PERADABAN ISLAM

PERADABAN TRADISIONAL

Kondisi Intelektualitas Arab Pra Islam

Menurut Ibn Khaldun, bangsa Arab (Badawi pra-Islam) pada umumnya adalah bangsa yang liar (mutawahhisy), brutal (nahhāb), dan beringas (sallāb). Mereka kerap mengambil keputusan-keputusan besar tanpa mempertimbangkan resiko secara matang. Oleh karena itu, mereka dapat dengan cepat menaklukkan suatu wilayah, dan cepat pula runtuh. Mereka sulit dipersatukan dalam satu kepemimpinan. Mereka juga tidak mahir dan tidak suka pada pekerjaan-pekerjaan kerajinan tangan; tidak cakap dan tidak punya perhatian dalam mengembangkan ilmu. Kesukaan mereka hanya menyangkut hal-hal yang bersifat praktis, sederhana dan menyanjung nilai keberanian.

Bagi Ibn Khaldun, mereka adalah bangsa yang paling jauh jaraknya dengan ilmu. Karena ilmu menuntut penguasaan teori-teori abstrak, menuntut pengajaran yang sangat bergantung pada teknik-teknik. Sementara bangsa Arab adalah bangsa yang tidak suka pada hal-hal yang bersifat teoritis, teknis dan rumit. Tapi di lain pihak, dengan segala kesederhanaan pikirnya, bangsa Arab adalah bangsa yang paling cepat menerima suatu ajaran dan kebenaran. Mereka adalah bangsa yang mempunyai gaya bahasa yang lugas (balîgh), indah (fashîh), dan penuh makna (bayân dan ma’ânî).

Sementara De Lacy O’Leary menyatakan bangsa Arab sebagai bangsa yang selalu memandang sesuatu secara pragmatis dan materialis. Mereka tidak akan melakukan sesuatu yang dipandang tidak mendatangkan manfaat. Mereka juga tidak mempunyai daya imajinasi yang memungkinkan bagi perkembangan cara berpikir yang abstrak. Segalanya diukur dalam batasan-batasan praktis dan konkret. Dengan demikian, mereka juga tidak mengenal cara berpikir yang sentimentil dan bertele-tele.

Menurut Ahmad Amin, di samping terkenal temperamental –terlebih jika berkaitan dengan nilai kehormatan (muru’ah)– bangsa Arab juga terkenal cerdas dalam bertutur kata. Tapi kecerdasan itu belum menjelma dalam wilayah akal. Karena daya akal imajinatif mereka masih sangat terbatas. Mereka dengan cepat memutuskan baik atau buruk tanpa melakukan pertimbangan-pertimbangan yang sifatnya kontemplatif dan imajinatif. Tuangan pemikiran mereka lebih banyak dilimpahkan dalam bidang sastra, tidak dalam bentuk pemikiran yang sistematis, sebagaimana dikembangkan dalam pemikiran filsafat. Oleh karena itu, hampir sepanjang sejarah Arab, bahkan hingga masa-masa Islam, bidang pemikiran sains dan filsafat lebih banyak dikembangkan oleh bangsa ‘Ajam (non-Arab).

Sebagai akibat dari tabiat berpikir bangsa Arab di atas, masyarakat Arab tidak pernah mau memikirkan kaitan antara alasan (‘illat) dan konsekuensi (ma’lûl); atau antara sebab (sabab) dan akibat (musabbab). Maka jika memberi obat untuk suatu penyakit, misalnya, mereka tidak mau tahu hubungan sebab-akibat antara penyakit dan obat. Satu-satunya yang terpikir oleh mereka, hanya sebatas keyakinan bahwa setiap penyakit ada obatnya. Tidak ada pengembangan pemikiran lebih jauh. Bagi bangsa Arab yang hidup dalam kondisi alam yang sulit dan keras, tidak ada waktu untuk melakukan kontemplasi-kontemplasi abstrak, teoritis dan teknis –sebagaimana dilakukan bangsa-bangsa pengembang ilmu dan filsafat yang hidup di negeri yang sejuk, subur dan makmur.

