PEMBAHARUAN ISLAM

PEMIKIRAN ZIYA GOKALP TENTANG NASIONALISME TURKI

Sebagaimana yang telah diungkapkan dalam artikel sebelumnya, baca: BIOGRAFI SINGKAT ZIYA GOKALP, bahwa tiga diskursus yaitu; westernisme, Islamisme, Turkisme, telah mendorong Gokalp mensintesakannya menjadi ideologi dasar bagi kebangkitan nasional Turki. Ia meringkas teorinya dalam kalimat ringkas: “We are of the Turkish nation (millet), of the Islamic religious community (ummet), of Western civilization (medeniyet). la menegaskan bahwa Turkisme, Islamisme dan Westernisme tidaklah berlawanan satu dengan yang ‘lainnya. Dalam pandangannya ide tentang westernisasi menunjukkan kepada upaya mencapai kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan peradaban industri Barat. Jadi, bukan berarti upaya mengadopsi “kehidupan (way of life) dan nilai moral Eropa. Maka perubahan dan moderenisasi menurut Gokalp tidaklah mengalahkan atau membuang kebudayaan nasional.

Menurut Gokalp nasionalisme bukanlah didasarkan atas bangsa, tetapi atas dasar kebudayaan. la menganjurkan unsur-unsur kebudayaan barat untuk dipakai sebagai model pembentukan kebudayaan nasional Turki modern. Kebudayaan nasional yang modern ini bukanlah berdasarkan syari’at, bukan pula didasarkan kepada kebudayaan Turki sebelum Islam serta kebudayaan barat an sich, tetapi kebudayaan nasional yang unsur-unsurnya berasal dari kebudayaan barat namun dijiwai oleh Islam. Kelemahan bangsa Turki menurut Gokalp adalah karena adanya keengganan dari ummat Islam dalarn mengakui adanya perubahan dalam kondisi kehidupan mereka serta tidak mau mengadakan interpretasi baru yang sesuai dengan kondisi jaman atas ajaran­ajaran Islam.

Dalam pandangan Gokalp nasionalisme itu berdasarkan kebudayaan dan bukan ras atau bangsa sebagaimana yang diyakini para pendukung gerakan Pan Turkisme. Gokalp berusaha membedakan antara kebudayaan dan peradaban. Baginya, kebudayaan adalah bersifat unik, nasional, sederhana, subyektif dan timbul dengan sendirinya. Sedangkan yang kedua bersifat umum, internasional, obyektif dan diciptakan. Kebudayaan akan membedakan antara satu bangsa dengan bangsa lainnya. Bisa saja yang memiliki kebudayaan yang berbeda tetapi memiliki peradaban yang sama. la menilai bahwa salah satu penyebab kemunduran kebudayaan bangsa Turki adalah hilangnya kebudayaan nasional Turki karena dikalahkan oleh peradaban Islam. Baginya peradaban Islam telah melahirakn institusi-institusi tradisional yang menjadi biang kehancuran Turki oleh karena itu menjadi tugas bangsa Turki untuk menemukan kebudayan dan bahasa Turki. Meskipun demikian kebudayaan Turki akan tetap dijiwai peradaban Islam. Baginya kebudayaan asing hanya dapat dijadikan sebagai model bagi perumusan kebudayaan nasional Turki yang baru. Kebudayaan nasional bukan syari’at, bukan kebudayaan Turki sebehun Islam tapi juga bukan kebudayaan Barat.

Rosenthal, seorang pemikir politik dan ketatanegaraan asal Inggris melihat ide-ide Gokalp tentang nasionalisme modem Turki banyak menggunakan pendekatan sosiologis. la dipengaruhi sosiologis Perancis Emile Durkheim dalam mebicarakan masalah agama dan kaitannya dengan nasionalisme. Gagasan pokok dari filsafat sosialnya adalah evolusi, baik masyarakat maupun faktor-faktor lain, tennasuk agama. la melihat masyarakat dibentuk oleh tiga otoritas yang menghasilkan tiga kekuatan sosial, yakni agama yang menghasilkan ummet (ummat), politik yang melahirkan negara dan adat istiadat budaya yang menghasilkan bangsa. Bagi Gokalp, agama tetap merupakan faktor terpenting dalam mewujudkan kesadaran nasional sebagaimana penyatuan masyarakat melalui sentimen-sentimen kebersamaan dan kepercayaaan. Karena itu, betapa la menghendaki lahirnya nasionalisme baru yang diisi oleh unsur-unsur budaya Barat, ia tetap mengharapkan agar Islam tetap menjiwai kebudayaan modern tersebut.

Gokalp percaya bahwa nasionalisme yang didasari sosiologi, salah satu kekuatan berupa tradisi, kebudayaan, adat, bahasa dan kesadaran sosial masyarakat yang membentuk negara. la meluncurkan program – program tersebut dengan dua cara; pertama pendekatan sosiologi positivisme yang merupakan alirannya dlan yang menyebabkan ide-idenya bersifat sistimatik, dapat dipelajani, disertai argumen terbuka; dan kedua melalui jalur publikasi karya-karyanya, dalam bentuk puisi ia mengetengahkan ide-idenya sehingga dapat diingat oleh masyarakat. la menulis cerita anak-anak yang diinspirasikan oleh legenda kuno, dalam rangka menciptakan kebanggaan terhadap masa lalu Turki dan kesadaran terhadap hubungan historis Turki dengan Asia Tengah.

Gokalp mendorong “purifikasi” bahasa Turki dan menyarankan tulisan Arab diganti dengan tulisan latin dan juga membuang atau mengganti segala hal yang menghambat kontinuitas kebudayaan nasional. Nasionalisme Turki adalah dengan norma budaya, sernentara agama Islam sebagai sistim moral yang keduanya melengkapi dasar-dasar solidaritas sosial. Jadi, fungsi sosial Islam bukanlah ada pada ideologinya.

Abdul Halim

Dosen Ilmu Hadis pada IAIN STS Jambi dan Mahasiswa Program Doktor pada UIN Raden Fatah Palembang

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!