PEMBAHARUAN ISLAM

SEJARAH PEMBAHARUAN ISLAM DI TURKI

Realitas historis mencatat bahwa kesadaran akan perlunya suatu pembaharuan atau modernisasi di dunia Islam-termasuk Turki, sedikit banyak merupakan dampak dari adanya revolusi industri yang terjadi di Eropa pada abad ke- 18. Revolusi Industri telah membawa suatu perubahan radikal dalam cara penanganan industri dan menyebabkan terjadinya perombakan besar di bidang kehidupan sosisal dan budaya masyarakat. Hal ini mendorong para penguasa dinasti Usmani untuk mengadakan reformasi dengan tujuan agar bisa bersaing dengan negeri-negeri Eropa Barat. Desakan untuk melakukan pembaharuan itu semakin kuat ketika para Sultan dan birokrat Usmani yang mendapat dukungan dari ulama tradisional mendapat sorotan tajam dari para pelopor gerakan pembaharuan di Timur Tengah, yang dipelopori oleh Sayyid Djamaluddin Al- Afghani dan Syeikh Muharnmad Abduh.

Secara geografis, negeri Turki dekat dengan pusat reformasi itu terjadi (Eropa Barat), perkembangan Eropa yang begitu pesat telah menantang para penguasa Usmani untuk melakukan pembaharuan di negerinya. Sultan Salim III (1789-1807) sebagai penguasa dinasti Usmani saat itu melihat kemajuan Eropa Barat ini sebagai sesuatu yang mempesona dan sekaligus yang mengkhawatirkan dunia Islam secara umum. Diantara pesona yang mengagumkan tersebut adalah karena Eropa Barat yang pernah kalah dalarn perang Salib melawan Islam, dalam tempo yang relatif singkat berhasil membangun negerinya secara pesat. Di sisi lain terdapat kekhawatiran karena kemajuan dunia Barat tersebut berarti ancaman bagi stabilitas Turki Usmani. Oleh karena itu Sultan Salim segera melakukan usaha-usaha pembaharuan bagi negerinya. Langkah pembaharuan yang pertama dan menjadi perhatian utama adalah pembenahan bidang militer dan sistem birokrasi. Dalam melakukan pembaharuan la berusaha untuk tidak mencontoh Eropa, melainkan tetap mengikuti jalur tradisional dengan mengintegrasikan konsep-konsep Islami. Usahanya gagal kareria mendapat tantangan dari kelompok Jannissary, yakni kelompok militer yang sudah mapan.

Kegagalan Salim III hendak ditebus oleh penggantinya, Sultan Mahmud II (1808-1839) yang mencoba membangun sistem kemiliteran dan administrasi dengan mencontoh Eropa Barat. Meskipun la berhasil melumpuhkan perlawanan kelompok Jannissary yang menentangnya, pembaharuan yang dilakukannya tetap gagal karena mendapat tantangan dari ulama yang tidak setuju pembaharuan pro Barat serta kritikan kaum intelektual yang merasa kebebasan berpikir dan ruang geraknya dibatasi oleh Sultan. Kegagalan Sultan Mahmud ini menyebabkan kedudukannya dan citra Turki makin merosot dirnata negara tetangganya, Eropa Barat, sehingga sampai mendapat predikat sebagai “the sick man of Europe” atau orang sakit Eropa.

Setelah kegagalan yang dialami oleh Sultan Mahmud, negeri ini kembali dipimpin oleh Sultan Abdul Madjid (1839-1861), Sultan ini mencoba melanjutkan langkah-­langkah pembaharuan yang dirintis oleh Sultan Mahmud. la melancarkan program yang kemudian disebut Tanzimat dengan ide-ide dasar yang diilhami oleh semangat Westernisasi dan demokrasi ala Barat dan Eropah namum tetap mengintegrasikannya dengan unsur-unsur keislaman. Secara umum program tanzimat berusaha mewujudkan suatu sistim hukum yang menjamin kebebasan dan persamaan bagi segenap rakyat, berusaha mewujudkan suatu negara modem, mengusahakan kemajuan ekonomi dan dan mendorong pengembangan institusi-institusi kebudayaan modern. Akan tetapi, karena dalam program Tanzimat ini Sultan Abdul Madjid terlalu tergantung pada Barat terutarna dalam hal bantuan ekonomi dan keuangan-keuangan, ini pun akhirnya mengalami kegagalan. Bahkan lebih parah lagi dari kegagalan yang dialami pendahulunya. Menyadari kegagalan ini, kaum intelektual mudai tampil ke depan dengan melontarkan gagasan-gagasan pembaharuannya. Tercatatlah nama-nama seperti Ziya Pasha, Namik Kemal, Ali Suavi yang melontarkan pemikiran-pemikiran kritis tentang pembaharuan. Yang menarik dari pemikiran para intelektual yang dikenal dengan nama Usmani Muda ini ialah, meskipun mereka itu menjadi penganjur ide-ide liberal tentang kebebasan berpendapat, kesadaran nasional, konstitusionalisme, modernisme Islam dan sebagainya, pemikiran mereka tetap berpijak pada landasan Islam.

