BINA RUHANI

REVOLUSI SPIRITUAL DEMI MENEMPATKAN KEMBALI TUHAN DALAM KEHIDUPAN

Revolusi spiritual dimulai dari adanya ketimpangan spiritual yang menimpa orang banyak dan disadarkan oleh beberapa orang diantara orang banyak. Revolusi spiritual mencoba mengingatkan manusia agar tidak mempunyai keyakinan yang hanya didasarkan pada keturunan, sebab pernikahan, atau keterpaksaan yang lain, tetapi harus didasarkan pada penggunaan akal dan fikiran jernih dalam memilih keyakinan serta bersedia mempertanggungjawabkan resikonya, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Persoalan besar yang muncul di tengah-tengah umat manusia sekarang ini adalah krisis spiritual. Pertanyaan penting yang patut diajukan adalah mengapa ajaran moral dan religiusitas individual gagal menjamin lahirnya pejabat yang berintegritas?

Moral merupakan operasionalisasi dari sikap dan pribadi seseorang yang beragama. Mengapa pula kejujuran dan keberanian pribadi seorang pejabat tidak cukup untuk membendung banalitas korupsi sekaligus memastikan perubahan sosial yang berintikan keadilan, kemajuan dan kesejahteraan?  Menurut Prof. DR. Miftah Thoha, MPA dalam bukunya Birokrasi dan Politik di Indonesia, selama ini moral selalu dikesampingkan dan tidak menjadi perhatian yang seksama dalam birokrasi pemerintah, hanya digunakan sebagai pelengkap permainan sumpah jabatan yang memuat perintah yang bersumber dari moral. Akan tetapi setelah sumpah diucapkan dan pejabat birokrasi pemerintah mulai memangku jabatannya, sumpah tersebut mudah untuk dilupakan. Sumpah tidak akan menerima apa pun dari seseorang yang ditenggarai ada hubungan dengan jabatan atau pekerjaannya mudah sekali untuk dilupakan oleh pejabat birokrasi pemerintah.

Di dalam revolusi spiritual yang hendak dicapai adalah kebenaran mutlak bernegara  yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, dan menemukan kebenaran mutlak yang ditegaskan dalam dasar negara, Pancasila. Dalam revolusi spiritual, para ulama dari seluruh agama yang ada di negeri ini harus dan tak pernah berhenti mencerahkan jiwa dan pikiran umat beragama dengan menyampaikan bukti kebenaran mutlak yang disampaikan kitab suci masing-masing.  Kebenaran mutlak yang disampaikan kitab-kitab suci agama memang berbeda-beda tetapi tidak bertentangan. Karena setiap kitab suci merupakan tuntunan hidup bersama yang indah, damai dan meyenangkan di alam kehidupan yang nyata. Dalam revolusi spiritual, bangsa Indonesia selama ini menyaksikan bahwa seluruh umat beragama di seluruh dunia sudah sejak puluhan abad silam terpecah-pecah dalam berbagai mahzab. Ini sama sekali bukan kesalahan agama melainkan karena keliru menafsirkan ayat-ayat kitab sucinya. Di dalam Islam sendiri, pemahaman terhadap nilai-nilai spiritual memang masih banyak diwarnai perbedaan, di mana masing-masing pihak berkeyakinan bahwa metode dan ritual yang mereka lakukan adalah salah satu upaya meningkatkan kualitas spiritual.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dominasi rasionalisme, empirisme dan postitivisme ternyata membawa manusia pada kehidupan modern dimana sekularisme menjadi mentalitas zaman. Munculnya berbagai krisis manusia modern sesungguhnya bersumber pada masalah makna. Modernisasi dengan kemajuan teknologi dan pesatnya industrialisasi dapat menciptakan manusia meraih kehidupan dengan perubahan yang luar biasa. Namun, seiring dengan logika dan orientasi modern, kerja dan materi lantas menjadi aktualisasi kehidupan masyarakat dan gagasan tentang makna hidup terhancurkan. Implikasinya, manusia kemudian menjadi bagian mesin mati. Masyarakat lantas tergiring pada proses penyamaan diri dengan segala materi serta pendalaman keterbelakangan mentalitas. Manusia semakin terbawa arus deras desakralisasi, dehumanisasi karena ia selalu disibukkan oleh pergulatan tentang subyek positif dan hal yang empiris. Memang disatu sisi, modernitas menghadirkan dampak positif dalam hampir seluruh konstruk kehidupan manusia. Namun pada sisi lain juga tidak dapat ditampik bahwa modernitas punya sisi gelap yang menimbulkan akses negatif yang sangat bias.

Dampak paling krusial dari modernitas adalah terpinggirkannya manusia dari lingkar eksistensi. Manusia modern melihat segala sesuatu hanya berdasarkan pada sudut pandang pinggiran eksistensi. Sementara pandangan tentang spiritual atau pusat spiritualitas dirinya terpinggirkan. Maka, meskipun secara material manusia mengalami kemajuan yang spektakuler secara kuantitatif, namun secara kualitatif dan keseluruhan tujuan hidupnya, manusia mengalami krisis yang sangat menyedihkan. Demikianlah, masyarakat modern adalah sekelompok manusia yang hidup dalam kebersamaan yang saling mempengaruhi dan saling terkait dengan norma-norma serta sebagian besar anggotanya mempunyai orientasi nilai budaya untuk menuju kehidupan yang lebih maju. Seperti sebuah ideologi dan teori ilmiah, Tuhan pun seringkali dipakai sebagai topeng bagi sebuah kerakusan kepentingan kekuasaan hedonis yang kadang meninabobokan rakyat, namun bisa juga bagai sebuah aksi kemanusiaan yang luar biasa di luar batas-batas rasional materialistic. Orang pun bisa mengorbankan kepentingan diri, keluarga dan golongannya didalam suatu kefakiran atau kefanaan bagi sebuah kehidupan ideal yang membuat manusia dengan beragam bangsa dan kepemelukan agama atau tanpa keagamaan sekalipun menikmati kebahagian dan diperlakukan manusiawi. Akhirnya, terpulang kepada penganut setiap agama tentang apa yang sebenar-benarnya yang dicari dan untuk apa setelah pencarian itu terpenuhi.

Islam sebagai panduan hidup manusia, telah memberikan jalan keluar bagi kepincangan  dan ketidak harmonisan kehidupan manusia. Solusi yang diberikan oleh Islam adalah keseimbangan (I’tidal) antara pembangunan jasmani dan pembangunan rohani, antara keperluan material dan keperluan spiritual. Dengan menyerahkan dan melandaskan segala sesuatu kepada nilai-nilai Ilahiah, bukan berarti potensi manusia sebagai makhluk dengan berbagai kelebihan akan dimatikan. Karena dengan menjadikan nilai-nilai ilahiah sebagai sebuah pijakan, manusia akan diajak untuk lebih universal di dalam menentukan berbagai hal yang menyangkut kehidupan. Karena sebagai sebuah agama, Islam tidak hanya agama yang mengatur tata cara beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, melainkan agama yang penuh dengan nilai-nilai sosial, politik bahkan agama yang mengajarkan bagaimana humanisme sesungguhnya. Semoga dengan adanya Aksi Bela Islam yang terjadi kemarin, memberikan sinyal-sinyal kebangkitan revolusi spiritual demi menempatkan kembali Tuhan dalam kehidupan manusia modern, Amin.

Yulfi Alfikri

Dosen Agama Islam pada STITAD AL-Azhar Jambi

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!