SPIRITUAL

PENCAPAIAN KESEMPURNAAN MANUSIA MENURUT AL-GHAZALI

Meskipun sebelumnya manusia memiliki keistimewaan pada jiwa rasional dan mata batinnya, terutama untuk mengetahui hal-hal ghaib yang berdimensi ketuhanan, al-Ghazali menilai bahwa dua hal ini begitu sensitif dari sifat kabur dan kebutaan. Al-Ghazali sepertinya menunjukkan bahwa kelemahan-kelemahan jasmaniyah manusia lebih disebabkan oleh potensi menyimpang yang dimiliki aspek jasmaniyah manusia itu sendiri. Keinginan dan nafsu-nafsu duniawi dapat menjadi sebab bagi ketertutupan hati manusia dalam rangka melihat kebenaran-kebenaran hakiki dan kemahaagungan Tuhan. Seperti umumnya para sufi, al-Ghazali membandingkan hati manusia, jiwa manusia dengan cermin. Begitu rentannya manusia dari penghalang dan debu-debu yang menutupinya untuk melihat kebenaran hakiki, hingga jika debu-debu duniawi itu lebih mendominasi hati manusia, maka semakin sulitlah ia untuk mengenal Tuhannya. Sudah selayaknya manusia pandai-pandai untuk menjaga dan membersihkannya.

Karena jiwa, khususnya jiwa rasional serta kualitas kepekaan batin manusia merupakan jembatan manusia untuk mengenal Tuhan, maka kenal tidaknya manusia akan Tuhan akan sangat dipengaruhi oleh sejauhmana manusia mengadakan pemeliharaan batin secara konsisten. Jika al-Ghazali mengatakan bahwa nafsu-nafsu manusia dapat menghambat manusia untuk mengenal Tuhannya, maka itu berarti bahwa jiwa rasional yang tidak terpelihara, tidak terasah, hingga tertutupi oleh debu nafsu duniawi, akan mengakibatkan semakin jauhnya manusia dari Tuhan. Eksistensi jiwa manusia dengan demikian bukan hanya mempengaruhi, melainkan menentukan bagi dekat jauhnya manusia dengan Tuhannya.

Karena pada dasarnya berasal dari Tuhan, jiwa manusia, dalam pandangan al-Ghazali ada sebelum badan menjelma, yang menjadi tempat sementara baginya di dunia ini. Namun karena tidak benar-benar terikat, badan hanyalah sebagai kendaraan dan alat instrumen ruh. Jiwa sebelumnya menyatu dengan Tuhan sebelum turun ke dunia untuk menjalani penyesuaian di dalam badan. Kematian jasad manusia berarti kembalinya jiwa manusia ke keadaan semula sebelum turun ke dunia yang hina. Al-Ghazali pernah mengutip sabda nabi: “jasad adalah sangkar burung, atau kandang ternak”. Tetapi jiwa, saat terlepas dari kandang, terbang terlepas ke atas untuk kembali ke asalnya”. Penjelasan ini kiranya amat penting untuk diketahui manusia. Manusia harus sadar bahwa jasadnya hanyalah kendaraan bagi ruh atau jiwa. Tanpa ruh atau jiwa, jasad sebenarnya tidak lebih dari barang atau benda mati yang tiada bernilai.

Bagi al-Ghazali, dunia ini merupakan jalan panjang bagi seorang musafir kepada Allah yang mencari dunia asalnya yang tidak terlihat. Fenomena dunia ini bagaikan tidur panjang bila dikaitkan dengan “dunia sana”. Dalam hal ini al-Ghazali menukil sabda Nabi yang berbunyi: ”Manusia bagaikan sedang tidur dan ketika mereka meninggal, mereka bangun. “Kenyataan-kenyataan yang ada pada saat terjaga, yang dapat ditunjukkan pada waktu tidur hanyalah bayangan-bayangan (image), demikian juga tentang hari kiamat yang muncul pada saat tidur, hanyalah sebagai prototipe saja. Ketika jiwa kembali kepada Tuhannya, dia terbangun dan mengetahui realitas yang sebenarnya setelah sebelum itu hanya tipe-tipe belaka. Penekanan yang begitu dalam pada hakikat kejiwaan dan jasad manusia mengantarkan al-Ghazali pada suatu pandangan bahwa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang bukan sebenarnya, dimana manusia bergelut untuk mencari jalan kembalinya.

