POLITIK

PEMIKIRAN POLITIK IBNU KHALDUN (Bagian Satu)

[toc title=”Daftar Isi:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Garis Keturunan dan Keluarga Ibn Khaldun

Nama Ibn Khaldun sendiri sebenarnya Abd-al-Rahman, gelarnya Waliyuddin dari keluarga Abu Zaid dan ia lebih dikenal dengan sebutan Ibn Khaldun. Menurut Ali Abd al-Wahid Wafi, keluarga Ibn Khaldun berasal dari Hadramaut, Yaman dari garis keturunannya berasal dari Wa’il bin Hajar seorang sahabat Nabi. Khalid bin Utsman yang kemudian terkenal dengan nama Khaldun dan salah seorang cucunya Wa’il bin Hajar memasuki Andalusia bersama-sama pasukan kaum muslimin dan bertempat di Carmona kemudian pindah ke Sevilla. Pada waktu orang-orang Kristen berhasil menguasai kota tersebut pada pertengahan abad ke tujuh Hijriyah keluarga Khaldun pindah ke Tunisia. Keluarga Ibn Khaldun terkenal sebagai keluarga yang berpengetahuan luas serta menduduki jabatan tinggi negara.

Kondisi Sosial Masa Ibn Khaldun

Jaman Ibn Khaldun merupakan penghujun jaman pertengahan dan permulaan jaman Renaisance di Eropa, sebab itu Ibn Khaldun hidup pada abad ke 14 masehi (ke 8 Hijriyah). Abad ini merupakan periode di mana terjadi perubahan-perubahan historis besar di bidang politik maupun pemikiran. Bagi Eropa, periode ini merupakan awal kemunduran dan disintegrasi dalam Islam. Kekuasaan Arab Muslim telah jatuh sehingga banyak negara bagian melepaskan diri dari pemerintahan pusat. Pertentangan, intrik, perpecahan dan kericuhan melanda Dunia Islam.

Pada periode ini kekhalifahan Abbissiyah telah jatuh ketangan pasukan Moghul di bawah pimpinan Timur Lenk. Sementara di Andalusia pusat-pusat kebudayaan Islam seperti Toledo, Cordova dan Sevilla telah jatuh ketangan orang-orang Kristiani. Juga di Afrika Utara, Dinasti Muwahidun (pada akhir abad ke 7 H) telah runtuh dan timbul tiga kerajaan kecil yaitu Dinasti Banu Hafsh dengan Ibu Kota Tunis, di Magrib Tengah Dinasti Banu Adb al-Waad dengan kota Tilimsan dan di Magrib al-Aqsho, Dinasti Banu Marin dengan Ibu Kota Fez. Begitu pula kerajaan Bijayah, Mahdiyyah, dan Qal’at saling berperang.

Dalam kondisi seperti inlah Ibn Khlaun lahir dari keluarga politisi dan intelektual sekaligus, di mana kondisi sosial politik dalam keadaan kacau dan tradisi suatu masyarakat intelektual tidak mendukung. Maka tidak berlebihan kalau Hitti menulai bahwa Ibn Khaldun tampil pada tempat dan waktu yang salah yaitu Afrika Utara yang mana saat itu dirundung oleh perasaan khawatir kalah akibat adanya Renconquest atau penaklukan kembali semenanjungn Iberia oleh orang-orang Spanyol.

Kehidupan Ibn Khaldun

Fase Studi hingga Beruasia 20 Tahun 732-752 H/1332-1352 M

Sepertinya kebiasaan waktu itu, ayah Ibn Khaldun adalah guru pertama. Kemudian ia mempelajari bahasa pada Abu Abdillah Muhammad Ibn al-Arabi al-Husyairi dan Abu al-Abbas Ahmad Ibn al-Qoshshar serta Abdillah Muhammad ibn Bahr. Ia mempelajari hadis kepada Syamsudin Abu Abdillah al-Wadiyasyi, belajar fiqih kepada Abu Abdillah Muhammad al-Jiyani dan Abu al-Qoshim Muhammad al-Qorsih, ia belajar filsafat, teologi, logika, matematika dan astronomi kepada Abu Abdillah Muhammad Ibn Ibrahim al-Abili.

Ketika ia berusia sekitar 18 tahun tepatnya tahun 749 H, ia berhenti belajar, kebetulan pada tahun itu penyakit Pes melanda Magrib bagian timur, Ibn Khaldun memohon izin kepada ayahnya untuk berpetualang ke Magrib al-Aqsho dan baru dikabulkan pada tahun 750 H.

