FILSAFAT

PRINSIP VERIFIKASI ALFRED JULES AYER

Pembicaraan awal mengenai prinsip verifikasi dimulai dari kritik metode ilmiah fisika modern yang ditujukan terhadap metode fisika Newtonian klasik. Contohnya, kritik dari teori relativitas Einstein yang mampu menggambarkan secara tepat bahwa konsep-konsep seperti keserentakan, gerak, waktu, dan ruang yang dipergunakan dalam pengertian absolut tanpa didefinisikan terlebih dahulu dalam pengertian yang khusus akan menjadi tidak bermakna. Sejak saat itu, maka dimulailah sebuah era di mana prinsip verifikasi muncul ke permukaan dan menjadi sangat  terkenal setelah diusung oleh para pengikut Positivisme Logis. Positivisme Logis sendiri dikomandoi oleh sekumpulan tokoh dari Lingkungan Wina (Vienna Circle atau Der Wiener Kreis).

Para anggota Lingkungan Wina menemui kendala mendasar yang menghambat usaha mereka untuk menemukan rumusan yang memadai bagi prinsip verifikasi yang mereka usung. Kendala ini ditemui karena mereka hanya meyakini satu jenis verifikasi, yakni verifikasi empiris secara langsung.

Tokoh Lingkungan Wina, seperti Schlick, menafsirkan verifikasi  dalam pengertian pengamatan empiris secara langsung bahwa hanya proposisi yang mengandung istilah yang diangkat langsung dari objek yang diamati (kalimat protokol atau protocol sentences) yang benar-benar mengandung makna. Bagi Schlick, salah satu cara pengetahuan itu dimulai adalah dengan pengamatan terhadap peristiwa. Peristiwa macam ini terlihat dalam kalimat protokol dan kalimat ini juga yang menurut Beerling merupakan awal bagi ilmu.

Berangkat dari ketidakmampuan para penganut Lingkungan Wina dalam merumuskan rumusan prinsip verifikasi ini kemudian muncul seorang filsuf yang selain mampu untuk mengatasi ketidakmampuan Lingkungan Wina dimaksud, ia sekaligus juga berjasa besar dalam mempopulerkan prinsip ini dalam dunia filsafat. Filsuf dimaksud adalah Alfred Jules Ayer (1910-1989) atau oleh teman-teman dekatnya ia lebih dikenal dengan nama panggilan ‘Freddie’. Pandangan Ayer tentang prinsip verifikasi berbeda dengan pandangan Lingkungan Wina yang hanya mengakui satu rumusan prinsip verifikasi, yakni verifikasi empiris secara langsung. Bagi Ayer, selain verifikasi empiris secara langsung, maka terdapat juga verifikasi empiris secara tidak langsung. Dua bentuk verifikasi empiris ini kemudian diistilahkan Ayer dengan verifikasi empiris yang ketat (strong) dan verifikasi empiris yang longgar (weak).

Ayer beranggapan bahwa proposisi yang bermakna adalah proposisi yang berkaitan dengan realitas empiris. Selain itu, verifikasi terhadap proposisi bukannya kesadaran melainkan pengalaman. Contohnya, proposisi bahwa ‘aku sakit kepala’, maka verifikasinya adalah perasaan sakit kepala dan bukannya kesadaran akan sakit kepala. Pandangan-pandangan Ayer yang mengaitkan proposisi yang bermakna dengan realitas empiris tentu saja memiliki implikasi langsung terhadap banyak perkara, seperti penolakan terhadap proposisi-proposisi metafisis, etis dan teologis dengan alasan bahwa proposisi-proposisi dimaksud tidak berkaitan langsung dengan realitas empiris.

Seperti telah dijelaskan di atas bahwa para anggota Lingkungan Wina menemui kendala mendasar yang menghambat usaha mereka untuk menemukan rumusan yang memadai bagi prinsip verifikasi yang mereka usung, karena mereka hanya meyakini verifikasi empiris secara langsung. Usaha untuk mengatasi kendala ini dan untuk merumuskan kembali prinsip verifikasi dilakukan oleh Ayer dengan jalan membuat distingsi antara proposisi-proposisi empiris dengan proposisi analitisMenurut Ayer, distingsi ini adalah sebuah keniscayaan mengingat proposisi-proposisi empiris seringkali merupakan bentuk aktif dari proposisi analitis.

Dengan alasan adanya distingsi di atas pula, maka ungkapan Ayer bahwa ‘suatu kalimat memiliki makna bila dan hanya bila proposisi yang mengekspresikannya dapat diverifikasi secara analitis atau secara empiris’ (a sentence has literal meaning if and only if the proposition it expresses is either analytic or empirically verifiable) menjadi dapat dipahami dan diapresiasi dengan lebih baik. Menurut Ayer dapat diverifikasi secara empiris membuat sebuah kalimat menjadi rentan untuk divalidasi atau difalsifikasi dengan beberapa observasi empiris. Apabila seseorang tidak mampu untuk menjelaskan dengan baik bagaimana proposisi yang ingin diekspresikannya diverifikasi, maka bagi Ayer orang tersebut telah gagal untuk mengkomunikasikan sesuatu pun (…But until he makes us understand how the proposition that he wishes to express would be verified, he fails to communicate anything to us…).

