AL-QUR'AN DAN HADITS

PENYEBAB TERJADINYA PEMALSUAN HADITS NABI (Bagian satu)

Berdasarkan data sejarah, pemalsuan hadits tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Islam saja, melainkan juga telah dilakukan oleh orang-orang non Islam. Orang-orang non Islam membuat hadits palsu, tentu saja didasari atas keinginan mereka untuk menyerang dan memerangi Islam.

Beberapa faktor yang mendorong timbulnya pemalsuan hadits tersebut diantaranya adalah (1) membela kepentingan politik, (2) membela aliran teologi, (3) kezindikan, (4) perbedaan mazhab fiqh, (5) faktor fanatisme kedaerahan dan bahasa, (6) al-targhib wa al-tarhib, dan (7) adanya upaya untuk memperoleh fasilitas duniawi dan popularitas. mereka didorong oleh beberapa faktor:

Membela Kepentingan Politik

Para pendukung masing-masing tokoh politik telah melakukan berbagai upaya untuk memenangkan perjuangan mereka dengan melakukan pembuatan hadits-hadits palsu. Berbagai hadits palsu itu dibuat untuk memperkuat argumentasi aliran yang mereka yakini benar. Pemalsuan dalam lapangan ini adalah yang pertama muncul akibat adanya perselisihan yang melanda kaum muslimin yang bersumber pada fitnah dan kasus-kasus yang mengikutinya, yakni umat Islam menjadi terbagi dalam beberapa kelompok. Dengan tendensi ingin kelompoknya mendapat tempat di hati masyarakat, maka pengikut setiap kelompok dengan leluasa memalsukan hadits-hadits Nabi. Di samping itu, ia juga digunakan untuk membela diri dalam menghadapi kelompok yang beranggapan bahwa merekalah yang berhak mengendalikan pemerintahan sebagai suatu usaha untuk memperlancar pencapaian cita-cita mereka. Sejalan dengan itu pula perkembangan politik yang mengiringi pemerintahan Utsman dan Ali, yang dari hari ke hari dipenuhi intrik, pemberontakan dan perang saudara, menyebabkan perkembangan hadits pun sedikitnya terbawa arus intrik politik. Oleh orang-orang tertentu, situasi seperti itu dimanfaatkan betul untuk mencoba menciptakan hadits dalam mendukung dan melegitimasi kedudukan mereka.

Dalam soal ini, Syi’ah misalnya, untuk menarik simpati golongannya, mereka membuat hadits palsu seperti: “Hai Ali, sesungguhnya Allah mengampuni dosamu, dosa anak-anakmu, kedua orang tuamu, keluargamu, pengikutmu (golongan Syi’ah) dan orang-orang yang mencintai pengikutmu.”

Pernyataan tersebut di atas jelas dibuat untuk mengagungkan Ali, yang selanjutnya diklaim sebagai berasal dari Nabi. Berseberangan dengan itu kelompok Muawiyah juga tidak mau kalah. Mereka membuat hadits palsu sebagai tandingan bagi kelompok Syi’ah dengan “Yang dipercaya disisi Allah itu tiga : Saya (Muhammad), Jibril dan Muawiyah.”

Membela Aliran Teologi

Dalam sejarah pertentangan politik di atas telah mengakibatkan pula timbulnya pertentangan di bidang teologi. Sebagian dari pendukung aliran teologi yang timbul pada saat itu telah membuat juga hadits palsu. Hadits palsu tersebut dipergunakan untuk mengokohkan posisi aliran teologi mereka. Misalnya, hadits palsu yang dicipta untuk menghantam paham Mu’tazilah:

“Semua yang ada di langit dan di bumi serta yang ada diantara keduanya adalah makhluk kecuali al-Qur’an…. Akan datang kaum dari umatku yang berkata : Al-Qur’an itu makhluk. Barangsiapa yang berkata seperti itu maka sungguh ia telah kafir kepada Allah Yang Maha Agung dan terceraikan isterinya saat itu juga.”

Demikian pula hadits yang ditujukan kepada paham Qadariah: “Paham Qadariyah adalah Majusi bagi umat ini.”

Kezindikan

Yang dimaksud dengan kezindikan ialah sikap benci kepada Islam. Seperti diketahui bahwa setelah Islam berkembang luas, banyak wilayah yang jatuh ke tangan orang Islam. Kekuatan Islam pada saat itu memang besar dan unggul sehingga tidak tersisa lagi bagi para penguasa bangsa-bangsa yang dibebaskan untuk memperoleh kembali kekuasaan mereka yang hilang dan kemegahan mereka yang hancur, sehingga mereka tidak mendapatkan jalan terbuka di depan untuk melampiaskan dendam mereka kepada Islam kecuali merusak aqidahnya dan mengaburkan segi-segi ajaran Islam serta memecah belah barisan Islam. Karena itu salah satu jalan yang mereka tempuh untuk maksud demikian adalah membuat hadits-hadits palsu dalam rangka melakukan kelicikan dan pengrusakan.

Dari dasar itulah sehingga mereka selalu memperlihatkan sikap permusuhan dengan Islam dan selalu menjelek-jelekkannya. Orang zindik yang semula bangga dengan negara dan pemerintahan mereka yang kuat dan karenanya meremehkan orang-orang Islam, terkejut dan sakit hati ketika mereka dikalahkan oleh orang-orang Islam. Ketika pemerintahan mereka hilang dan berpindah ke tangan orang Islam, maka itu merupakan beban yang sangat berat bagi mereka. Kemudian mereka berusaha sedapat mungkin untuk merusak urusan kaum muslim dengan menyelipkan ajaran-ajaran batil ke dalam Islam. Untuk masuk menghantam al-Qur’an, mereka mendapati al-Qur’an telah terpelihara. Oleh karena itu, mereka berpaling ke Hadits untuk menyalurkan niat jahatnya, yakni memalsukan hadits dan membaurkannya dengan hadits-hadits yang benar, guna merusak agama di mata para pemeluknya, merusak pola pikir mereka dan memurtadkan mereka.

Mohammad Yusuf

Mohammad Yusuf adalah Dosen Ilmu Hadits pada Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!