Karena itu, kehidupan intelektual mereka masih dipenuhi mitos-mitos dan khurafat, yang diwarisi secara turun-temurun, dan diikuti dengan taqlid buta. Inilah aspek akidah (kepercayaan) Arab pra-Islam yang paling menonjol, dan menjadi sumber acuan bagi penyebutan akidah itu sebagai “Jahiliyah” (al-‘aqîdah al-jâhiliyyah). Alih-alih mengharapkan cara berpikir filosofis yang sangat memperhatikan aturan-aturan logika sebab akibat; sya’ir yang menjadi kebanggaan intelektual bangsa Arab cenderung menempuh cara berpikir mitis dan khurafat. Satu-satunya yang mereka perhatikan dalam sya’ir (syi’r jâhilî) adalah aspek keindahan, meskipun alur logikanya terputus-putus dan tak jarang kacau.

Bagi sementara pengamat muslim, ada yang berpendapat bahwa dalam sya’ir-sya’ir Arab terdapat ungkapan-ungkapan filosofis. Karenanya, mereka berkesimpulan bahwa sesungguhnya orang-orang Arab pra-Islam telah mengenal filsafat. Pendapat itu dibantah oleh Ahmad Amin, bahwa ungkapan filosofis tidak sama dengan filsafat itu sendiri. Karena filsafat merupakan hasil kajian yang sistematis, dan menuntut adanya penjelasan logis dan mendasar. Syarat ini tidak terdapat dalam sya’ir-sya’ir Jahiliyah. Mereka mengungkap hanya sebatas mengungkap, tanpa kajian mendalam dan tanpa dasar logika.

Hal ini juga berlaku pada bentuk-bentuk pengetahuan sederhana yang telah dikenal Arab pra-Islam, seperti medika, sejarah, dan astronomi. Tapi menurut Ahmad Amin, semua bentuk pengetahuan itu belum mencapai tingkat ilmu yang sistemik. Semuanya tak lebih pengetahuan yang belum ditopang oleh prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah baku; dan tidak disokong oleh pengujian-pengujian yang layak. Di atas itu semua, masyarakat Arab pra-Islam adalah masyarakat yang asing dari tradisi baca-tulis. Ibnu Khladun mencatat adanya tingkat buta-huruf yang sangat tinggi pada masyarakat Arab. Menjelang Islam muncul, pria Quraisy yang dapat membaca dan menulis tak lebih dari tujuh belas orang.

Dengan segala keadaan ini, yang lebih dikenal dengan sebutan Jâhiliyyah, Nabi Muhammad muncul membawa risalah Islam: menjadi petunjuk bagi arah jalan bangsa Arab di tengah kepungan berbagai peradaban, budaya dan agama; membimbing ke arah aqidah yang cerah; dan menjadi rahmat bagi semesta alam.

Perkembangan  Ilmu Naqliyah Masa Nabi dan Khalifah al-Rasyidun

Mengatasi sifat peradaban Arab Pra-Islam di atas yang dipenuhi oleh tradisi yang jauh dari tulis baca, maka peradaban Islam tumbuh untuk mengembangkan tradisi tulis baca. Perkembangan peradaban Islam ini (khususnya ilmu pengetahuan) hakikatnya disemangati oleh ajaran Islam sendiri yang memberikan dorongan bagi pengembangan tradisi ilmiah. Ayat al-Qur’an yang mula-mula diturunkan misalnya berisi perintah untuk menggalakkan membaca (memberantas buta huruf), sebagaimana tertera pada QS. Al-‘Alaq (96) ayat 1-5:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Berdasarkan perintah yang terkandung dalam ayat di atas, maka Rasulullah sejak awal telah menganjurkan kepada para sahabat dalam kaum Muslimin untuk menuntut ilmu dan melakukan pembelajaran guna pengembangan peradaban Islam, termasuk mempelajari ilmu-ilmu dan bahasa-bahasa musuh-musuh Islam. Nabi misalnya menganjurkan umat Islam untuk menunutut ilmu hingga ke negeri Cina. Setelah Nabi wafat kepemimpinan umat diteruskan oleh khalifah al-Rasyidun, pada masa ini umat Islam dipimpin oleh empat orang sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Pada masa ini umat Islam disibukkan dengan upaya memperkuat stabilitas dalam dalam negeri, dan upaya upaya perluasan wilayah ke berbagai daerah di sekitar Jazirah Arabia.

