamdani Anwar menambahkan bahwa kritik terhadap Syahrur juga mengandung keberatan atas digunakannya metode semantik dalam penafsiran Syahrur terhadap al-Qur’an. Padahal pendekatan Asbab al-Nuzul telah dipandang baku dan lebih memungkinkan bagi dihasilkannya tafsir yang benar.

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

  1. eli guspiya says:

    maaf, saya komenatari walau pun belum dapat penjelasan yang mendalam dari bapak. pemikiran muhammad syahrul menurut saya ada benarnya juga, kenapa? kerena memang benar agama islam itu adalah agama pembaharuan, dari masa ke masa, seperti hanya di zaman rasul wanita dilarang keluar rumah,tapi sekarang wanita di perbolehkan keluar rumah dalam hal yang fositif.
    tetapi, saya tidak suka muhammad syahrul cuman bisa memberikan kritikan terhadap islam tanpa memberi solusi atau jalan keluar.

    • good eli, mengenai solusi Syahrur sekaligus yang terdapat dalam bahan kritikannya, terutama mengenai pentingnya tafsir yang sesuai dengan konteks jaman

  2. Menurut saya pemikiran muhammad syahrul terhadap agama islam masa kini tidak akan berpengaruh dan sangat sulit untuk agama islam masa kini menjalani atau melakukan peraturan di zaman masa rosul. Karna zaman sudah moderen di mana yang dulu nya wanita di suruh untuk menutup aurat, dan pada masa kini kebanyakan wanita membuka auratnya tanpa rasa malu dan rasa takut terhadap allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!