POLITIK ISLAMOPHOBIA

Islamphobia adalah perasaan ketakutan atau kebencian terhadap Islam, orang-orang Islam (Muslim) maupun budaya Islam. Istilah Islamphobia muncul pertama kali pada tahun 1922 dalam sebuah essai seorang orientalis bernama Etiene Dinet dalam karyanya yang berjudul L’Orient vu del’Occident. Islamphobia kemudian menjadi sebuah istilah yang umum digunakan pada tahun 1990 an untuk mendefinisikan perlakuan diskriminatif yang diterima umat Islam di Eropa Barat. Meskipun beragam definisi mengenai Islamphobia masih ramai diperdebatkan oleh para ahli, namun semuanya mengarah pada semua kesamaan tentang terbentuknya ideology ketakutan yang tidak rasional (irrational fear) terhadap Islam. dari perasaan ketakutan inilah muncul keyakinan bahwa setiap Muslim merupakan penganut fanatic ajaran agamanya, mempunyai tendensi untuk melakukan kekerasan terhadap orang-orang non Muslim dan meyakini pula bahwa Islam menolak nilai-nilai kesetaraan, toleransi dan demokrasi. Di kawasan Eropa, Islamphobia bukanlah sebuah fenomena baru. Gejala kebencian terhadap Islam di belahan bumi Eropa sudah berlangsung cukup lama semenjak abad delapan Masehi dan telah berkembang dalam berbagai bentuk. Dahulu kala, kebencian tersebut diekspresikan dalam Perang Salib (Crusade). Namun fenomena Islamphobia di Eropa menjadi jauh lebih kompleks semenjak tragedi 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Ketika beberapa tragedi teror mulai merambah di daratan Eropa. Masyarakat Eropa serta merta kembali terpengaruh untuk melihat Islam dengan penuh kecurigaan. Sentimen seperti ini lantas dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok sayap kanan konservatif untuk menciptakan iklim kecurigaan, prasangka serta ketakutan terhadap orang-orang Islam. Beberapa partai politik konservatif seperti Partai Nasional Inggris (British National Party), Barisan Nasional Perancis (French National Front), Partai Pembebasan Austria (Austrian Freedom Party), Partai Pim Fortuyn List Belanda dan lain-lain, menjadikan isu imigran Muslim dan budaya Islam sebagai dagangan politik mereka. Sentiment anti Islam telah menjadi kartu truf serta asset berharga dalam memperoleh dukungan dari masyarakat Eropa pada tingkat akar rumput. Masyarakat Eropa banyak yang terbawa untuk mempercayai bahwa Islam adalah sebuah agama serta budaya yang erat kaitannya dengan terror dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya. Perang melawan terorisme diyakini sebagai sebuah benturan peradaban dan agama.

Islamophobia yang menjangkiti Amerika dan Eropa rupanya merambah ke tanah air dengan sangat halus bak debu. Hal ini sangat mengherankan mengingatkan Indonesia berstatus sebagai negara dengan jumlah Muslim terbesar di dunia. Tentu hal ganjil ketika di dalam komunitas Islam, terjadi ketakutan akan Islam itu sendiri. Pandangan negatif tentang Islam dan Muslimin di negeri ini sangat terasa ketika Muslimin yang membela agamanya dianggap fundamental. Pun ormas Islam yang menyuarakan dakwah dianggap radikal. Kecemasan dan tuduhan negatif akan Islam sebetulnya telah mulai sejak peristiwa bom Bali pada tahun 2002 silam. Sejak itu rentetan penangkapan tersangka yang semuanya berpenampilan Muslim membuat masyarakat Indonesia mulai was-was dengan pria berjenggot lebat dan bergamis panjang. Pun dengan wanita bercadar dan berjubah hitam. Belum lagi adanya pihak aparat yang tak setuju aktivitas salah satu ormas Islam dalam aksi sweeping tempat hiburan di Jakarta setiap bulan puasa. Ormas Islam ini kemudian dianggap sebagai lawan dan bukan kawan dalam mengatasi penyakit masyarakat. Kecemasan makin menjadi ketika tokoh Muslim mulai memasuki jabatan pemerintahan tertinggi dari Walikota, Gubernur hingga Ketua MPR.