Pada masa khalifah al-Rasyidun umat Islam telah menancapkan langkah-langkah bagi perkembangan ilmu pengetahuan naqliyah (al-‘ulûm al-naqliyah). Di antara  al-‘ulûm al-naqliyah  yang mulai berkembang pada masa ini adalah ilmu tafsir yang dimaksudkan sebagai upaya menafsirkan maksud ayat-ayat al-Qur’an. Ilmu ini awalnya ditujukan untuk memudahkan bangsa-bangsa di luar Arab dalam memahami teks al-Qur’an, sehingga beberapa sahabat Nabi seperti Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud, dan Ubai bin Ka’ab mencoba menafsirkan al-Qur’an menurut pengertian yang mereka dengar dari Rasul. Para sahabat inilah yang dapat dikatakan sebagai pembina ilmu tafsir pertama dalam Islam, yang selanjutnya diikuti oleh para tabi’in, seperti Said bin Jubair dan lain-lain.

Selain tafsir, berkembang pula ilmu hadits, terutama dikembangkan oleh Imam Bukhari yang telah mengumpulkan sebanyak 7.275 hadits. Walaupun di dalamnya masih terdapat hadits-hadits yang kurang shahih (hanya sekitar 4000 hadits shahih), namun usaha Imam Bukhari yang telah menyortir 300.000 hadits sungguh sumbangan yang besar bagi perkembangan ilmu hadits berikutnya. Sementara ilmu aqliyah belum berkembang pada masa ini dalam arti belum dipelajari secara mendalam. Dikarenakan umat Islam masa ini masih berada pada tahap mempertahankan stabilitas dan disibukkan oleh urusan jihad serta dakwah Islamiyah ke berbagai penjuru negeri. Karena itu prioritas umat Islam pada tahap ini baru berada pada upaya peletakan dasar-dasar ilmu naqliyah.

Perkembangan Ilmu Naqliyah Masa Bani Umayyah

Setelah pemerintahan Khalifah al-Rasyidun, pemerintahan dilanjutkan oleh khalifah bani Umayyah. Pada masa ini wilayah kekuasaan Islam mengalami perkembangan yang pesat hingga mencapai ke Asia Tengah, India, dan Semenanjung Iberia. Selain itu masa ini pula umat Islam melakukan Arabisasi terhadap wilayah yang dikuasai. Pada masa kekhalifahan Umayyah, karena ekspansi yang dilakukan umat Islam belum banyak merambah dunia ilmu pengetahuan. Namun karena ekspansi yang dilakukan itu pula, pada masa-masa akhir kekuasaannya, Bani Umayyah banyak belajar dari kemajuan budaya wilayah yang dikuasai, seperti budaya Suriah, Mesir, Irak, dan Persia. Bani Umayyah sebagai penguasa cenderung memposisikan diri sebagai murid dari orang-orang yang mereka taklukkan, dan sejarah membuktikan bahwa mereka menjadi murid yang rakus akan ilmu pengetahuan. Asimilasi peradaban bahkan terjadi pada masa ini, ketika orang-orang di luar Arab seperti Persia, Suriah, Koptik, Berber dan bangsa-bangsa lainnya masuk Islam dan menjalin hubungan pernikahan dengan bangsa Arab. Kondisi ini telah meruntuhkan dinding tinggi yang sebelumnya memisahkan antara peradaban dan kebudayaan Arab dari bangsa lainnya. Aspek nasionalisme tidak lagi menjadi penentu, di mana pengikut Islam identik dengan bangsa Arab, yang lebur dalam tradisi Arab tanpa mempedulikan afiliasi kesukuan dan kebangsaan mereka.

Dalam kondisi yang cukup kondusif tersebut, mulai tumbuh pusat-pusat kehidupan intelektual di dunia Islam. Kota Hijaz, Mekkah, dan Madinah telah menjadi tempat berkembangnya tradisi musik, lagu, dan puisi. Sedangkan kota Iraq, Bashrah, dan Kufah berkembang menjadi pusat aktivitas intelektual yang cukup diperhitungkan. Sementara itu, di daerah-daerah perbatasan, seperti Persia dan Baghdad kajian ilmiah tentang bahasa dan tata bahasa Arab mulai tumbuh.   Tidak mengherankan apabila perintis tata bahasa Arab legendaris tidak berasal dari kalangan bangsa Arab, namun berasal dari bangsa Persia (Baghdad), yaitu Abû al-Aswad al-Du’âli (w. 688).

