AGAMA

PUASA DALAM MAKNA DAN ESENSI

Puasa secara bahasa berasal dari upawasa atau upavasa dalam bahasa Sanskerta. Upa bermakna ‘dekat’, sedangkan vasa atau wasa berarti sifat kemahatahuan dari Hyang Widhi. Secara lengkap, upawasa berarti mendekatkan diri kepada Hyang Maha Pencipta. Hal ini menegaskan bahwa puasa pun dikenal oleh agama di luar Islam, dalam hal ini Hindu misalnya. Bahkan sumber lain menyatakan bahwa sejarah mencatat, puasa merupakan ibadah yang telah lama berkembang dalam masyarakat manusia, yakni sejak manusia pertama Adam as hingga umat terakhir dari segala Nabi dan Rasul Muhammad SAW. Puasa atau Shaum sebagaimana terdapat dalam kamus bahasa Arab, artinya adalah imsaak (menahan diri). Menurut kalangan ulama yang dimaksud menahan diri disini, yaitu menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual dan yang lain-lain yang membatalkan shaum dari shubuh sampai malam (maghrib) disertai niat.

Adapun ayat suci Al-Quran yang berkenaan dengan kewajiban puasa di bulan Ramadhan ini adalah, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka, barang siapa di antara kalian sakit atau berada dalam perjalanan (lalu berbuka), (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ia tinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Wajib bagi orang-¬orang yang berat menjalankannya, (jika mereka tidak berpuasa), membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan dengan kerelaan hati, itulah yang lebih baik baginya. Berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan–penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Oleh karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia ber¬puasa pada bulan itu, dan barangsiapa yang sakit atau berada dalam perjalanan (lalu berbuka), (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ia tinggal¬kan itu pada hari-hari yang lain. Allah meng¬hendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak meng¬hendaki kesukaran bagi kalian. Hendaklah kalian mencukupkan bilangan (bulan) itu dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberi¬kan kepada kalian supaya kalian bersyukur.”(Al-Baqarah: 183-18).

Mengenai tujuan diwajibkannya puasa agar kaum beriman dapat menjadi insan taqwa (muttaqin) dikarenakan Islam merupakan sebuah agama yang memandang semua manusia adalah sama. Tetapi bukan berarti Islam tidak mengenal perbedaan dan tingkatan. Islam membedakan derajat dan tingkatan seseorang bukan dari segi lahiriah dimana secara mahiyah atau esensial tidak memiliki perbedaan, semuanya sama sebagai insan tetapi yang membedakannya adalah tingkat eksistensinya. Semakin dekat ia dengan sumber wujud (Tuhan) maka semakin kuat keberadaannya atau keimanan dan ketaqwaannya. Sebagaimana penggalan ayat Al-Quran surat Al- Hujaraat ayat 13, “ Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”.

Bulan Ramadhan satu-satunya bulan yang namanya diabadikan dalam Al-Quran yang disebut dengan bulan Nuzul Quran (turunnya Al-Quran). Masalah terpenting menyangkut bulan suci Ramadhan adalah bahwa manusia memiliki kesempatan menempa ruh dan spiritualitasnya untuk menuju pada kesempurnaan. Ketika seorang hamba berpuasa hanya Allah SWT saja yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa atau hanya sekedar berpura-pura. Zahirnya dan tampilannya berpuasa namun dibalik semua itu tidak mampu menahan godaan-godaan yang dapat membatalkan pahala puasa, maka ini adalah pekerjaan sia-sia. Hendaklah janganlah kita seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yang di riwayatkan oleh Nasai dan Ibnu Majah, Nabi SAW bersabda, “Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga”. Disinilah esensi dari kejujuran dan kesabaran yang hendak dicapai oleh ibadah puasa.

Esensi puasa di bulan Ramadhan bukan hanya sekedar Masjid yang menjelma ramai oleh semua orang. Bapak-Bapak, Ibu-ibu, laki-laki, wanita, orang tua, pemuda pemudi, remaja, anak-anak, bahkan balita pun hadir meramaikan Masjid yang sebelas Bulan sebelumnya hanya penuh ketika shalat Jum’at saja. Tak penting apakah akan ikut shalat Tarawih berjamaah atau sekedar nongkrong saja. Tak penting apakah ikut mendengar tausiyah atau menyibukkan diri ngobrol dan bergosip ria. Esensi puasa di bulan Ramadhan bukan hanya tayangan televisi yang sekonyong-konyong berubah haluan. Presenter acara gosip yang berkerudung walau nanggung. Iklan produk yang dihubungkan dengan sajian sahur dan buka. Sinetron yang menambah embel-embel Islam, Pesantren, Jilbab, Taubat, Ramadhan, yang kalau isinya tetap lebih banyak maksiat. Esensi Ramadhan bukan hanya sekedar tumpahnya penjual Takjil dan pangan pelengkap berbuka. Mulai dari yang panas sampai yang dingin, mulai dari yang digulai hingga yang digoreng. Mulai dari makanan utama sampai makanan penutup, biasanya lengkap tersedia di lokasi pasar Takjil dadakan. Tak penting akan dimakan atau tidak.

Esensi puasa di bulan Ramadhan bukan hanya sekedar bersolek menyambut Idul Fitri. Toko-toko pakaian yang mulai memasang diskon. Bersih-bersih rumah yang nantinya banyak di kunjungi sanak saudara dan teman-teman. Kue, biskuit , cemilan khas lebaran yang sudah siap semenjak awal Ramadhan. Tak penting apakah benar-benar menjadi orang yang menang di awal bulan syawal. Esensi puasa dibulan Ramadhan bukan hanya sekedar menahan lapar. Bukan hanya menahan haus. Lebih lebih dari itu menahan diri adalah yang utama. Mungkinkah terjadi diskoneksi antara esensi puasa dengan perilaku manusia modern akibat epistemology pemahaman yang bias sejak semula atau karena dominannya hedonisme dan materialisme dikalangan manusia modern? Sebagian ulama salaf berkata,“Puasa yang jelek adalah jika saat puasa hanya meninggalkan minum dan makan saja.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 277). Puasa yang hakiki adalah mempuasakan tiap jengkal tubuh dari maksiat dan segala keburukan serta murka Allah, seperti yang di sampaikan Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, “Jika engkau berpuasa, maka puasakanlah pendengaran, penglihatan dan lisanmu dari dusta dan perkara yang diharamkan. Jangan sampai engkau menyakiti tetanggamu. Juga bersikap tenanglah di hari puasamu. Jangan jadikan puasamu seperti hari-hari biasa.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 277). Tak penting apa kata orang, tak penting sedikit nikmat dunia yang terenggut. Sejatinya Allah Azza wa Jalla akan menggantikan nikmat itu jauh lebih besar dari yang kita bayangkan.

Yulfi Alfikri

Dosen Agama Islam pada STITAD AL-Azhar Jambi

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!