AL-QUR'AN DAN HADITS

SEDEKAH SEBAGAI TIRAI PENGHALANG API NERAKA

Bersedekah pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan yang mendatangkan kebaikan. Makna  sedekah tidak hanya terbatas pada kegiatan memberikan materi kepada orang yang membutuhkan sebagaimana pengertian infaq. Makna sedekah lebih luas daripada makna infaq, dimana sedekah  mengandung makna sebagai setiap kebaikan yang mendatangkan keridhaan Allah. Dalam Kitab Shahih Muslim ditemukan beberapa hadits yang mengandung pengertian sedekah, antara lain:

                                                                                                                                                                                      عن سعيد بن ابى شيبة: عن انبي صلىالله عليه وسلم قال: كل معروف صدقة

Diriwayatkan dari Ibnu Abu Syaibah dari nabi s.a.w. beliau bersabda, “Setiap kebaikan adalah sedekah”, artinya apapun yang mendatangkan ridla Allah, maka pahalanya seperti pahala sedekah;

عن سعيد بن ابى بردة : عن ابيه, عن جده, عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: على كل مسلم صدقة. قيل ارايت ان لم يجد ؟ قال : يعتمل بيد يه فينفع نفسه, ويتصدق. قال قيل : ارايت ان لم يستطيع ؟
قال : يعين ذا الحاجة الملهوفز قال قيلله: ارايت ان لم يستطيع؟ قال يامر بالمعروف او الخير ٌال : ارايت ان لم يفعل ؟ قال: يمسك عن الشر فانها صدق

Dari Sa’id bin Abi Burdah, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi s.a.w. beliau bersabda, “Pada setiap Muslim terdapat sedekah”, kemudian ada ditanyakan “Apa pendapatmu jika dia tidak menemukan”? (sesuatu untuk bersedekah). Rasulullah bersabda, “Dia bekerja dengan kedua tangannya, sehingga dia dapat memberi manfaat dirinya dan bersedekah”, ditanyakan pula, “Apa pendapatmu jika dia tidak mampu? Rasulullah s.a.w. bersabda, “Dia bisa membantu orang yang membutuhkan pertolongan”. Ditanyakan lagi, “Apa pendapatmu jika dia tidak sanggup? Rasulullah bersabda “Dia bisa memerintahkan kebaikan”, masih ditanyakan pula apa pendapatmu? Jika dia tidak melakukannya? Rasulullah bersabda, “Dia dapat menahan diri dari berbuat jelek, itu adalah sedekah.”

Dari kandungan hadits tersebut jelas menunjukkan bahwa yang disebut sedekah adalah segala bentuk perbuatan apa saja yang mengandung kebajikan, atau perbuatan ma’ruf. Sesuatu yang ma’ruf tidak akan terwujud kecuali dengan tiga hal yaitu; menganggap kecil terhadap sedekah yang telah dilakukan, menyegerakan dan merahasiakannya. Menurut Abu Hamid al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin bahwa dalam sedekah harus memilih yang terbaik, yang paling dicintai dan paling halal, karena Allah Maha Baik tidak menerima kecuali yang baik. Jadi sedekah haruslah bertujuan mendapat ridla Allah, baik yang berupa materi maupun non-materi, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Karena itu sedekah dapat dilakukan oleh siapa saja baik oleh orang kaya maupun orang miskin.

Dalam Kitab Sunan an-Nasa’i disebutkan sebuah hadits keutamaan sedekah;

عن عدى بن حاتم قال سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول : من استطاع منكم ان يستتر من النار ولو بشق تمرة فليفعل

Dari Adi bin Hatim, beliau berkata: Aku mendengar Nabi s.a.w. bersabda; “Barang siapa di antara kalian sanggup membuat tirai (penghalang) dari neraka meskipun hanya dengan separoh korma, maka dia hendaklah lakukan”.

Menurut Maulana Muhammad Ali, kandungan hadits tersebut menunjukkan bahwa sedekah merupakan perintah yang sangat penting sekali, sehingga setiap orang harus melaksanakannya meskipun sesuai dengan kadar kemampuannya. Begitu pentingnya, sehingga perintah sedekah tidak hanya tercantum dalam hadits, namun al-Qur’an juga berulangkali menekankan. Sebagai contoh dalam Q.S. 2 ayat 2-5 yang menerangkan tentang ajaran pokok agama Islam, dan ayat tersebut menjelaskan setelah beriman kepada yang ghaib, segera disusul dengan perintah menjalankan shalat, kemudian berbuat baik kepada sesama manusia. Beriman kepada yang maha ghaib adalah titik tolak kemajuan rohani, tetapi ini tidak akan membawa kebaikan jika tidak diikuti dengan langkah berikutnya, yaitu berhubungan dengan Allah dengan jalan shalat. Inipun tidak akan ada gunanya, jika tidak mendatangkan perbuatan murah hati terhadap sesama manusia berupa sedekah.

Sedekah mempunyai banyak keutamaan. Salah satu keutamaan sedekah adalah mendatangkan rasa bahagia dan menghilangkan kesusahan sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. 2 ayat 261- 262. Sedekah juga merupakan amalan yang pahalanya mengalir sepanjang masa sebagaimana sebuah hadits dalam Kitab Sunan an-Nasa’i menyatakan, “Jika anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali yang tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang saleh yang mendoakan kedua orang tua”. Dalam teks hadits lain pada Kitab Shahih Muslim juga dikemukakan bahwa “Barang siapa menginfakkan sepasang (unta) dalam perjuangan di jalan Allah, maka para penjaga sorga akan memanggilnya. Setiap penjaga pintu berkata, “Hai fulan, kemarilah”, Abu Bakar berkata “Ya Rasulullah, itulah orang yang tidak mengalami kerusakan”, Rasulullah bersabda, “Sungguh aku berharap engkau termasuk di antara mereka”.

Sebagai lawan dari aktivitas sedekah adalah perbuatan kikir. Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa sifat kikir akan membawa manusia kepada celaka, sebagaimana dijelaskan dalam Surat al- Ma’un ayat 4-7 bahwa celakalah bagi orang yang shalat, yang lalai dalam shalatnya dan yang ingin agar perbuatannya dilihat orang dan mereka enggan mengeluarkan sedekah. Dalam Q.S. Ali Imran ayat 180 juga di sampaikan bahwa orang yang kikir akan dikalungkan hartanya pada hari kiamat.

Ermawati

Dosen Tafsir Hadits pada Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!