Perkembangan ilmu bahasa pada masa Bani Umayyah ini didorong oleh kajian yang mendalam terhadap al-Qur’an dan tafsirnya yang melahirkan filologi, leksikografi, dan ilmu hadits. Perkembangan ilmu hadits pada masa ini dapat dikatakan sebagai kelanjutan dari perkembangan sebelumnya. Walaupun belum menghasilkan literatur yang berarti, masa ini telah lahir pakar hadits sekaligus hukum (karena kebanyakan kajian al-Qur’an dan hadits bersentuhan dengan hukum) yang mumpuni, seperti Hasan al-Bashri (w. 728) dan Ibn Syihab al-Zuhri (w.742). Selain ilmu hadits pada masa Bani Umayyah berkembang pula ilmu puisi, yang dimunculkan oleh kalangan yang ditaklukkan kekuasaan Islam, sebagai upaya mengenang prestasi masa lalu suku mereka sebagai tandingan kegemilangan yang dicapai bangsa Arab. Di antara penutur kisah puitis yang terkenal masa ini adalah Abid in Syaryah (keturunan Arab Selatan) pengarang Kitâb al-Mulk wa Akhbâr al-Madîn (Kitab Para Raja dan Sejarah Bangsa-bangsa Terdahulu).

Sebagai kelanjutan dari ilmu puisi tersebut berkembang pula ilmu sejarah , di antaranya dikembangkan oleh Wahb in Munabbih (w. Lebih kurang 728), seorang Yahudi dari Persia yang kemungkinan masuk Islam, pengarang ‘ilm al-awâ’il (ilmu asal-usul). Tradisi ilmu sejarah ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari tradisi sebelumnya, karena sebelumnya telah ada ahli sejarah, yaitu Ka’ab al-Akhbar (w. 652), juga seorang Yahudi yang memeluk Islam yang kemudian berhasil menjadi penasihat di istana Mu’awiyah ketika ia menjadi Gubernur di Suriah. Didorong oleh perkembangan keilmuan di atas, pada masa Bani Umayyah berkembang pula berbagai literatur keilmuan, yang secara umum masih berbentuk sederhana berupa pidato, korespondensi, dan puisi. Tradisi pidato khususnya telah mencapai puncaknya pada masa ini, di mana para khatib menggunakannya sebagai sarana keagamaan, demikian pula para jenderal menggunakannya untuk meningkatkan semangat prajurit.

Selain tradisi keilmuan di atas, pada masa bani Umayyah umat Islam juga mulai mengenal arsitektur. Di masa sebeklumnya umat Islam miskin arsitektur, seperti terlihat dari bangunan-bangunan yang hanya menggunakan batu sebagi dinding dan pohon Kurma dan tanah liat sebagai atap, tanpa ornamen, dan ditujukan sekedar memenuhi fungsi yang sederhana. Seni arsitektur Islam baru muncul dalam Masjid Muhammad (Nabawi) di Madinah, yang merupakan prototipe bangunan masjid-masjid besar di abad pertama Islam. Masjid ini merupakan refresentasi sejarah perkembangan peradaban Islam yang menunjukkan hubungan antar-ras dan hubungan internasional. Pada perkembangan berikutnya prototipe masjid ini berkembang pesat ketika umat Islam berhasil menduduki Asia Barat dan Afrika Utara yang memiliki seni arsitektur yang tinggi. Dari sinilah umat Islam kemudian mengembangkan seni arsitekturnya sendiri yang dinamakan kesenian saracen, Arab, Islam atau mungkin Muhammadiyah. Perkembangan seni arsitektur ini juga akhirnya mendorong perkembangan senirupa dan musik.

Di tengah berbagai kemajuan tradisi keilmuan yang terjadi pada masa Dinasti Umayyah, pada dasarnya perkembangan ilmu pengetahuan pada masa itu baru merupakan tahap embriotik yang belum memperlihatkan tradisi keilmuan Islam yang gemilang. Namun demikian ia merupakan dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan Islam selanjutnya, hingga umat Islam mengalami masa keemasan peradabannya pada masa Dinasri Abbasiyah.