Tokoh pemikir Islam Indonesia Harun Nasution pernah menyebutkan bahwa kaum Usmani Muda justru menentang pembaharuan yang sekedar meniru Barat dalarn segala-galanya. Itulah sebabnya mereka memberikan kritik keras terhadap pembaharuan Tanzimat yang dinilainya sudah kurang mengindahkan ajaran-ajaran Islam. Pembaharuan Tanzimat, menurut mereka, terlalu banyak menggunakan institusi-institusi sosial Barat yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat Timur. Perlu dicatat bahwa yang diinginkan oleh intelektual Usmani Muda adalah bagaimana mentransfomasikan ide-ide Barat dan mencoba menyesuaikannya dengan ajaran-ajaran Islam. Mereka mencoba mengaktualisasikan nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam dengan ide-ide modern, terutama yang berhubungan dengan pemikiran politik Barat. Itulah sebabnya istilah-istilah seperti “hubbul wathon min al iman” (cinta tanah air adalah bagian dari iman) serta “ikhtilaafu ummati rahmah” (perbedaan pendapat dikalangan umat adalah suatu rahmat), sering dipopulerkan.

Kaum Usmani Muda berhasil mewujudkan salah satu cita-cita modernisasinya, yakni meyakinkan Sultan Abdul Hamid yang berkedudukan di Istambul untuk mengadakan Undang-Undang Dasar bagi Kerajaan Usmani. Tetapi kaum ulama tradisional yang merasa dipojokkan oleh gerakan pembaharuan lantas mempengaruhi Sultan Abdul Hamid, dengan mengatakan bahwa konstitusi baru tersebut tak lebih merupakan usaha untuk membatasi kekuasaan Sultan. Sultan segera membatalkan konstitusi dan menindas setiap gerakan oposisi, serta menjalankan kekuasaan secara absolut. Meskipun pemerintahannya bersifat absolut, bukan berarti bahwa pada zaman Sultan Abdul Hamid tidak ada pembaharuan. la bahkan mengadakan pembaharuan besar-besaran dalam bidang pendidikan, transportasi dan komunikasi. Namun sistim pemerintahannya yang despotik telah menyebabkan tumbuhnya berbagai pemberontakan, yang bertujuan menggulingkan kekuasaaan Sultan. Salah satu pemberontakan dicetuskan oleh Ali Suavi, salah seorang tokoh pembaharu Usmani muda, tetapi pemberontakan ini dapat digagalkan dan berakhir dengan dihukum bunuhnya Suavi oleh Sultan.

Dalam perjalanannya, pembaharuan yang dilakukan oelh kelompok Usmani Muda dapat digagalkan oleh Sultan. Beberapa analisis menyebutkan bahwa diantara penyebab kegagalan pembaharuan tersebut antara lain karena gerakan Usmani Muda tidak didukung oleh kelas menengah terpelajar dan golongan ekonomi kuat. Hal Ini karena rakyat belum paham sepenuhnya tentang ide-ide pembaharuan kaum Usmani Muda. Masyarakat / rakyat justru memahami bahwa Ide-ide mereka tidak masuk akal  dan terlalu tinggi. Setelah keberhasilan menggagalkan pembaharuan Usmani Muda, pemerintahan Sultan Abul Hamid menjadi makin bertambah absolut, kondisi ini mendorong bangkitnya taruna muda militer yang mempelopori berdirinya gerakan Turki Muda ( sebuah kelompok pembaharuan baru masa itu ) dengan tokoh-tokohnya Ahmed Riza, Mahmud Murad dan Pangeran Sabahuddin. Ketiganya berusaha menggalang opini publik dan melancarkan krtik-krtik tajam kepada Sultan lewat berbagai penertbitan surat kabar dan majalah.

Kritikan-kritikan yang dilancarakan oleh Gerakan Turki Muda ini akhirnya berhasi menekan dan memaksa Sultan Abdul Hamid untuk mengembalikan konstitusi dan membuka kembali parlemen. Keadaan ini dengan sendirinya memberi peluang bagi tumbuhnya kebebasan intelektual. Kreatifitas intelektual tumbuh subur dengan munculnya perdebatan dan polemik mengenai dasar-dasar ideologi pembaharuan Turki Usmani. Tiga aliran pembaharuan muncul dan berkembang di masyarakat. Pertama, golongan Barat yang menghendaki peradaban Barat sebagai dasar pembaharuan. Tokoh-tokohnya yang terkemuka adalah Tewfik Fikret dan Dr. Abdullah Jewdat. Keduanya tennasuk pengeritik tajam faham keagamaan tradisional dan fatalisme Islam ketika itu. Begitu tajamnya mereka mengeritik kaum agamawan hingga dicap sebagai “musuh agama”. Kedua, golongan Islam dengan tokoh utamanya Mahmed Akip (1870-1936) Mereka menolak ide-ide baik golongan Barat maupun Nasionalis, dan mengancam golongan yang suka sekali meniru Barat dan melakukan praktek westernisasi tanpa determinasi khusus. Bagi mereka agama bukanlah penghambat kemajuan sebagaimana dituduhkan oleh golongan Barat. Kemajuan Jepang dijadikan model dan mengharapkan orang Islam untuk mencontohnya. Alasannya, Jepang hanya mengambil ilmu pengetahuan dan teknologi Barat tetapi tidak meniru adat istiadatnya. Sedang golongan Nasionalis dikritiknya karena berfaham sekuler dan berusaha mencampakkan peradaban Islam dari khasanah budaya Turki serta menghendaki budaya Barat sebagai altematif Golongan ketiga, yakni golongan Nasionalis dengan tokoh utamanya Ziya Gokalp (1875­-1924). la adalah seorang filosof dan sosiolog yang karya-karyanya memberikan kontribusi besar bagi perkembangan intelektual dinasti Usmani dan bagi Republik Turki di kemudian hari.

Abdul Halim

Dosen Ilmu Hadis pada IAIN STS Jambi dan Mahasiswa Program Doktor pada UIN Raden Fatah Palembang

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!