TEOLOGI

QADARIYAH DAN JABARIYAH

[toc title=”Pembahasan dalam Artikel ini Meliputi:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Pendiri

Aliran Qadariyah disebarkan oleh Ma‘bad al-Juhani dan Ghailan al-Dimasyqi. Menurut uraian sejarah, Ma’bad al-Juhani mati terbunuh pada 80-an Hijriah karena terlibat dalam pertempuran menentang kekuasaan Bani Umayyah. Pemikiran Qadariyah kemudian dilanjutkan oleh Ghailan al-Dimasyqi. Tetapi, Ghailan kemudian dihukum mati oleh Hisyam ibn Abdul Malik pada sekitar tahun 700-an.

Sedangkan aliran Jabariyah digagas oleh Ja’d ibn Dirham dan disebarkan oleh Jahm ibn Safwan. Figur Ja’d ibn Dirham dikenal memiliki pemahaman yang kontroversial seperti; Allah tidak berbicara dengan Musa as., Allah tidak menjadikan Ibrahim sebagai kesayangan-Nya. Besar kemungkinan karena pendapatnya tersebut maka ia dihukum pancung oleh Gubernur Kufah yakni Khalid ibn Abdullah al-Qashri. Adapun Jahm ibn Safwan juga dihukum mati pada 131 H setelah tertangkap karena melakukan pemberontakan terhadap Khalifah Bani Umayyah di Khurasan, Sebagaimana diketahui, Jahm ibn Safwan merupakan salah satu figur dalam aliran Murji’ah dari sekte al-Jahmiyah (Baca: Murji’ah dan Paradigma Teologi Irja’).

Pemahaman Keagamaan Qadariyah

Sebelum dihukum mati, Ghailan terlebih dahulu diberi kesempatan untuk berdebat dengan ahli dari pemerintah Bani Umayyah yakni al-Audha’i disidang oleh pemerintah Bani Umayyah. Dalam perdebatan tersebut  Ghailan menyatakan bahwa manusia sendiri yang melakukan perbuatan baik atas kemauan dan kehendaknya sendiri. Sebaliknya, manusia sendiri yang melakukan atau menjauhi perbuatan jahat atas kemauan dan kehendaknya sendiri. Tokoh yang lain seperti al-Nazzam berpendapat bahwa manusia memiliki daya dalam hidupnya sehingga dengan daya tersebut ia berkuasa atas segala perbuatannya.
Menurut Harun Nasution, ciri-ciri pemahaman Qadariyah dapat dilihat dalam karakternya antara lain;

  1. Memberikan kedudukan yang tinggi kepada akal.
  2. Manusia memiliki kebebasan dalam kemauan dan perbuatan.
  3. Percaya ada hukum kausalitas atau yang disebut sebagai sunnatullah.
  4. Melalui akalnya manusia bebas berpikir yang hanya bisa dibatasi oleh ajaran dasar dari al-Qur’an dan Hadits.
  5. Mengambil makna metafor dari nash.

Beberapa ayat al-Qur’an yang sering digunakan oleh pengusung aliran Qadariyah antara lain;

  1. QS. Fusshilat: 40
    “…Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
  2. QS. Al-Ra’du: 11
    “…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Pemahaman Keagamaan Jabariyah

Aliran Jabariyah bisa disebut merupakan kebalikan dari Qadariyah. Jika Qadariyah menonjolkan kiprah atau kuasa manusia dalam perwujudan kemauan dan kehendaknya, maka Jabariyah memiliki paham sebaliknya di mana manusia dipandang tidak memiliki kuasa. Sirajuddin Abbas memaknai Jabariyah sebagai “tidak ada kuasa bagi manusia”. Ada juga yang memaknai Jabariyah dengan keadaan “terpaksa”.

Pandangan-pandangan Jahm ibn Safwan sebagai penyebar Jabariyah antara lain;

  1. Bahwa manusia tidak memiliki daya, kehendak, maupun pilihan,
  2. Syurga dan Neraka tidak kekal,
  3. Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati,
  4. Tidak memberi sifat kemanusiaan kepada Allah SWT.

Harun Nasution menyimpulkan bahwa aliran Jabariyah memiliki ciri-ciri antara lain;

  1. Pemberian porsi yang kecil kepada akal.
  2. Ketidakmampuan manusia dalam kemauan dan perbuatan.
  3. Kebebasan berpikir yang diikat oleh dogma agama.
  4. Tidak mempercayai hukum kausalitas.
  5. Menitikberatkan pada makna literal al-Qur’an.

Meskipun demikian, ada sebagian sejarawan yang menyebutkan bahwa sebagian pengikut Jabariyah memiliki pemahaman yang lebih moderat. Sebutlah misalnya al-Najjar yang menjelaskan bahwa Tuhan memang menciptakan segala perbuatan manusia, akan tetapi manusia memiliki andil atau bagian di dalamnya.

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

  1. Rijlan Hasanuddin says:

    Kalau memperhatikan pola pemikiran mu’tazilah dan qadariyah seakan perbedaan terjadi Krn perkembangan waktu dimana setelah kemunculan mu’tazilah lalu berkembang menjadi qadariyah,gmn kira2 pak?

    • Ass pak, pak misalnya ada kaum qadariyah pada satu waktu mereka memiliki cara berpikir jabariyah, atau sebaliknya, apakah kaum aliran mereka akan marah kepadanya pak? Apakah mereka memperbolekan hal itu atau mereka melarangnya pak?

  2. Nur Zikra Arfani says:

    Ass pak, apakah di aliran jabariyah dan qadariyah juga terdapat sekte-sekte seperti aliran-aliran sebelumnya?

  3. M.Kurdani fauzi says:

    ass pak, kenapa para tokoh seperti sirajuddin abbas memaknai kelompok jabariyah ” tidak ada kuasa bagi manusia ” . dan ” terpaksa ” . apa maksud dari pemikiran beliau?

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!