OPINI

PROFESIONALISME KERJA DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Profesionalisme kerja merupakan salah satu dari ajaran-ajaran Islam yang telah dicontohkan oleh Rasullah. Istilah professional secara umum dapat diartikan sebagai bentuk melakukan sebuah pekerjaan secara total dan menurut aturan-aturan yang berlaku. Professional dalam kerja merupakan hal yang sangat dituntut dalam upaya membawa sebuah lembaga atau organisasi baik negeri maupun swasta mencapai tujuan yang telah digariskan. Dalam Islam salah satu bentuk professional kerja yang dicontohkan oleh Rasulullah pada saat perang Uhud. Pada perang Uhud, Nabi Muhammad SAW menurunkan 700 anggota pasukan, sedangkan kaum musyrikin menurunkan 3000 orang pasukan. Dari segi jumlah pasukan, peperangan itu memang tidak imbang. Rasulullah menempatkan 50 pemanah diatas bukut Uhud. Mereka bertugas melindungi kaum muslimin dari jarak jauh sekaligus menahan serangan dari arah belakang medan pertempuran. Rasulullah lalu menunjuk Abdullah bin Zubair sebagai komandan pasukan pemanah ini. Beliau juga berpesan, apapun yang terjadi pasukan berpanah tidak boleh meninggalkan lokasi kecuali mendapat aba-aba dari Rasulullah. Singkat cerita, kedua pasukan terlibat pertempuran di medan laga. Kemenangan pada awalnya menjadi milik kaum muslimin. Kaum musyrikin mulai kewalahan. Akhirnya mereka melarikan diri dari medan pertempuran serta meninggalkan harta dan barang-barang berharga milik mereka. Melihat kejadian ini, pasukan berpanah dari pihak kaum muslimin di atas bukit Uhud, lupa dengan tugas yang diamanahkan Rasulullah. Lalu mereka berebutan turun bukit meninggalkan markas mereka. Mereka tergoda oleh harta yang ditinggalkan kaum musyrikin yang melarikan diri. Abdullah bin Zubair berusaha mengingatkan mereka. Namun peringatan itu tidak mereka hiraukan. Mata mereka telah silau oleh godaan harta. Kaum musyrikin melihat peluang ini, mereka bergerak cepat dan mengambil posisi yang ditinggalkan pasukan berpanah kaum muslimin. Kondisi semula menjadi terbalik, kaum musyrikin berhasil mengepung barisan kaum muslimin. Peristiwa ini merupakan sebuah pelajaran dan pengalaman yang sangat pahit bagi umat Islam karena mereka melalaikan amanah yang diberikan Rasulullah dan tidak professional dalam bekerja akibat terpengaruh godaan harta.

Berdasarkan kisah perang Uhud terlihat bahwa dalam melaksanakan kerja yang telah ditetapkan dan digariskan oleh Rasullulah sebagai pimpinan dalam perang Uhud dilaksanakan secara tidak professional oleh umat muslim yang telah diperintahkan dan diarahkan oleh Rasulullah. Tidak professionalnya kaum muslim saat itu diakibatkan oleh sesuatu yang bersifat duniawi yaitu “godaan harta”. Situasi yang dialami umat muslim pada saat itu, terjadi juga pada saat sekarang namun pada case yang berbeda. Pada masa sekarang “godaan harta” memberi pengaruh besar dalam menentukan dan melakukan kerja. Sebagai contoh banyak pimpinan dan karyawan atau pemangku amanah yang melaksanakan tugas tergoda dengan harta ketika mereka melaksanakan kerja yang seharusnya berdasarkan aturan yang telah ditetapkan.

Islam menempatkan bekerja sebagai ibadah untuk mencari rezeki dari Allah guna menutupi kebutuhan hidupnya. Bekerja untuk mendapatkan rezeki yang halalan thayiban termasuk kedalam jihad di jalan Allah yang nilainya sejajar dengan melaksanakan rukun Islam. Sebagai muslim, tentunya kita sepakat untuk menyatakan bahwa Islam adalah agama yang syamil (menyeluruh) dan kamil (sempurna). Ini mengidentifikasikan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan seluruh sendi-sendi kehidupan manusia, mulai dari perkara duniawi hingga persiapan kita untuk mempertanggung jawabkan seluruh perbuatan duniawi di akherat nanti. Bahkan dalam Islam, orang yang melakukan suatu pekerjaan sangatlah dituntut untuk berlaku sesuai profesinya masing-masing dan peringatan keras bagi mereka yang tidak mengindahkan himbauan ini sebagaimana sabda Rasulallah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari : Rasulullah SAW bersabda: “Jika sebuah urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.”(HR Bukhari dari Abu Hurairah). Professional ini sangat penting karena menduduki posisi penting kecintaan Allah SWT pada mereka yang bekerja dengan professional. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT mencintai jika seorang dari kalian bekerja, maka ia itqan (professional) dalam pekerjaannya.”(HR Baihaqi dari Aisyah r.a). dalam konteks hadis diatas, semakin menjelaskan kepada kita, bahwa Islam adalah agama yang meletakan dan menekankan nilai-nilai profesionalitas dalam setiap pekerjaan yang dilakukan oleh umatnya. Melengkapi bekerja keras dan professional adalah praktek bersikap dan berperilaku mencontoh Rasulullah yaitu bersifat siddiq, fathonah, amanah dan tabligh.