Kemapanan Peradaban Islam Masa Abbasiyah

Berbicara tentang kemapanan peradaban tradisional, dapat dikatakan bahwa masa kemapanan peradaban Islam tercapai pada masa Dinasti Abbasiyah sebagai peradaban yang kosmopolit karena menyerap/meneruskan berbagai unsur peradaban kuno yang telah mendahului dan telah ada di sekitarnya. Pada masa ini ditandai oleh perkembangan ekonomi yang pesat berbasis etika berekonomi yang berkepedulian sosial. Inilah yang diajarkan melalui konsep-konsep zakat, wakaf, shadaqah, yang dikembangkan melalui keilmuan “fiqh al-amwâl wa al-tijârah” (fiqh tentang pengelolaan harta kekayaan dan perda-gangan). Selain itu kemajuan militer masa ini telah membuat Islam menjadi kekuatan tanpa tanding. Pada masa modern, sejumlah strategi dan taktik militer Islam banyak dicontoh oleh Barat, seperti sistem penyerangan, sistem pertahanan, sistem pengelolaan personil militer, sistem logistik militer, dan yang terpenting etika perang.

Kemajuan-kemajuan tersebut merupakan imbas dari perubahan-perubahan yang terjadi di wilayah Islam akibat dari interaksi dan persentuhannya dengan peradaban asing. Secara sosial, terjadi perubahan dengan masuknya bangsa-bangsa non-Arab (ajam) ke dalam komunitas Islam, sehingga memicu perubahan beberapa segi budaya dan kebiasaan. Akibatnya muncul kelas-kelas sosial baru yang diadopsi dari kelas-kelas sosial yang dibawa oleh bangsa non-Arab. Pada gilirannya, hal itu berdampak pula pada perubahan dari segi intelektual, terutama akibat masuknya Muslim Persia, Syam, dan Mesir yang dikenal sebagai kantung-kantung budaya Helenisme (filsafat Yunani Kuno). Sehingga muncullah disiplin-disiplin ilmu baru ke dalam Islam yang banyak dipengaruhi oleh paham-paham filsafat, seperti kalam (teologi Islam), falsafah, dan sains  ke dalam agama Islam.

Artinya proses kemapanan/ kemajuan peradaban Islam telah dimulai sejak masa kepemimpinan Nabi Muhammad, khulafâ’ al-râsyidîn, dilanjutkan oleh khilafah Bani Umayyah, hingga benar-benar mencapai taraf kemapanannya pada masa khilafah Bani Abbas (Abbasiyah). Kegemilangan atau masa keemasan kekhalifahan Abbasiyah dicapai pada periode pertama, yang secara politis para khalifah menjadi sentra kekuasaan politik dan juga agama, pada sisi lain secara sosial masyarakat memperoleh kemakmuran yang sangat tinggi. Periode ini juga berhasil menetapkan landasan bagi perkem-bangan peradaban Islam terutama perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan Islam.

Masa ini diawali oleh pemerintahan Abu al-‘Abbas, pendiri dinasti yang memerintah dari tahun 750 hingga 754 M. Pemerintahannya kemudian diteruskan oleh Abu Ja’far al-Mansur (754-775 M), pada masa inilah ibukota yang semula berada di Hasyimiyah dipindahkan ke Baghdad, dekat ibukota Persia, pada tahun 762 M. Di kota inilah al-Mansur malakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya dengan membentuk lembaga eksekutif, yudikatif, lembaga protokol negara (sekertariat negara), lembaga kepolisian, lembaga kemiliteran, dan jawatan pos yang bertugas sebagai pengumpul dan penyampai informasi di daerah kekuasaan yang luas, sekaligus penyampai laporan tentang perilaku gubernur di berbagai daerah pemerintahan. Selain itu, ia juga mengangkat wazir sebagai koordinator departemen.

