SASTRA DALAM KAJIAN MARXISME

Teori Marxis merupakan salah satu teori yang banyak mendapatkan sorotan dari pengkaji sastra ketika ingin mendekati sebuah karya dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Secara historis, teori Marxis berakar bahkan mendasarkan landasannya pada doktrin Manifesto Komunis Manifest der Kommunistischen Partei –sebuah dokumen yang kemudian menjadi sangat berpengaruh terhadap sejarah manusia. Manifesto Komunis ditulis dan disusun oleh Karl Marx dan Friedrich Engels pada tahun 1848, yang menyatakan bahwa produksi ekonomi telah membentuk dan menentukan sejarah manusia beserta institusi-institusinya.

Bagi Damono dokumen yang dikenal dengan Manifesto Komunis tersebut tidak lain merupakan sebuah ringkasan –titik klimak- paham materialisme yang telah ada sebelumnya, dalam dokumen tersebut Marx dan Engels menyatakan bahwa sejarah sosial manusia adalah sejarah perjuangan kelas, dimana sejarah itu sendiri memiliki pola-pola perkembangan zaman seperti feodalisme, kapitalisme, kemudian disusul oleh sosialisme yang didalam setiap pola tersebut mengandung karakteristik cara produksi –ekonomi- dan struktur kelas. Struktur kelas-kelas ekonomi –yang ada dalam setiap zaman- selalu bersitegang, bersaing, bahkan mengalahkan satu sama lain untuk mendapatkan dan memperebutkan kedudukan sosial ekonomi dan status politik. Kehidupan intelektual, agama, kebudayaan, bahkan seni –kesusastraan- terkena imbas dari struktur dan perjuangan kelas tersebut.

Manifesto Komunis Marx dan Engels tidak secara khusus membicarakan seni –kesusastraan-, pandangan Marx dan Engels mengenai peran seni –sastra- dalam masyarakat terlihat dari beberapa karangan dan surat yang ditulis sendiri-sendiri yang kemudian dikumpulkan menjadi bunga rampai. Ceceran pandangan Marx dan Engels dalam bunga rampai itu membicarakan sastra dalam hubungannya dengan masyarakat terutama yang berhubungan dengan faktor-faktor ekonomi dan peranan penting yang dimainkan oleh kelas sosial. Inti pemikiran main idea Marx dan Engels mengerucut pada dua tema issue besar yaitu pengaruh sosial ideologi dan pembagian kerja.

Bagi Marx dan Engels, ideologi tidak lain lahir dari keadaan sosial yang melingkupinya, ideologi terefleksi dalam pemikiran-pemikiran yang bersifat filosofis, ekonomis atau historis yang menampilkan dan selalu berkaitan dengan posisi sosial –kelas- pengarangnya, dalam perspektif Marx dan Engels disebut pandangan dunia sepihak. Dalam hal pembagian kerja, Marx dan Engles menilai pembagian kerja tersebut menduduki posisi penting dalam kehidupan sosial dengan pertimbangan bahwa adanya perkembangan perdagangan dan indsutri yang mampu menggeser seorang individu atau sekelompok sosial dari produksi yang bersifat materil kepada produksi mental phychic. Secara tidak langsung hal ini mengindikasikan bahwa dalam kekuasaan ekonomi kapitalisme posisi sastra bergeser, sastra dianggap dan diperlakukan sebagai barang industri.

Pandangan yang menyatakan bahwa sastra sebagai gambaran atau cermin kenyataan didefinisikan Marx sebagai cermin fungsi sosial uang –sebagai simbol pengontrol dan pembentuk esensi sosial manusia, sekaligus sebagai simbol ketidakberdayaan manusia yang menghadapi dirinya dan masyarakat. Bahwa Marx hanya melihat sastra dan kenyataan –masyarakat- sebatas hubungan kausalitas semata, pandangan ini tentu saja memperkosa hakikat karya sastra itu sendiri dan membiarkannya telanjang dalam kerumunan setelah puas merenggut mahkota yang terdapat dalam sastra. Engels menanggapi pandangan sastra sebagai cermin karena baginya cermin tersebut diartikan sebagai pemantul proses sosial, dimana muatan sastra lebih kaya dan samar daripada muatan politik dan ekonomi.