Ayer melihat proposisi analitis memiliki beberapa arti, yakni (1) proposisi yang benar dengan definisi (true solely in virtue of the meaning of its constituent symbols); (2) proposisi yang tidak ditemukan pengalaman pada proposisi dimaksud, tapi bersifat a priori; (3) proposisi yang memiliki kepastian dan kebutuhan yang merupakan tautologi; (4) proposisi yang memiliki makna sejauh proposisi tersebut mendefinisikan penggunaan linguistis terhadap suatu terma yang pasti. Maknanya adalah linguistis atau verbal. Ayer juga menjelaskan bahwa semua proposisi dapat diverifikasi dengan dua artian, yaitu dapat diverifikasi secara ketat dan secara longgar. Suatu proposisi dikatakan diverifikasi dalam artian ketat bila proposisi-proposisi tersebut berkaitan langsung dengan pengalaman. Sementara itu, proposisi juga dapat diverifikasi dalam artian longgar bila terhadap proposisi dimaksud dimungkinkan bagi pengalaman untuk mewujudkannya.

…A proposition is said to be veriable, in the strong sense of term, if, and only if, its truth could be conclusively established in experience. But it is veriable, in the weak sense, if its possible for experience to render it probable….

Prinsip verifikasi yang diusulkan oleh Ayer di atas memiliki implikasi terhadap penghapusan proposisi-proposisi metafisis, etis, dan teologis. Penghapusan terjadi karena proposisi-proposisi ini melampaui alam indrawi dan oleh karenanya tidak akan pernah dapat diverifikasi secara empiris. Prinsip verifikasi Ayer juga memiliki relevansi bagi ilmu. Lingkungan Wina dan Ayer dengan prinsip verifikasinya menyerang para filsuf spekulatif yang mencari alasan-alasan yang lebih valid untuk menghadirkan ungkapan-ungkapan mereka sebagai potongan-potongan pengetahuan riil. Lingkungan Wina dan Ayer punya alasan yang kuat karena hanya ilmu-ilmu empiris yang telah terbukti mampu untuk menghasilkan hasil-hasil kemajuan yang praktis.

Prinsip verifikasi Ayer dengan penekanannya kepada verifikasi ilmiah bagi pengetahuan membuka kemungkinan adanya unifikasi atau penyatuan semua ilmu di bawah satu atap. Atap yang dimaksud di sini tentu saja fisika sebagai pegangan awal kaum Positivisme Logis. Usaha unifikasi ilmu ini sebenarnya telah dilakukan lebih dahulu oleh Carnap dan kelompok Neurath dalam Lingkungan Wina sehingga kemudian dikenal dengan fisikalisme (physicalism). Istilah fisikalisme sendiri diciptakan oleh Carnap dalam suatu artikel pada tahun 1931, saat ia telah meninggalkan pendapatnya dalam Der Logische Aufbau der Welt.

Fisikalisme bermaksud menyangkal setiap perbedaan mendasar antara ilmu alam dengan ilmu kemanusiaan. Lantaran semua ucapan empiris dapat diungkapkan dalam bahasa fisika, maka tidak ada ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften) yang berbeda dari ilmu alam. Semua ilmu sama-sama bersifat fisis dan justru inilah yang memungkinkan bagi unifikasinya. Meskipun disiplin-disiplin ilmiah seperti psikologi telah mencapai tesis behaviorisme pada saat Lingkungan Wina, prinsip verifikasi menginspirasikan kemungkinan bagi suatu ilmu yang menyatu yang menggambarkan psikologi, misalnya, melebihi lapangan fisiologi dan biologi. Hasil-hasil yang telah dicapai dalam ilmu-ilmu kemanusiaan dipandang cukup untuk menjustifikasi pandangan-pandangan yang dicapai oleh perintis prinsip verifikasi.

Ayer, dalam posisi yang berbeda, melihat tugas filsafat bukanlah untuk menetapkan pelbagai pra-anggapan bagi ilmu. Baginya, filsafat tidak memiliki tugas positif seperti yang dimiliki oleh ilmu-ilmu empiris. Fungsi filsafat melulu sebagai kritik (…we are now in a position to see that the function of philosophy is wholly critical…). Fungsi ini merupakan implikasi logis dari penerapan prinsip verifikasi ke dalam bidang filsafat. Prinsip verifikasi awalnya dirumuskan dalam Lingkungan Wina sebagai sebuah teori makna terhadap semua proposisi faktual. Para anggota Lingkungan Wina menjadi sadar akan keterbatasan prinsip verifikasi dalam mencapai tujuan untuk memilah proposisi-proposisi yang bermakna karena kekakuannya hanya merujuk pada verifikasi empiris secara langsung.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!