Fase Terjun Dalan Dunia politik 751 – 776 H

Saat ia berusia 21 tahun (751 H) ia diangkat sebagai sekretaris Daulat Bani Hasfh, namun karena Ibn Tafrakin (penguasa bani Hasfh) ditundukkan oleh musuhnya pada tahun 753 H, Ibn Khaldun lari ke Biskarah, Al-Jazair. Dia berusaha bertemu dengan Abu ‘Anan (Penguasa Bani Marin) yang sedang berada di Tilimsa 755 H ia diangkat menjadi anggota Majelis Ilmu Pengetahuan dan setahun kemudian ia diangkat menjadi Sekretaris Sultan. Pada tahun 757 H Ibn Khaldun dituduh berkomplot dengan Pangeran Muhammad, penguasa sebenarnya di Bijayah, untuk merebut kembali Bijayah dari tangan Abu ‘Anan. Abu ‘Anan pun murka dan tahun 758 Ibn Khaldun ditangkap dan dipenjara.

Tahun 759 Ibn Khaldun dibebaskan setelah Abu ‘Anan meninggal dunia dan Hasan Ibn Umar mengangkatnya kembali kepada jabatan semula. Tahun 764 Ibn Khaldun pergi ke Andalusia Granada dan mendekatkan diri pada penguasa bani Ahmar III, Abu Abdillah Muhammad Ibn Yusuf, di antara keduanya terdapat persahabatan dan Ibn Khaldun diberi tugas sebagai duta di negara Castilla, tetapi tidak berlangsung lama. Tahun 766 H (i364 M), Ibn Khaldun pergi ke Bijayah atas undangan Abu Abdillah Muhammad dan mengangkat Ibn Khaldun sebagai Perdana Menteri dismping sebagai Khatib dan guru di Masjid Al-Qoshabah.

Setahun kemudian Bijayah jatuh ketangan Abu al-Abbas, Ibn Khaldun pun memihak Abu al-Abbas, tapi Abu al-Abbas tidak menyukai perilaku Ibn Khaldun dan Ibn Khaldun pun merasakan hal yang sama. Maka Ibn Khaldun pergi ke Bijayah untuk menemui penguasa Bijayah Ahmad Ibn Yusuf Ibn Mazni, selama enam tahun ia tinggal di sana. Sela itu pula ia sering pergi ke desa-desa hingga mendapatkan kepercayaan kepala-kepala suku. Hal inilah yang dikhawatirkan oleh penguasa Bijayah. Karena peristiwa ini Ibn Khaldun mengundurkan diri dan pergi ke Tilimsa. Abu Hammu penguasa Tilimsa menyambutnya dengan hangat. Takkala abu Hammu di kalahkan oleh Sultan Abd al-Aziz dia beralih kepada Abd al-Aziz. Namun dalam waktu dekat Tilimsa dapat direbut kembali oleh Abu Hammu. Ibn Khaldun pun menyelamtakan diri ke Fez pada tahun 774 H (1327 M).

Ketika Fez jatuh ketangan Sultan Abu Abbas Ahmad (776 H / 1374 M), Ibn Khaldun pegi ke Granada yang kedua kalinya. Namun, Sultan Banu Ahmar meminta Ibn Khaldun meninggalkan wilayah kekuasaannya dan kembali ke Afrika meski sudah bersalah, Ibn Khlaldun diterima kembali oleh abu Hammu di Tilimsa. Akhirnya Ibn Khaldun berjanji pada dirinya sendiri tidak akan terjerun lagi ke dunia politik.

Mulai saat itu Ibn Khaldun Menyepi di Qal’at Ibn Salamah dan Ibn Khaldun menetap samapi 780 H. disinilah ia mengarang Kitab al-‘Ibar yang terdiri dari tujuh jilid besar. Kitab ini didahului oleh sebuah pembahasan yang kemudian hari dikenal dengan “Muqqadimah Ibn Khaldun”.

Fase Kontemplasi dan Pemikiran

Ibn Khaldun mengadakan refleksi dan renungan yang mendalam atas perjalanan dan petualangan politiknya. Di situ pula ia mengadakan koreksi atas kitab-kitab dan proses penulisan sejarah, hinggalahirlah Kitab al-‘Ibar dan pendahuluannya yang disebut “Muqqadimah ibn Khaldun” uang memuat masalah-masalah sosial, ekonomi dan lain-lain. Tidak ketinggalan pula masalah yang berkaitan dengan politik karena masalah politik tidak dapat dipisahkan dari sejarah.

Abdul Halim

Dosen Ilmu Hadis pada IAIN STS Jambi dan Mahasiswa Program Doktor pada UIN Raden Fatah Palembang

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!