Beberapa metode pendekatan lain yang berkembang dalam teori Marxisme ini adalah yang dikemukakan oleh Georgei Plekanov yang melihat sastra dimulai ketika manusia menyadari perasaan dan gagasan yang muncul dalam dirinya –sebagai pengaruh dari kenyataan yang melingkupinya, karena manusia mampu membedakan yang baik dan yang buruk itu bermakna bahwa manusia adalah makhluk estetis. Dasar argumentasi Plekanov ini berasal dari estetika idealistik Immanuel Kant yang mengatakan bahwa yang indah hanya dapat dinikmati dan dinilai oleh perasaan emosional tanpa pamrih karena dapat menikmati karya sastra demi kenikmatan itu sendiri. Kendatipun demikian Plekanov tetap mengatakan bahwa sastra berada dan terikat pada alat-alat produksi dan hubungan hak milik dengan kalimat lain Plekanov masih percaya bahwa sastra adalah akibat kerja.

Lenin dipandang sebagai peletak dasar teori sastra Marxis, Lenin mengatakan bahwa sastra harus menjadi bagian kecil dalam mekanisme sosial oleh karenanya sastra harus menjadi bagian dari perjuangan kaum proletar. Dengan demikian bahwa sastra harus menjadi alat, propaganda, dan monitor tentunya hal menyiratkan secara tidak langsung Lenin menyatakan dan setuju bahwa seni untuk seni harus dihancurkan.

Pendekatan lain yang juga digunakan untuk mengkaji sastra dalam kaitanya dengan pandangan Marxis adalah pandangan George Lukacs. Dalam nada yang sama dengan Plekanov, Lukacs mengatakan bahwa sastra terikat dengan kelas dan sebuah sastra besar canon tidak mungkin lahir di bawah dominasi borjuis. Keterpengaruhan Plekanov terhadap Lukacs tampak dalam pemikirannya yaitu bahwa sastra memiliki hubungan dengan struktur  kelas dengan kalimat yang lebih tegas Lukacs mengatakan bahwa ketika pengarang menggabungkan diri dan menyatu dengan kaum borjuis –penguasa- maka hanya mampu mencerminkan keruntuhan kelas.

Dalam nada yang berbeda pendekatan Marxisme terhadap sastra terlihat dari pemikiran Bertold Brecht. Brecht mengatakan bahwa sastra harus memiliki tujuan untuk merubah masyarakat –kenyataan, tentu pendapat Brecht ini berbeda dengan pendapat Marx, Engels, Plekanov, Lenin bahkan Lukacs yang mengatakan bahwa sastra sebagai cermin masyarakat –kenyataan. Dalam kaitan ini, Brecht memberikan menekankan peranan pembaca dan memberi porsi yang besar untuk mempersilakan memilih pemecahan. Bahwa pandangan tokoh-tokoh sebelum Brecht lebih menekankan pada sudut kepengarangan, Brecht lebih kepada pembaca audience.

Selama ini kajian teori Marxis dalam mengkaji sastra masih kuat dibumbui oleh muatan-muatan di luar sastra, seperti politik, ekonomi, sosial dengan pendekatan yang rigid seolah-olah sastra bukanlah karya imajinatif tetapi lebih menganggap sastra sebagai dokumen konkret yang tentu saja ini bertentangan dengan hakikat karya sastra. Kendatipun demikian bahwa pemikiran yang dilahirkan dari rahim Marxisme ini telah menyumbangkan corak dalam kajian sastra sehingga lebih beragam dan variatif serta tentu saja dunia kesusastraan patut berterima kasih atas sumbangan tersebut, wujud dari tanda terima kasih itu adalah dengan menjadikan Marxisme sebagai salah satu teori dalam kajian sastra.

Be the first to comment

Leave a Reply