Islamophobia dalam catatan sejarah kemerdekaan wilayah Nusantara sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Salah satu contohnya ketika Tuanku Imam Bonjol beserta para pejuang Islam lainnya melawan penjajahan Belanda. Belanda menyebut Tuanku Imam Bonjol beserta para pejuang Islam lainnya sebagai para pemberontak negara. Padahal jelas, Posisi Tuanku Imam Bonjol ini adalah sebagai masyarakat pribumi yang mempertahankan kedaulatan tanah airnya., Penjajahan belanda juga mendapat perlawanan dari para pejuang Islam di berbagai wilayah di nusantara dan para pejuang Islam tersebut lagi-lagi disebut dengan pemberontak. Pada zaman setelah kemerdekaan, muncullah perbedaan cara pandang dalam hal berpolitik antara pejuang kemerdekaan yang menganut paham nasionalis-sekuler dengan nasionalis-Islam. Perbedaan cara pandang ini juga sempat mengakibatkan perpecahan dalam tubuh umat Islam (masyarakat) Indonesia. Setelah proklamasi dikumandangkan, awalnya masyarakat Indonesia bisa bersatu untuk melawan penjajah Belanda melakukan agresi militer kembali wilayah Indonesia Raya. Akan tetapi, kemudian perbedaan cara pandang politik semakin terlihat jelas di tengah perdebatan terkait dasar negara Indonesia.

Kalangan nasionalis-sekuler tetap menginginkan negara ini ‘netral’ dari keberadaan agama. Sedangkan dari kalangan nasionalis-Islam menginginkan negara ini berdasarkan asas Islam seperti yang telah disepakati dalam Piagam Jakarta. Perdebatan kemudian berakhir dengan diakhirinya sidang konstituante yang kemudian berlanjut dengan dekrit Presiden Soekarno yang menginginkan negara ini berdasarkan atas 3 asas; Nasionalisme, Agama dan Komunisme (NASAKOM). Tak lama setelah itu Partai Masyumi dibubarkan karena dianggap mengancam keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hingga kemudian kepemimpian beralih dari zaman Orde Lama menuju Orde Baru. Pada zaman Orde Baru. Hak-hak politik umat Islam dikebiri oleh pemerintah Soeharto dengan cara membubarkan semua partai politik yang berlandaskan Islam dan menggantinya dengan satu partai saja yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang semula berlambang Ka’bah dipaksa berganti lambang menjadi gambar bintang setelah diberlakukannya Asas Tunggal Pancasila.

Gerakan Islamophobia sesungguhnya sudah lama mewabah di Indonesia. Kalau disepakati kita dapat langsung memulainya dari rezim Soekarno meski kolonial Belanda pun sudah sering mengampanyekan gerakan memusuhi Islam. Soekarno sendiri tidak pernah memusuhi Islam tetapi menyingkirkan tokoh-tokoh Islam yang kebetulan menjadi lawan-lawan politiknya. Banyak tokoh Muslim yang dipenjarakannya bahkan Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia pun ikut diberangus. Apa yang terjadi di zaman Soekarno lebih tepat dikatakan sebagai perbedaan dua pandangan mungkin juga ideologi Islamisme dan nasionalisme. Apalagi sebagian tokoh Muslim menganggap banyak perilaku Soekarno yang tak mencerminkan nilai- nilai Islami. Tetapi Soekarno bukanlah orang yang buta terhadap Islam. Dia menguasai dengan baik mengenai sejarah dan filosofi Islam. Dia mampu melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan hadis Nabi dengan fasihnya. Sering ia berdebat dengan tokoh-tokoh Islam terutama dengan sahabatnya yang tokoh Muhammadiyah Hasan Dien saat ia diasingkan pemerintah kolonial Belanda di Bengkulu. Karena itu Islamophobia di masa kekuasaan Soekarno tidak dirancang sistematik untuk menghancurkan Islam itu sendiri melainkan tokoh-tokohnya yang kerap kali mengkritisi sang Presiden. Jadi ambisi politik bisa menafikan segalanya tidak terkecuali menyingkirkan para kiai dan ustad berpengaruh. Lebih canggih usaha penyingkiran tokoh-tokoh Islam ini dilanjuntukan secara lebih canggih pada masa kekuasaan Soeharto. Bahkan penyingkiran dilakukan lebih sistematis lewat beberapa gerbong utama yang dikendalikan oleh jenderal-jenderal non Muslim atau mereka yang kurang suka melihat perkembangan Islam di Indonesia.

