GAGASAN PENULIS

RASA KEPEMILIKAN DAN PEMBELAAN ATAS AGAMA

Agama sebagai Seperangkat Ajaran dari Tuhan yang akan mati dan hilang ketika tidak ada lagi manusia yang menjalankannya. Maka menjadi sangat mungkin manakala ada pengusung, pembela, dan pelestari agama. Kita jangan membual bahwa agama bisa hidup begitu saja tanpa adanya orang-orang yang merasa memilikinya dan keinginan untuk melestarikan ajaran di dalamnya. Dalam ranah kepemilikan ini – menurut saya – tensi pemeluk agama harus dikurangi, tetapi apakah hal itu mungkin? Semata-mata menyuruh orang untuk melaksanakan ajaran agama dan tidak usah membawa-bawa agama ke ranah politik atau masyarakat, rasanya kok tidak mungkin.

Agama – disadari atau tidak – menanamkan rasa kepemilikan kepada pemeluknya. Setiap saat mereka melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangan agama, sedangkan agama memuat aturan-aturan kehidupan. Apakah mungkin ketika para pemeluk agama melihat kekeliruan atau kemungkaran di tengah-tengah mereka kemudian mereka hanya diam saja? Jelas tidak. Jika Kita anti atau alergi terhadap orang-orang yang berusaha konsisten terhadap agamanya di dalam kehidupan sehari-harinya, saya rasa kita yang sedang dalam masalah. Bahwa ada pemeluk agama yang secara bersemangat berkeinginan mewarnai kehidupannya dengan agama yang dia anut, hal itu wajar saja, ataupun ketika sekelompok pemeluk agama memperingatkan adanya pelanggaran terhadap nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial, maka hal itu tidak perlu dipersoalkan, karena hal itu merupakan gejala keberagamaan yang normal.

Walau bagaimanapun, penyaluran aspirasi moral agama dalam merespon fenomena sosial yang dinilai melanggar agama, harus dilakukan secara santun. Karena jika pemeluk agama gagal menjaga kesantunan dan mengedepankan kebaikan, maka mereka dapat keluar dari esensi agama sebagai seperangkat ajaran yang menganjurkan kebaikan.

Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa agama – seandainya ia bisa berbicara – tidak ingin dibela dengan cara-cara yang mungkar atau justru mendatangkan kerusakan baru. Agama hanya menuntut manusia dapat membangun hidupnya dengan baik, membangun kedamaian, mengupayakan keselamatan bagi diri dan seluruh eksistensi di luar diri.

Badarussyamsi

Pendiri Website Kajian Pemikiran Islam. Dosen IAIN STS Jambi dan Analis Masalah Sosial Keagamaan

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!