Kemajuan yang dicapai kekhalifahan Abbasiyah jelas sekali dilandasi oleh semangat theosentris yang tinggi. Hal ini tergambar ketika al-Mansur menyatakan “innamâ ‘anâ Sulthân Allâh fî al-‘ardhihî” (sesungguhnya saya adalah kekuasaan Allah di bumi-Nya). Al-Mansur memandang bahwa kekuasaannya yang kemudian diteruskan oleh keturunannya merupakan mandat dari Allah, bukan manusia. Popularitas kekhalifahan Abbasiyah mencapai puncaknya pada masa khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan putranya al-Ma’mun (813-833 M). Di mana al-Rasyid kekayaan negara banyak dimanfaatkan untuk keperluan sosial, guna pembangunan rumah sakit, lembaga pendidikan, kedokteran, pemandian umum, lembaga ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan kesusasteraan. Sementara pada masa al-Ma’mun yang cinta ilmu pengetahuan, dilakukan penerjemahan besar-besaran terhadap literatur Yunani, menggiatkan sekolah, dan juga pendirian perpustakaan seperti bait al-hikmah. Pada masa ini pusat penerjemahan sekaligus berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar.

Pengaruh gerakan penerjemahan pada masa ini tidak hanya signifikan bagi perkembangan ilmu pengetahuan agama, seperti fiqh dan teologi, namun juga ilmu pengetahuan umum, terutama astronomi, kedokteran, filsafat, kimia, dan sejarah, sehingga masa ini menghasilkan banyak ulama besar dan ilmuan besar Islam yang dikenal pemikirannya hingga kini. Khususnya perkembangan ilmu Naqli pada masa ini mengalami kemajuan yang sangat pesat, ditandai oleh perkembangan ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu kalam, ilmu tasawuf, ilmu bahasa, dan hukum. Perkembangan ilmu tafsir pada masa ini sangat beragam, bahkan tiap aliran teologis mengusung tafsirnya masing-masing. Baik al-Asy’ari, Mu’tazilah, ataupun Syi’ah memiliki tafsirnya sendiri.

Sementara dalam ilmu bahasa berkembang dua aliran, yaitu Bashrah dan Kufah. Mazhab Bashrah lebih dipengaruhi oleh mantiq, sehingga mereka dikatakan sebagain ahl al-mantiq, sedangkan aliran Kufah kurang terpengaruh oleh ilmu mantiq. Di antara ulama lughah yang mashur masa ini antara lain: Abu Basyar Umar bin Usman atau Sibawaihi (w. 183 H), Abu Muslim Mu’az al-Harra (w. 187 H), Ali bin Hamzah al-Kisa’i (w. 198 H), Yahya bin Zaiyd al-Farra (w. 208 H), dan al-Khalil bin Ahmad al-Bashary (180 H). Sedangkan dalam ilmu fiqh muncul dua mazhab utama yaitu ahl al-hadits dan ahl al-ra’yi.  Di antara fuqaha yang terkemuka pada masa ini antara lain Nu’man bin Sabit bin Zauthy  atau dikenal sebagai  Imam Abu Hanifah (l. 80 H), Malik bin Anas bin Abi Amir, dikenal sebagai  Imam Malik (l. 93 H), Abdullah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’i al-Syafi’i, atau Imam Syafi’i, Ahmad bin Hambal bin Hilal al-Zahily al-Syaibany  atau Imam Ahmad,   dan para imam Syi’ah serta imam mazhab yang telah hilang.

Selain perkembangan ilmu Naqli pada masa ini juga berkembang ilmu aqliyah dalam bentuk  perkembangan sains yang luar biasa.  Ilmu kedokteran misalnya dikembangkan oleh ‘Ali al-Thabari, al-Razi, Ali ibn al-Abbas al-Majuzi, dan Ibn Sina; ilmu filsafat dipelopori oleh al-Kindi atau Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq (l. 801), serta diteruskan oleh al-Farabi, Ibn Sina (w. 1037), al-Ghazali, hingga Ikhwan al-Shafa; ilmu  astronomi dan matermatika diperkenalkan oleh al-Hajjaj ibn Mathar, Hunayn ibn Ishaq, Tsabit ibn Qurrah (w. 901), Abu al-Abbas Ahmad al-Farghani, dan lain-lain. Selain itu telah muncul pula ilmu kimia dan geografi di kalangan umat Islam. Pada masa-masa inilah umat Islam mengalami kemajuan intelektualnya baik secara naqliyah ataupun aqliyah, bahkan umat Islam ketika itu menjadi mercusuar perkembangan ilmu pengetahuan, di mana berbagai karya yang dihasilkan pasa masa itu menjadikan rujukan dan inspirasi bagi kemajuan bangsa Eropa, yang terus dikaji ulang hingga kini.

Agus Salim

Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam pada Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi

Related Posts

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!