Ketika Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban berada di bawah pimpinan Sudomo waktu Ali Moertopo jadi ”bos” intelijen di Indonesia dan ketika LB Moerdani mulai menjadi petinggi militer maka upaya penggembosan terhadap Islam dan tokoh-tokohnya makin santer dilakukan. Celakanya tak sedikit tindak kekerasan atau teror yang justru direkayasa oleh elite-elite militer sendiri. Bahkan teror yang dilabelkan pada kelompok Islam bisa dijadikan ajang promosi karier militernya. Kendati demikian beberapa aksi teror pernah dilakukan beberapa kelompok Islam terhadap pemerintah karena merasa sudah tak punya harapan lagi untuk melawan kecuali dengan melancarkan teror itu sendiri. Puncak perselisihan antara penguasa dan tokoh-tokoh Islam terjadi sejak dekade 1980-an ketika rejim Soeharto memaksakan asas tunggal Pancasila. Banyak tokoh Muslim yang menentangnya meski tidak sedikit yang menerimanya. Kasus Tanjung Priok juga diarahkan pihak tertentu untuk mencitrakan radikalisme dalam Islam. Nama-nama seperti Abdullah Sungkar, Abdul Qadir Jailani, AM Fatwa, Syarifin Maloko, Amir Biki Warsidi dan Abu Bakar Ba’asyir selalu menjadi incaran para intelijen. Mereka selalu menempel ketat para tokoh Islam saat berdakwah lalu mencari peluang untuk menyeretnya ke pengadilan.

Pada tahun 1998, kita mengenalnya sebagai tahun reformasi bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Semua keran ‘kebebasan’ terbuka luas. Hal ini jelas dimanfaatkan oleh semua pihak untuk melakukan pembenahan serta menyebarkan pengaruhnyakepada masyarakat di negara Indonesia ini. Hal ini juga dimanfaatkan oleh para aktivis Islam untuk berbenah, mengajak kepada kebenaran dan mencegah dari kemungkaran. Membangun gerakan-gerakan penyadaran kepada masyarakat supaya umat Islam tersadarkan bahwa selama ini Islam telah ditekan oleh berbagai pihak bahkan Islam sendiri telah mengalami reduksi sekian puluh tahun lamanya setelah runtuhnya Daulah Islamiyah dibawah kepemimpinan kekhilafahan Ustmaniyah. Di tengah proses penyadaran, Gerakan Islam mendapatkan tantangan dari gerakan internasional lainnya yang membawa misi untuk melawan dan memusuhi Islam. Gerakan internasional yang memusuhi Islam ini disponsori oleh negara-negara adidaya seperti Inggris dan Amerika Serikat. Gerakan Internasional ini biasanya membawa misi ‘perdamaian’ sehingga tidak sedikit masyarakat Indonesia yang beragama Islam dapat dikelabui. Propaganda perlawanan terhadap Islam sendiri sengaja diciptakan untuk menciptakan perasaan takut terhadap agama Islam (Islamophobia). Berbagai propaganda melalui tokoh-tokoh bayaran pun dilancarkan.