Gagasan yang terkandung dalam ajaran keagamaan merupakan titik tolak untuk melakukan suatu tindakan terhadap sesama manusia, lingkungan sekitarnya dan ciptaan Tuhan lainnya. Dengan gagasan keagamaan ini dapat mencakup seluruh sudut pandang yang tidak tergoyahkan dengan pengaruh atau rayuan bagaimana pun bentuknya untuk memperoleh sesuatu dengan mudah, walaupun bukan haknya dan tidak perlu memeras keringat untuk mendapatkannya, sehingga seluruh aspek yang dapat memenuhi kebutuhannya tercapai. Dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia selalu berusaha meningkatkan faktor-faktor yang dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan atas dirinya sendiri, walaupun faktor-faktor tersebut sangat sulit memperolehnya dengan jalan yang jujur dan benar. Dalam kondisi seperti itu akan terjadi pertentangan antara keinginan atau kebutuhan dengan faktor-faktor pemenuhan kepuasan kehidupan itu sendiri atau dengan kata lain terjadi pertentangan (konflik) antara kebutuhan batin dengan kebutuhan fisik. Pada keadaan yang lebih makro, konflik bukan saja bisa terjadi antara perasaan dan kebutuhan manusia tetapi dapat terjadi antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, karena perebutan faktor pemuas kehidupan yang sangat terbatas dan memperolehnya memerlukan teknik dan metode tertentu, baik sesuai norma-norma maupun yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku pada mereka.

Mengakarnya budaya korupsi, suap, sogok, money politics, pungli dan kelompok turunnya ditubuh birokrasi setiap lembaga, baik lembaga negara maupun swasta merupakan fakta dan tantangan paling fenomenal bagi agama-agama samawi, terutama agama Islam, yang secara tegas mengutuknya. Budaya tersebut mengidentifikasikan ke-tidak professional-an kerja yang dilakukan oleh individu sebagai makhluk ciptaan Allah yang seharusnya menempatkan dan melakukan segala sesuatunya sesuai dengan aturan dan petunjuk pelaksanaan. Dalam ajaran Islam sangat jelas dinyatakan tentang professional kerja, bila nepotisme dan suap menjadi azas dalam dunia kerja, maka pegawai yang diterima tidak lagi professional dan transparan, tidak lagi berdasarkan kualifikasi yang benar. Sehingga terjadilah ketidak adilan, dimana orang-orang yang memenuhi syarat terzhalimi dan orang yang seharusnya pantas memegang amanah pekerjaan dan jabatan, tersingkirkan.

Lalu, apa yang bisa diharapkan dari bentuk tidak profesionalnya individu yang berkuasa? Mengapa ke-empat karakter (sidiq, amanah, fatonah, tabliqh) yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah tidak mampu diterapkan untuk meningkatkan professional kerja? Ini menjadi tanggungjawab para individu yang berkuasa dalam menjalankan roda-roda kekuasaannya. Ajaran agama dan nilai moral seolah tidak lagi mempan membendung kejahatan korupsi, kolusi dan nepotisme serta menghindarkan umat manusia dari kecenderungan berkhianat, menyimpang dan berdusta. Nasehat agama sepertinya tak berbekas, para tokoh agama kehilangan wibawa, moral dan ritual ibadah mandul tidak memberi pengaruh pada perilaku keseharian. Seharusnya setiap ibadah mampu merubah perilaku lebih bagus dan mental lebih baik sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla tentang shalat, “ Sesungguhnya shalat itu mampu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” (Al-Ankabut 29:45). Beribu-ribu umat Islam baik pegawai negeri maupun karyawan swasta menunaikan shalat bahkan hampir seluruh mesjid perkantoran dan perindustrian tiap waktu shalat tidak pernah sepi dari jamaah, acara kerohanian yang berupa kajian agama, dzikir berjamaah, istighasah, renungan dan mabit mereka lakukan, namun catatan kejahatan agama, moral dan kemanusiaan tidak berkurang. Aksi kriminalisasi social dan agama makin marak, bahkan korupsi, kolusi, nepotisme, suap, sogok, pungli dan money politics makin merajalela. Sebab utama adalah keimanan yang lemah, kesempatan terbuka lebar, lingkungan yang mendukung dan sanksi hukum yang tidak tegas terhadap pelaku bahkan sebagian pelakunya ada yang tidak tersentuh hukum sama sekali. Jadi, benar apa yang dikatakan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah bahwa barang siapa yang shalatnya tidak bisa mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar maka shalatnya tidak bisa disebut shalat bahkan akan menjadi bumerang bagi pelakunya.

Yulfi Alfikri

Dosen Agama Islam pada STITAD AL-Azhar Jambi

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!