Melalui penjelasan-penjelasannya, al-Ghazali seolah menorehkan sebuah hikmah yang amat besar bagi penciptaan manusia dimana prosesnya ditandai oleh turunnya ruh, yang sebelumnya menyatu dengan Tuhan, kepada jasad yang bersifat duniawi dan fana’. Al-Ghazali dengan jelas-jelas menegaskan bahwa kehidupan dunia ini sebenarnya bukanlah kehidupan yang hakiki, maya dan menipu. Namun demikian, justru kenyataan ini yang seolah mendorong al-Ghazali untuk menegaskan bahwa manusia harus berjuang keras untuk kembali ke asalnya, dan bisa dipastikan bahwa cara terbaik untuk itu adalah memelihara jiwa untuk senantiasa berkonsistensi pada kesucian, kebenaran dan jalan lurus. Meski begitu, al-Ghazali terkesan kurang tuntas dalam menjelaskan perihal eksistensi jiwa setelah kematian manusia. Pertanyaannya, apakah ada jiwa bersih dan jiwa kotor ketika ia menghadap Tuhan, dan apakah ada konsekwensi-konsekwensi tertentu akan hal itu?

Berdasarkan paparan-paparannya itulah maka al-Ghazali meyakini akan keabadian jiwa. Menurut al-Ghazali, jika jiwa tidak abadi, maka semua apa yang telah dijelaskan dan dialami sia-sia saja. Untuk memperkuat argumennya tersebut, al-Ghazali mengutip ayat-ayat al-Qur’an yang berbunyi: “katakanlah, mereka yang terbunuh di jalan Allah tidaklah mati, sekali lagi tidak, mereka itu hidup”. Bagi al-Ghazali, jiwa manusia merupakan sesuatu yang harus dipercayai dan diketahui dimana kematian jasad bukan akhir dari jiwa manusia. Bagi al-Ghazali, hati orang yang beriman tidak akan mati dan pengetahuan yang dia miliki pada saat kematiannya tidak terhapus, dan kesucian yang telah dicapai tidak tercemarkan. Itulah arti perkataan: “debu tidak mampu menelan tempat tinggal keimanan, kematian hanyalah merupakan jalan masuk menuju mendekati Tuhan”. Jiwa yang turun dari Tuhan sebagai sumbernya, kemudian menempati tubuh di dunia ini akan naik kembali ke dunia yag lebih tinggi. Inilah yang dikatakan al-Ghazali bahwa jiwa akan menghadap sumbernya dan kepada-Nya lah akan kembali.

Al-Ghazali memang lebih memberikan penghargaan kepada jiwa daripada jasad dalam menilai manusia. Jiwalah sebenarnya pokok pangkal manusia, sedangkan jasad hanyalah instrumen bagi jiwa dalam menjalankan roda kehidupan seorang manusia. Meskipun al-Ghazali menyebutkan bahwa hal-hal yang bersifat duniawiyah dapat berpotensi menggelincirkan manusia dari melihat kebenaran hakiki dan mengenal Tuhan, akan tetapi al-Ghazali tidak melihat dunia sebagai sesuatu yang harus dijauhi. Penjelasan-penjelasan al-Ghazali, khususnya yang berkenaan dengan dunia lahiriyah kiranya banyak berperan pada tataran kontrol moral manusia untuk pandai-pandai mengendalikan dirinya dalam sebuah permainan duniawi. Kontekstualisasi dari argumentasi yang bernada psikologis ini adalah bahwa manusia memiliki sarana yang teramat strategis untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya yang tidak lain adalah jiwanya. Namun demikian, akan menjadi fatal jika kenyataan sebaliknya yang lebih mendominasi manusia. Manusia akan semakin jauh dan jauh manakala jiwa dan hatinya dibiarkan begitu saja oleh terpaan-terpaan debu-debu duniwi yang semakin lama, semakin menutupi potensinya dalam rangka menyerap dan memantulkan citra Tuhan.

 

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!