SEKILAS TENTANG JIHAD

Istilah “Jihad” sering menjadi perhatian banyak kalangan, baik kalangan akademisi maupun peneliti. Makna jihad dapat ditelusuri dari dua segi yakni etimologi dan terminologi. Secara etimologis jihad menurut Wahbah al-Huzaili bermakna kemampuan, atau mengeluarkan segala tenaga dan kemampuan dalam mengerjakan sesuatu. Sedangkan secara terminologi, memiliki pengertian mengerahkan segala kemampuan yang ada atau sesuatu yang dimiliki untuk menegakkan kebenaran dan kebaikan serta menentang kebatilan dan kemungkaran dengan hanya mengharapkan Ridha dari Allah. Menurut makna leksikal, pengertian jihad ialah mencurahkan segala upaya dan kemampuan untuk mendapatkan jawaban atas sesuatu perkara yang sulit dan berat.

Jadi berjihad itu ialah membangun dan mengupayakan sesuatu yang bersifat fisik maupun non fisik ataupun pemikiran. Terdapat istilah lain yang memiliki hampir kemiripan makna yakni “Ijtihad” yang berarti membangun sisi intelektualitas manusia untuk memperoleh jawaban dan keputusan hukum atas sebuah perkara yang membutuhkan kepastian hukum.

Ibnu Atsir, seorang ahli bahasa terkenal menerangkan bahwa “al- jihad” berarti memerangi orang-orang kafir secara sungguh-sungguh dengan menghabiskan daya dan tenaga untuk menghadapinya, baik dengan perkataan atau perbuatan atau dengan harta benda. Dengan merujuk pada firman Allah swt pada surat At-Taubah. Tentu saja definisi oleh Ibnu Atsir ini merujuk kepada masa-masa sulit perjuangan Rasulullah Muhammad saw dalam berupaya menegakkan Umat Islam di tengah bayang-bayang ancaman dan penyerangan kaum Kafir Qurays. Dapat juga dikategorikan sebagai jihad yakni mendakwahkan ajaran Islam kepada umat manusia agar kembali kepada agama yang benar, agama yang di ridhai Allah di dunia dan akhirat, maupun mengajak sesama Muslim kepada jalan yang benar, yaitu jalan yang mendekatkan mereka kepada Allah swt.

Kata Jihad dalam Al-Qur’an juga disebutkan sebanyak 41 kali dalam beberapa surat, sebanyak 28 ayat berisi tentang perjuangan. Jihad juga mempunyai beberapa keistimewahan yang salah satunya ialah kisah yang diceritakan oleh Ghulam Muhyiddin dari Wardak. Dia menceritakan  ketika pada bulan Ramadhan 1404 H yang bertepatan dengan musim panas, sebagian kaum Muslim yakni dari kalangan Mujahidin telah tewas 15 orang disebabkan musim panas tersebut. Hal itu karena selama 3 bulan mereka berada di alam yang terbuka, dalam keadaan kepanasan dan kedinginan. Tetapi, seperti sebuah keajaiban yang membuat orang-orang takjub adalah tidak seorangpun dari jenazah mereka yang berbau busuk, melainkan berbau wangi. Selanjutnya Ghulam bercerita, sedangkan seorang komunis yang dibunuhnya langsung berbau busuk.

Dengan demikian dapatlah kita simpulkan pengertian dari jihad itu sendiri bahwa jihad bukan saja berjuang dengan berperang, namun bisa juga berusaha dengan sungguh-sungguh, misalnya belajar dengan baik untuk mencapai prestasi sehingga dapat membanggkan kedua orang tua kita, melawan hawa nafsu ketika kita hendak melakukan kebaikan ataupun mencari dalil hukum yang belum jelas, seperti yang dilakukan oleh para ulama Mujtahid. Selain dari itu, termasuk juga dalam kategori Jihad fisabilillah yakni berusaha bersungguh-sungguh di jalan Allah dalam aspek yang luas dan tidak terbatas pada perjuangan dan peperangan. Berupaya meluruskan dan menjelaskan tentang kesalahpahaman atas Islam dapat juga dikategorikan sebagai jihad. Terdapat elemen-elemen yang sakral di dalam Islam semisal; konsep Tuhan, Rasul, al-Qur’an. Jikalau terjadi kesalahan dan penistaan terhadap elemen-elemen tersebut, maka wajib hukumnya bagi Umat Islam untuk memberikan penjelasan kepada pihak lain hingga lahir penjelasan yang terang benderang tentang Islam itu sendiri. Meskipun demikian, pembelaan yang melahirkan aksi atau tindakan harus tetap  dalam arti kata tidak melampaui batas atau berbuat anarkis, karena hal yang semacam itu tidak disukai Allah.

Adapun hukum jihad menurut yang  penulis kutip di dalam buku yang berjudul Konsep Jihad Dalam Islam adalah boleh kita berjihad atau memerangi musuh, apabila musuh itu datang untuk menyerang atau menyakiti salah satu Negeri Muslim, jika musuh belum terkalahkan maka Wajib ‘Ain bagi setiap penduduknya berjihad hingga musuh tersebut terkalahkan. Jihad ini disebut dengan Jihad difa (pembelaan diri). Hal ini berdasarkan Firman Allah yang artinya. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu mundur (al-Anfal:15).

Oleh karenanya, jihad yang harus dikembangkan saat ini oleh Umat Islam adalah jihad memberantas kemiskinan dan kebodohan, mengingat Indonesia merupakan negara aman dan damai. Namun demikian, jihad dalam arti perang bisa saja diberlakukan manakala negara ini sedang dalam bahaya perang atau dalam ancaman negara-negara penjajah.

About Mohammad Ridwan 10 Articles
Mahasiswa IAIN STS Jambi dan Penulis Aktif Bidang Keagamaan

Be the first to comment

Leave a Reply