Uncategorized

QIRA’AT DALAM PERSPEKTIF IGNAZ GOLDZIHER

Ignaz Goldziher lahir pada tanggal 22 Juni 1850 di kota Budapest-Hungaria. Sejak usia 5 tahun, ia sudah terlatih untuk menelaah kitab-kitab klasik seperti kitab Perjanjian Lama agama Yahudi, Hebrew. Pada usia 8 tahun, ia mempelajari kitab Talmud dan pada usia 12 tahun ia telah mampu menerbitkan sebuah karya yang berjudul “The Origins and Classification of the Hebrew Prayer”.[1]

Pada tahun 1874 Goldziher melanjutkan studinya ke Universitas Leipzig,  Jerman. Kemudian Goldziher meraih gelar doktor dari Universitas tersebut ketika berusia 19 tahun. Pada tahun 1875 usia 20 tahun, Goldziher melanjutkan penelitiannya di Universitas Leiden, Belanda, selama 1 tahun. Selanjutnya pada usia 21 tahun, Goldziher pulang ke kampung halamannya dan menjadi dosen privat di Universitas Budapest, Hungaria. Goldziher  juga dipilih sebagai anggota “akademi sains Hungaria”, sebuah penghargaan yang diberikan kepada dirinya. Salah satu karirnya di luar negeri adalah ia pernah menjadi anggota akademi perkumpulan orientalis dan aktif sebagai anggota di Royal Asiatic Society.  Asiatic Socity of Bengal, the British Academy and the American Oriental Society. Pada tahun 1904 Goldziher pun menjadi rektor pada mata kuliah Bahasa Hebrew atau Ibrani. Pengalaman paling berharga selama perjalanan intelektualnya adalah ketika Goldziher mendapat beasiswa dari pemerintah Hungaria untuk belajar di Universitas al-Azhar, Kairo. 10 tahun kemudian, Goldziher tetap meneruskan karirnya menjadi guru besar  bahasa Semit di Universitas Budapest hingga akhir hayatnya, Goldziher meninggal dunia pada 13 November 1921, pada usia 66 tahun.[2]

Diantara kajian utama yang dilakukan Orientalis terhadap al-Qur’an dari aspek qira’atnya adalah mengenai lahirnya keragaman qira’at. Dalam pandangan Goldziher, ia menjelaskan dengan mendetail mengenai penyebab perbedaan qira’at. Ia menyatakan bahwa lahirnya sebagian besar perbedaan (qira’at) tersebut dikembalikan pada karakteristik tulisan Arab itu sendiri yang bentuk huruf tertulisnya dapat menghadirkan (vokal) pembacaan yang berbeda, tergantung pada perbedaan tanda titik yang diletakkan di atas bentuk huruf atau di bawahnya serta berapa jumlah titik tersebut. Dengan demikian, perbedaan karena tidak adanya titik (tanda huruf) pada huruf-huruf resmi dan perbedaan karena harakat yang dihasilkan , disatukan, dan dibentuk dari huruf-huruf yang diam (tidak terbaca), merupakan faktor umum lahirnya perbedaan qira’at dalam teks yang tidak punya titik sama sekali atau yang titiknya kurang jelas”.[3]

Untuk memperkuat gagasannya, ia mengajukan sejumlah contoh. Pertama, perbedaan karena ketiadaan titik pada bentuk huruf tertulis.

ونادى أصحاب الأعراف رجالا يعرفونهم بسيماهم قالوا ماأغنى عنكم جمعكم وما كنتم تستكبرون

Menurutnya, sebagian sarjana (ulama) qira’at membaca lafazh تستكبرون yang tertulis dengan huruf ba’ (dengan satu titik) dengan bacaan تستكثرون, yaitu dengan huruf tsa’ (bertitik tiga). Dan juga terdapat pada surah al-A’raf 57:

وهو الذي ير سل الرياح بشرا بين يدي رحمته

Kataبشرا dibaca dengan huruf nun sebagai ganti dari ba’, sehingga menjadi نشرا.

Kemudian dalam surah an-Nisa 93:

ياأيها الذين أمنوا إذا ضربتم في سبيل الله فتبينوا ولاتقولوا لمن أاقى إليكم السلام لست مؤمنا

Menurut Goldziher, mayoritas sarjana qira’at terpercaya (tsiqat) membaca lafazh فتبينوا dengan lafaz فتثبتوا.[4]

              Kedua, perbedaan karena harakat. Salah satu contohnya yakni terdapat pada QS. Al-Hijr: 8

ما ننزل الملائكة إلا بالحق وما كانوا إذا منظرين

Ia menjelaskan dengan mengikuti perbedaan bacaan diantara imam qira’at pada lafazh yang menunjukan turunnya malaikat, apakah itu نُنزِّل atauتنزل atau  diturunkan تُنزل, maka secara praktis menunjukan bahwa sebuah pengamatan yang obyektif mengenai perbedaan harakat.[5]

Senada dengan Goldziher, Arthur Jeffery berpendapat bahwa kekurangan tanda titik dalam Mushaf Utsmani berarti merupakan peluang bebas bagi pembaca memberi tanda sendiri sesuai dengan konteks makna ayat yang ia pahami.[6]

