TEOLOGI

PURITANISME

Artikel ini membahas tentang gagasan Puritanisme dan alasan-alasan kemunculan paham ini ke dalam dunia Islam. Ternyata dalam konteks historis, setidaknya ada tiga hal yang bertanggung jawab atas lahirnya Puritanisme yaitu: (1) Maraknya kurafat dan bid’ah; (2) Penyimpangan-penyimpangan dalam ajaran-ajaran tariqat tertentu; dan (3) Adanya degradasi moral.

Puritanisme berasal dari kata puritan. Secara etimologis, puritan diartikan sebagai orang yang hidup saleh dan yang menganggap kemewahan dan kesenangan sebagai dosa (Sugono, 2014 : 1119). Sedangkan secara terminologis, puritanisme adalah sebuah paham yang memiliki gagasan bahwa Islam yang murni adalah Islam yang ditampilkan pada konteks zaman Rasulullah dan sahabatnya. Kemurnian Islam pada waktu itu dianggap masih “murni” karena belum tercampur dengan ijtihad dan pengaruh sosiologis (Abdullah, 2002 : 23). Dari kedua definisi diawal, dapat dikatakan bahwa puritanisme adalah semangat untuk mengembalikan Islam kepada bentuk pemahaman dan pengamalannya yang murni; yang sesuai dengan ajaran-ajaran Rasulullah saw.

Semangat puritanisme ini muncul pada abad ke-10 M hingga abad ke-19 M yang didorong oleh setidaknya beberapa gerakan dalam Islam seperti: (1) Gerakan Hambali yang dipelopori oleh Abu Muhammad Al-Barbahari; (2) Gerakan Ibnu Taimiyah; (3) Gerakan Muhammad bin Abdul Wahab. Mengapa semangat puritanisme tersebut muncul? Setidaknya, ada beberapa alasan logis yang melatarinya. Diantaranya adalah:

Pertama, maraknya praktik bid’ah dan khurafat. Sehingga bermunculanlah fenomena-fenomena upacara ritual yang tidak ada dasarnya baik secara naql (teks/dalil wahyu) maupun aql (konteks penalaran) (Batubara, 2016 : 23).

Kedua, munculnya aliran-aliran tariqat yang sangat bervariasi namun sayangnya dalam praktik amalan tariqat tersebut, dalam pandangan Ibnu Taimiyah masih kurang bahkan sangat tidak berorientasi kepada sunnah Nabi saw. Indikasi ini ditemukan misalnya dalam ajaran wasilah (jika tidak hati-hati) kadangkala menggiring manusia kepada kesyirikan karena ada kesan manusia berdoa bukan kepada Allah SWT lagi, melainkan berdoa kepada ulama (manusia biasa) tertentu yang dijadikan wasilah-nya. (Rubaidi, 2010 : 80).

Ketiga, munculnya degradasi moral yang merata di kalangan masyarakat muslim sepanjang provinsi-provinsi yang dikuasai oleh Kerajaan Utsmani dan di India (Rahman, 2000 : 14). Dalam konteks kekinian, degradasi moral itu terjadi di seluruh dunia dan bahkan semakin marak terjadi dengan adanya kemajuan teknologi.

Berdasarkan keterangan di atas, dapatlah diketahui bahwa semangat puritanisme sebenarnya adalah ingin kembali kepada Islam yang murni saja, tanpa adanya variasi dan penafsiran yang macam-macam. Sebab dalam pandangan Puritanisme, kekacauan-kekacauan dalam pengamalan keagamaan (seperti: bid’ah, kurafat, degradasi moral) itu terjadi berasal dari penafsiran dan pemahaman akan agama yang terlalu bebas. Untuk itulah, Puritanisme menawarkan suatu pemikiran untuk kembali kepada kehendak Tuhan saja (mengembalikan seluruh persoalan kepada dalil naql). Meskipun demikian, semangat Puritanisme tetap saja mendapatkan kritikan, terutama oleh kelompok Islam Moderat apalagi Islam Liberal. Dua kelompok ini menuding bahwa konsep yang ditawarkan oleh Puritanisme terlalu kaku dan tidak fleksibel karena ruang interpretasi sangat dibatasi. Apapun alasannya, dalam hemat penulis, semua produk pemikiran atau gagasan dalam Islam baik itu kelompok Puritanisme bahkan Liberalisme sama-sama ingin memperjuangkan kemurnian dan kebesaran Islam dengan cara mereka masing-masing.

Ariyandi Batubara

Penulis dan Pembicara Filsafat Kontak: HP/WA 0852 27574516 E-mail: batubaraariyandi@rocketmail.com

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!