BIOGRAFI TOKOH

RIWAYAT HIDUP IMAM SYAFI’I

ridwanBy: Mohammad Ridwan
Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits pada Fakultas Ushuluddin
IAIN STS Jambi

[toc title=”Daftar Isi:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Kelahiran

Imam Safi’i dilahirkan di Gaza, Palestina. Desa gaza ini berdekatan dengan sebuah kota yang dikenal sebagai ‘Asqalan. Imam Syafi’i lahir pada tahun 150 H, bertepatan dengan wafatnya ulama besar yang terkenal yaitu imam Abu Hanifah (pengagas Mazhab Hanafi). Imam Syafi’i berketurunan Quraisy dari jalur keturunan ayahnya. Nama lengkap imam Syafi’i ialah Muhammad bin Idris bin Al-‘Abbas bin Usman bin Syafi’i bin Al-Sa’ib bin ‘Ubaid bin Abd Yazid bin Hasyim bin Abdul Muttalib bin Abd Manaf. Sedangkan ibu Imam Syafi’i berasal dari keturunan Al-Azd. Dia juga seorang yatim dan fakir  setelah ayahnya  meninggal di waktu dia masih kecil, tetapi demikian itu tidak melemahkan semangatnya untuk menghadapi kehidupan yang dijalaninya setelah Allah memberinya taufik untuk menempuh jalan yang benar.

Mempelajari Fiqh

Beliau mulai mempelajari Ilmu Fiqh ketika ia sedang berjalan untuk mempelajari ilmu nahwu dan kesusateraan Arab, tiba-tiba ia bertemu dengan Muslim bin Khalid Az-Zanji. Ia bertanya: “Wahai anak muda, kamu berasal dari keturunan mana?”. “Dari keturunan orang Mekah,” Jawab Imam Syafi’i. “Dari kabilah apa?”, tanya Az-Zanji lagi. “Kabilah Abd Manaf,” jawab Syafi’i. Lalu Az-Zanji pun berkata: “Khai-khair, Sungguh Allah memuliakanmu di dunia dan akhirat. Andaikan kamu gunakan kecerdasanmu untuk mempelajari fiqh, maka hal itu lebih baik bagimu.”

Peristiwa tersebut telah mendorong imam Syafi’i menekuni ilmu Fiqh dengan sungguh-sungguh. Adapun guru-guru imam Syafi’i menurut imam Fakhr al-Razi sangatlah banyak. “Kami hanya menyebutkan guru-gurunya yang termasyhur saja. Dari kalangan mereka ada yang pandai dalam bidang Fiqh dan fatwa yang berjumlah 19 orang; di antaranya 5 orang berasal dari Mekah, 6 orang berasal dari Madinah, 4 orang berasal dari Yaman dan 4 orang berasal dari Irak.

Guru-guru Imam Syafi’i

Guru-guru Imam Syafi’i dari Mekah:

  • Sufyan bin ‘Uyainah
  • Muslim bin Khalid Az-Zanji
  • Sa’id bin Salim Al-Qaddah
  • Daud bin Abd Rahman Al-Aththar
  • Abd Majid bin Abdul Aziz bin Abu Daud

Guru-guru Imam Syafi’i dari Madinah:

  • Malik bin Anas
  • Ibrahim bin Sa’ad
  • Abd Aziz Muhammad
  • Ibrahim bin Yahya Al-Aslami
  • Muhammad bin Sa’id
  • Abdullah bin Nafi’ ash-Shaigh

Guru-guru Imam Syafi’i dari Yaman:

  • Muthraf bin Mazin
  • Hisyam bin Yusuf
  • Umar bin Abi Salamah
  • Yahya bin Hasan

Guru-guru Imam Syafi’i dari Iraq:

  • Waqi’ bin Al-Jarrah
  • Abu Usamah Hamad bin Usamah
  • Ismail bin ‘Aliah
  • Abdul Wahab bin Abdul Majid

Berguru ke Imam Malik

Setelah mempelajari ilmu bahasa dan kesusasteraan, Imam Al-Syafi’i mendapat kabar tentang kelebihan dan keunggulan  Imam Malik, ia pun bergegas menuju ke Madinah untuk menemui Imam Malik dan berguru kepadanya untuk belajar  Ilmu Hadis dan Fiqh. Setelah  sekian lama ia belajar, Imam Syafi’i pun mulai  menyadari bahwa dia perlu bekerja untuk masa depannya dan membiayai keluarganya. Iapun mulai bekerja sebagai pegawai di negeri Yaman. Tetapi, sebagian orang di sana tidak senang dengannya mereka menuduh Imam Syafi’i sebagi golongan Syi’ah.

Imam al-Syafi’i kemudian dibawa ke Iraq untuk dihukum di hadapan Khalifah Harun Al-Rasyid, akan tetapi dengan pertolongan dan karunia Allah, dengan kelebihan yang dimilikinya iapun selamat dan terbebas dari hukuman yang mematikan itu, iapun kembali ke negeri asalnya ke Mekah dan mengajar di sana.

Mengenalkan Fiqh ke Iraq

Setelah sekian lama di Mekah beliaupun berhasrat menuju ke Iraq untuk memperkenalkan Fiqh barunya, sesampai di sana dia disambut dengan gembira oleh masyarakat Iraq, mereka meminta agar Imam Al-Syafi’i mengajarkan Fiqhnya. Di sana beliau juga sempat menerbitkan karya nya yang berjudul Al-Hujjah. Selain mahir dengan Ilmu Fiqh dan Hadis, Imam Al-Syafi’i juga terkenal dengan rangkaian kata-katanya yang menarik salah satunya ialah “Aku mampu berhujjah dengan 10 orang yang berilmu tetapi aku pasti kalah dengan satu orang yang jahil, karena orang yang jahil itu tidak pernah paham landasan Ilmu”.

Mengatur Waktu Sehari-hari

Imam Syafi’i juga memiliki beberapa keunikan di dalam diri beliau sebagimana dikatakan di dalam kitab yang terkenal yang berjudul  Ringkasan Ihya’ Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali, Ar-Rabi’ berkata bahwa al-Syafi’i menghatamkan al-Qur’an di Bulan Ramadhan sebanyak 60 kali. Semuanya itu di saat beliau sedang mengerjakan sholat. Dia juga termasuk seorang ahli ibadah yang membagi waktunya menjadi tiga bagian. Sepertiga untuk ilmu, sepertiga untuk shalat, sepertiga untuk tidur.

Mohammad Ridwan

Mahasiswa IAIN STS Jambi dan Penulis Aktif Bidang Keagamaan

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!