Membantah pendapat Goldziher mengenai lahirnya qirâ’at, Muhammad Musthofa al-A’zami mengatakan bahwa “ketika perbedaan muncul-hal ini sangat jarang terjadi- maka kedua kerangka bacaan (titik dan syakal) tetap mengacu pada Mushaf ‘Utsmani, dan tiap kelompok dapat menjustifikasi bacaannya atas dasar otoritas mata rantai atau silsilah yang berakhir kepada Nabi Muhammad Saw”.[7]

Menurut Abdul Halim al-Najar, pendapat Goldziher bahwa kemunculan qira’at disebabkan tulisan Arab juga salah besar. Justru itu akan sangat membantu untuk mendalami qira’at-qira’at yang sahih dengan situasinya pada waktu penulisan Mushaf Utsmani. Pedoman utama bukanlah tulisan, karena kalau demikian tulisannya dapat menghadirkan suara (vokal) pembacaan yang berbeda, tergantung pada perbedaan tanda titik yang diletakkan diatas bentuk huruf atau di bawahnya serta berapa jumlah titik tersebut.[8] Selain itu, pendapatnya tentang qira’at dari Surat al-A’raf ayat 48 yang menjadi justifikasi Goldziher di atas sama sekali tidak bisa menjadi pedoman, baik dalam qira’at tujuh atau qira’at empat belas. Menurutnya, dia adalah qira’at yang munkar dan tidak diketahui secara definitif siapa yang membacanya.

Goldziher juga menganggap bahwa di zaman masyarakat Muslim terdahulu, mengubah  sebuah kata dalam ayat Al-Qur’an untuk mencari kesamaan adalah sangat dibolehkan. Ia menjelaskan bahwa Abdullah bin Mas’ud mengganti lafazh pertama pada ayat هدنا لصرا ط المستقيم dengan sinonim lafazh, yaitu  نا لصراط المستقيمارشد. Kedua, Goldziher menyitir sebuah riwayat yang menyebut bahwa Nabi pernah mendiktekan Al-Qur’an dengan lafazh عزيز حكيم, lalu sahabat yakni Abdullah bin Abi Sarah bertanya bolehkah ia menulis dengan  عليمعزيز. Nabi menjawab, “Ya boleh karena semuanya itu betul”.

Abdul Halim an-Najar kembali mengoreksi riwayat-riwayat yang dijadikan sandaran oleh Goldziher dan menyatakan bahwa ini adalah riwayat yang palsu dan tidak punya validitas untuk dinilai, karena kecenderungannya jelas sekali yaitu untuk mencela islam.[9]

Dari kritikan diatas, jelaslah argumen yang dilontarkan oleh Goldziher sama sekali tidak berdasar dan tidak dapat dipertanggung jawabkan. Goldziher keliru lalu menyimpulkan sendiri bahwa teks-teks yang tidak berharakat inilah yang menjadi sumber variasi bacaan dalam al-Qur’an.

Daftar Pustaka

Muin  A. 1978. Orientalis dan Studi Islam. Jakarta:  Bulan Bintang.

Fathurrozi, Moch. 2016. Eksistensi Qira’at al-Qur’an Studi Kritis ata Pemikiran Ignaz Goldziher, Vol. 9, No. 1.

Goldziher, Ignaz. 2010. Madzhab Tafsir: Dari Klasik hingga Modern, trj. M Alaika Salamullah dkk. Yogyakarta: Elsaq Press.

M.M Al-Azami. 2014. Sejarah Teks al-Qur’an dari Wahyu sampai Kompilasi. Jakarta: Gema Insani.


[1] Moh. Fathurrozi, Eksistensi Qira’at al-Qur’an Studi Kritis ata Pemikiran Ignaz Goldziher, Vol. 9, No. 1. Juni 2016, hlm. 126.

[2] A. Muin, Orientalisme dan Studi tentang Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), hlm. 46.

[3]  Ignaz Goldzihe, Mahzab Tafsir: Dari Klasik hingga Modern, terj. Alaika Salamullah, dkk, (Yogyakarta: Kalimedia, 2015), Hlm. 7-8.

[4] Ignaz Goldzihe, Mahzab Tafsir: Dari Klasik hingga Modern, terj. Alaika Salamullah, dkk, (Yogyakarta: Kalimedia, 2015), Hlm. 9-10.

[5] Ignaz Goldzihe, Mahzab Tafsir: Dari Klasik hingga Modern, terj. Alaika Salamullah, dkk, (Yogyakarta: Kalimedia, 2015), Hlm. 13-14.

[6] M.M. Al-A’zami, The History of the Qur’anic Text. hlm. 153

[7] M.M. Al-A’zami, The History of the Qur’anic Text. hlm. 153.

[8] Ignaz Goldzihe, Mahzab Tafsir: Dari Klasik hingga Modern, terj. Alaika Salamullah, dkk, (Yogyakarta: Kalimedia, 2015), Hlm. 8

[9] Ignaz Goldzihe, Mahzab Tafsir: Dari Klasik hingga Modern, terj. Alaika Salamullah, dkk, (Yogyakarta: Kalimedia, 2015), Hlm. 52-54

Misbahul Khairiyah

Misbahul Khairiyah adalah Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN SUnan Kalijaga Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!