BINA RUHANI

RAHASIA KEBAIKAN DI BALIK KESABARAN

Dalam kehidupan manusia di dunia sering kali mengalami bencana seperti kecelakaan, kebakaran, banjir, gempa bumi, dan sebagainya. Dengan musibah tersebut manusia sering jiwanya merasa terpukul, sakit hati, menyesal dan menderita. Al-ghazali dalam kajian tasawufnya mengajarkan agar seorang yang mengalami atau ditimpa musibah untuk bersikap sabar dengan ikhlas menerima ketentuan Allah swt dan tidak kalut dan mengeluh, serta yakin bahwa ada hikmah  dibalik musibah yang dalaminya. Orang yang sabar senantiasa dilandasi semata-mata karena Allâh swt dan ikhlas menerima takdir serta senantiasa berharap ampunan maka akan mendapatkan limpahan karunia-Nya. Dalam hadits Qudsi dinyatakan:

Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan suatu ujian, kemudian bersabar dan tidak mengadu kepada orang-orang yang menengoknya, maka Aku mengganti dagingnya dengan yang lebih baik dari dagingnya, mengganti darahnya dengan yang lebih baik dari darahnya. Apabila Aku menyembuhkannya, Aku menggantinya dan dia tidak memiliki dosa. Dan apabila Aku mewafatkannya, ia  berpulang ke rahmat-Ku.

Al-Ghazâlî menjelaskan, orang yang ditimpa musibah hendaknya tidak melakukan perbuatan yang sia-sia bahkan menyimpang seperti mengerutu, berkeluh kesah, merobek-robek pakaian atau merusak barang milik atau memukul dirinya  sebagai lampiasan kesedihannya. Perbuatan tersebut sesungguhnya menyimpang dari ajaran Islam. Seorang hamba Allah yang menerima musibah  karena Allah swt tidak akan memberikan suatu musibah atau cobaan diluar kemampuannya dan memberikan hikmat atau pelajaran dari musibah yang dialaminya.

Besar kecilnya musibah atau cobaan seorang hamba Allah, sesungguhnya didasarkan kepada bagaimana kita memandang musibah itu. Jika hati kita memandangnya besar maka cobaan tersebut menjadi besar namun jika hati kita memandangnya kecil maka akan terlihat kecil. Karena dibalik cobaan tersebut , kita menyakini ada rahasia Allah swt buat diri kita yang kita yakini baik buat kita.

Seorang yang diuji dengan sakit dapat melakukan evaluasi terhadap kehidupannya ketika dia sedang sehat, sudahkan dia menjalanakan perintah dan larangan Allah swt dengan baik. Seorang yang diuji dengan musibah kehilangan hartanya seperti uang , rumah , mobil atau sebagainya dapat mengevaluasi apakah dia sudah sering bersedeqah , suka menolong orang yang lemah dan miskin dan menyadari bahwa harta di dunia pada akhirnya akan meninggalkannya.

Seorang yang diuji dengan kematian istri, anak atau keluarganya hendaknya menyadari bahwa sesungguhnya setiap yang hidup akan meninggal dan menghadap Allah swt untuk  mempertanggungjawabkan segala perbuatannya  maka dia harus menyadari bahwa pada akhirnya diripun akan meninggal dan harus mempertanggungjawabkan perbuatan selama hidupnya didunia maka dia segera memohon ampun kepada allah swt ata perubuatan dosa yang telah dilakukan dan mempersiapakan dirinya untuk menghadap allah swt dengan melakukan amal sholeh sebanyak mungkin. Maka musibah pada hakikatnya dapat menjadi nikmat jika setiap hamba Allah mampu bersabar dan mengambil hikmah dari musibah tersebut dan senatiasa bersabar. Dengan demikian dia akan meraih maqâm sabar.

Menurut al-Ghazâlî membentuk tingkat kesabaran ditentukan oleh tingkat  pengetahuan dan ketaqwaannya. Dan sabar yang termuat dalam al- Qur`ân terdiri dari tiga tingkat: sabar dalam menjalankan perintah, sabar dalam meninggalkan larangan, sabar dalam menghadapi musibah tatkala awal menimpa. Artinya kesabaran bukan hanya pada saat menerima musibah saja namun ketika seorang hamba menjalankan perintah-perintah Allah dibutuhkan kesabaran agar ia dapat istiqomah dalam ketaatan dalam menjalankan perintah, demikian pula sabar dalam meninggalkan perbuatan dosa atau kemungkaran. Oleh karena agar dapat mencapainya, seorang hamba Allah harus senatiasa meningkatkan pemahaman agamanya khususnya makna sabar dan ketaqwaanya kepada Allah swt.

Abdullah Syahab

Dosen UIN Raden Fatah Palembang dan Pelaku Bisnis Syari'ah

Related Posts

  1. agus nurman says:

    “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (al baqarah: 29)
    .. nmun, apkah smua yg dciptakn itu merupkan kbebasan dan hak mutlak mnusia dalm brbuat? tidak kan. kita lihat sudah berapa bnyak kerusakn yg telah kita lakukn shngga bukan hnya mnusia yg rugi nmun seluruh mkhluk yg ada dsiktar kita.
    dlm al quran telh djlskn bhwa kita lh yg disebut sebgai prusak, mka jngn heran jika musibah dn bncna alam dtng slih brgnti.. ingat lh kwan, jngan prnah mengatakan msalah dan musibah sya besar nmun ktaknlah bhwa Allah maha besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!