AL-QUR'AN DAN HADITS

PLURALISME AGAMA MENURUT AL-QUR’AN

Dalam sejarah kehidupan manusia yang panjang telah  lahir  beberapa agama yang saling berbeda, ada Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, Konghuchu dan lain-lain. Masing-masing agama  mempunyai Tuhan, Kitab suci dan tata cara ibadahnya masing-masing.  Umat Islam mempercayai Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan Ibadah. Demikian juga halnya agama-agama yang muncul kemudian semua mengaku mempunyai Tuhan dan memiliki cara Ibadah masing-masing.

Para pemeluk agama-agama tersebut  hidup  berbaur  antara satu dengan lainnya. Suasana hidup bersama ini telah terjalin sejak zaman Rasul saw, dimana di Madinah, selain Umat Islam juga berdiam Umat Kristiani (Nashrani ) dan Umat Ahli Kitab lainnya. Suasana kehidupan berlansung damai di bawah pimpinan Rasul saw, penuh toleransi dan keadilan, hingga mulai terjadi permusuhan dan upaya untuk memerangi Rasul, mereka berusaha memalingkan Rasul saw dan Umatnya, kedalam keyakinan mereka yang salah. Demikianlah dari zaman ke zaman (meski tetap hidup berdampingan, berbaur satu sama lain ) akan tetapi mereka tetap menebarkan permusuhan dan berusaha memalingkan Umat Islam dari agama Islam yang Haq. Berbagai jalan mereka tempuh, dari celah ekonomi, teknologi, intelektual dan segala celah kehidupan lainnya. Dari celah intelektual misalnya dengan dimunculkannya konsep tentang relativisme agama atau juga tentang konsep tiga agama satu Tuhan yang pada akhirnya menimbulkan sikap ragu dalam beragama. Ironisnya ternyata konsep ini banyak menarik minat tokoh-tokoh agamawan muslim, untuk kemudian mengadopsi konsep tersebut kedalam kajian Islam dengan dimunculkannya konsep Islam Pluralis.

Semestinya untuk menyikapi konsep-konsep tersebut, cukuplah para agamawan Muslim khususnya dan masyarakat Muslim pada umumnya  kembali kepada ayat al-Qur’an yang merupakan pedoman hidup yang benar dan mencontoh sikap yang telah nabi teladankan kepada umatnya dalam menghadapi usaha-usaha umat lain yang  mengajak kepada persatuan agama. Sebagaimana yang telah Allah jelaskan dalam surat al-Kafirun.

قل يايها لكافرون  , لااعبد ما تعبدون, ولا انتم عابدون ما اعبد, ولا انا عابدون ما عبدتم, ولاانتم عابدون ما اعبد, لكم دينكم ولي دين ( سورة الكافرون )

Dari pemahaman secara tekstual, Asbab al-Nuzul dan realitas keberagamaan manusia, penulis mencoba untuk menarik suatu pemahaman kontekstual dari surat ini. Para pemeluk agama lain ini telah ada sejak masa Rasul, baik berasal dari golongan Ahl al Kitab, Yahudi dan Nashrani maupun Kaum Kafir Qurays dan golongan-golongan lain. Mereka secara umum merupakan orang-orang yang mengingkari Allah SWT sebagai Tuhan Yang Esa. Mengingkari Rasulullah dengan risalah yang dibawanya serta meyakini tuhan-tuhan lain selain Allah. Paham ini terus berkembang, dan di zaman sekarang eksis dalam bentuk agama yang beragam dan bahkan dalam bentuk atheisme.

Agaknya sejarah kembali terulang, dalam sejarah Islam masa lampau hal seperti ini sudah pernah terjadi di masa Rasul meskipun dalam setting peristiwa yang berbeda dimana kaum kafir qurays pernah mengusulkan sinkritisasi agama antara agama yang mereka anut dan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Maka pada masa sekarang usaha kaum kafir tersebut kembali terulang, banyak kalangan dewasa ini berusaha membuat konsep tentang kesatuan agama yang intinya mengakui bahwa semua agama adalah benar dengan tujuan untuk mengurangi konflik antar umat beragama, para tokoh antar umat beragama bersatu mengembangkan konsep kesatuan agama, atau paling tidak mengupayakan pengurangan kefanatikan umat terhadap agama yang dianutnya (karena disinyalir bahwa sebab terjadi konflik karena fanatisme umat terhadap agamanya), akan tetapi menurut hemat penulis cara yang demikian adalah salah dan mengundang bahaya-bahaya baru berupa kaburnya nilai-nilai ajaran suatu agama dan munculnya sikap ragu-ragu untuk memilih agama atau bahkan apatis untuk beragama karena semua agama adalah sama benarnya.

Dalam  masalah tersebut satu jalan terbaik menurut penulis, adalah para tokoh masing-masing agama, mengadakan introspeksi ke dalam agama masing-masing, kembali kepada ajaran masing-masing, karena mustahil untuk mempersatukan agama. Karena masing-masing berbeda latar belakang dan berbeda dalam segala hal. Bagi agamawan muslim sudah saatnya untuk kembali menelusuri petunjuk yang Allah berikan dalam surat al Kafirun ini, menata etika pergaulan antar umat beragama dengan menjaga akidah pribadi dan tidak terpengaruh dengan ajaran dan ajakan pindah agama dari agama lain, hidup berdampingan secara damai selama kaum kafir tidak memusuhi dan mengusir kaum muslim dari negeri tempat tinggalnya.

لكم دينكم ولي دين

Demikianlah pembahasan singkat tentang tafsir surat al–Kafirun. Bagi kita umat Islam cukuplah kiranya al-Qur’an sebagai benteng pertahanan dari serangan pemurtadan, dan meyakini Firman Allah:

ان الدين عند الله الاسلام ……………الخ) ال-عمران  )

Sesungguhnya agama yang paling benar disisi Allah adalah Islam. ( Qs. Ali   Imran : 18 )

Wallahu A’lam bi al-Showab

Ermawati

Dosen Tafsir Hadits pada Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!