Di Indonesia, Tokoh-tokoh bayaran yang melakukan propaganda yang berlawanan dengan Islam tersebut tergabung dalam Jaringan Islam Liberal (JIL). Aktivis JIL ini bertugas untuk menyebarkan opini-opini berlawanan dan negatif terhadap Islam. Tak jarang opini ini pun kemudian berputar-putar dan selalu diulang-ulang. Seperti pelecehan terhadap al-Qur’an, netral agama, kesetaraan gender, LGBT (Lesbian, Gay, Bisksual & Transgender), nikah beda agama, pemisahan agama dengan kegiatan sosial-politik, pembusukan citra Gerakan Islam dan lain sebagainya. Yang sampai saat ini masih terus dipropagandakan. Mereka yang tergabung dalam JIL ini juga tidak segan-segan mendukung agenda musuh-musuh Islam serta menjelek-jelekkan Islam dan umat Islam. Masih ingatkah kita dengan seruan pemerintah pada bulan Ramadhan lalu? Dimana-mana terdengar seruan orang yang sedang berpuasa untuk menghormati orang yang tidak berpuasa. Belum lagi urusan adzan dengan pengeras suara, larangan sahur in the road, pawai takbiran dan masih banyak lagi larangan-larangan terutama bila menyangkut kepentingan umat Islam. Contoh yang terbaru adalah pembubaran pengajian yang dilakukan oleh GP Ansor dan pembubaran pengajian Ustadz Felix Siauw serta tuduhan makar yang dilakukan oleh umat Muslim yang melakukan aksi demo. Tidak jarang para ulama yang saleh pun terjebak untuk menempelkan stigma buruk ini terhadap kelompok Islam yang tidak sehaluan dengannya.

Pola penyebaran propaganda Islamophobia di setiap negara hampir sama, salah satunya yaitu dengan menciptakan ‘musuh-musuh’ yang berasal dari Islam di dalam tubuh negara tersebut. Seperti Israel yang mengatakan bahwa Hamas adalah teroris di Palestina. ISIS adalah musuh bersama di wilayah Iraq dan Suriah, Ikhwanul Muslimin (IM) yang dicap teroris oleh pemerintah kudeta militer Mesir. AKP Turki (Erdogan) yang sering mendapatkan opini negatif dari lawan poltiknya . Front Pembela Islam (FPI) dan ormas Islam lainnya di Indonesia yang selalu mendapatkan pemberitaan negatif dari media massa, Penangkapan dan penculikan terhadap aktivis Islam (yang tergabung dalam Hizbut-Tahrir dan Gerakan Islam lainnya) yang menyuarakan penegakkan syariah dan khilafah Islamiyah di berbagai negara. Ini semua propaganda khas yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk menentang tegaknya Islam serta berkeinginan untuk menjatuhkan Islam di berbagai sendi kehidupan.

Propaganda Islamophobia sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu kala. Akan tetapi propaganda ini kian semakin terstruktur, sistematis dan massif setelah terjadinya kekalahan tentara salib yang berulangkali dari tentara Islam dalam perang salib. Hingga kemudian pada abad 19 disusunlah sebuah perencanaan (konspirasi) yang kemudian dikenal dengan Protocol of Zion yang berisi 24 poin protocol yang pada awalnya memang ingin mewujudkan tatanan dunia baru (NovusOrdo Seclorum / New World Order) bagi Ras Yahudi. Protocol of Zion ini awalnya dicetuskan oleh Theodore Hertzl seorang peneliti yang ingin mewujudkan negara Yahudi Raya (Zionisme). Dalam pertemuan lain, diadakan agenda konferensi al-quds yang mendatangkan para pemuka yahudi yang mendukung gerakan Zionisme. Dalam konferensi al-quds tersebut dicetuskan gagasan bahwa umat Islam harus dijauhkan dari Islam seperti apa yang dikatakan salah satu tokohnya sebagaiberikut:

Sebenarnya tugas kalian bukan mengeluarkan orang-orang Islam dari agamanya menjadi pemeluk agama kalian, akan tetapi menjauhkan mereka dari agama mereka (Al-Qur’an dan Sunnah) sehingga merekamenjadi orang-orang yang putus hubungan dengan Tuhannya dan sesamanya (saling bermusuhan) menjadi terpecah-belah dan jauh dari persatuan. Dengan generasi-generasi baru yang akan memenangkan kalian dan menindas kaum mereka sendiri sesuai dengan tujuan kalian.” –Samuel Zwemmer, Conference of al-Quds.

Hal ini sudah seharusnya kita sadari sebagai seorang Muslim bahwa pada zaman akhir ini umat Islam mendapatkan propaganda serangan dari pihak yahudi dan nasrani baik dari luar ataupun yang dimasukkan ke dalam tubuh umat Islam.

About Yulfi Alfikri 11 Articles
Dosen Agama Islam pada STITAD AL-Azhar Jambi

Be the first to comment

Leave a Reply