TASAWUF AKHLAKI

[toc title=”Pembahasan dalam Artikel ini Meliputi:” title_tag=”strong” list=”ol” depth=”1″]

Definisi

Tasawuf Akhlaki adalah gabungan antara tasawuf dan akhlak. Menurut Anwar dalam bukunya Akhlak Tasawuf (2010:230) mengatakan bahwa “secara etimologis Tasawuf Akhlaki bermakna membersihkan tingkah laku atau saling membersihkan tingkah laku. Jika konteksnya manusia, tentu saja tingkah laku manusia yang menjadi sasarannya”. Dari kutipan ini dapat disimpulkan bahwa Tasawuf Akhlaki erat hubunganya dengan perilaku dan kegiatan manusia dalam bersosialisasi dengan lingkungannya untuk mencari keridloan Allah semata.

Tasawuf Akhlaki adalah ajaran tasawuf yang membahas tentang kesempurnaan dan kesucian jiwa yang diformasikan pada pengaturan sikap mental dan pendisiplinan tingkah laku secara ketat, guna mencapai kebahagiaan yang optimal. Untuk mencapai kebahagian yang optimal memerlukan pendidikan dan pelatihan mental yang panjang. Maka dari itu teori dan amalan tasawuf yang pertama yang harus diformulasikan adalah dalam bentuk pengaturan sikap mental dan pendisiplinan perilaku. Dengan kata lain untuk mencapai kebahagia yang optimal sekaligus untuk berada di hadirat Allah, manusia harus terlebih dahulu mengidentifikasi eksistensi diri dengan ciri-ciri Ketuhanan melalui penyucian jiwa dan rohani yang bermula dari pembentukan perilaku yang paripurna. Untuk mendidik mental agar terbentuk perilaku yang paripurna hal pertama yang harus dilakukan adalah menguasai penyebab utama, yakni hawa nafsu.

Menurut Ahmad dalam artikelnya (2015:62) “Tujuan terpenting akhlak tasawuf adalah mendapatkan jalinan koneksi dengan Tuhan, sehingga merasa dan sadar berada di hadirat Tuhan, keberadaan kehadirat Tuhan itu dirasakan sebagai kenikmatan dan kebahagian yang hakiki” namun untuk mencapai kenikmatan dan kebahagian yang hakiki butuh pendidikan mental yang panjang dan pengendalian hawa nafsu. Tasawuf Akhlaki adalah gabungan dari dua ilmu yaitu ilmu akhlak dan ilmu tasawuf. Tasawuf merupakan ilmu yang mempelajari tentang usaha-usaha membersihkan diri, berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan kesucian dengan ma’rifah, menuju keabadian saling mengingatkan sesama manusia, berpegang teguh pada janji Allah dan syariat Rasulullah dalam mendekatkan diri dalam mencari ridho Allah.

Takhalli, Tahalli, dan Tajalli

Definisi Takhalli, Tahalli dan Tajalli adalah sebagai mana yang dikatakan oleh Ismail Hasan dalam jurnalnya(2014:54) dalam jurnalnya yakni:

Takhalli adalah tahapan pertam yang dilakukan oleh para sufi untuk mencari kerihdoan Allah sebagai mana dalam jurnalnya Ismail Hasan (2014:54) mengatakan bahwa ”Takhalli yakni mengosongkan diri dari sifat ketergantungan terhadapa kelezatan dunia” ada beberapa hal yang harus dibersihkan ketika seseorang ingin mendapatkan tingkat Takhalli yakni: hasud, hiqh (benci), su’udzan, takabbur, ‘ujub (berbangga diri) (berbangga diri), riya’, sum’ah (mencari kemansyuran), bakhil, naimah, Hubb al-mal (materialistis), tafakhur, ghadab (marah), qidzib (berbohong), khianat, ghibah (memebicarakan kejelekan orang lain). Dapat kita simpulkan Takhalli berari membebaskan diri dari ketergantungan duniawi, membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, dari maksiat lahir dan maksiat batin.

Tahalli ialah upaya menghiasi diri dengan akhlak terpuji. Sebagai mana didalam jurnalnya Khoirurrijal (2015:214) mengatakan bahwa “Tahalli berarti menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sifat dan sikap serta perbuatan yang baik”. Dari kutipan tersebut dapat disimpulkan Tahalli berarti berusaha agar dalam setiap gerak perilaku berjalan diatas ketentuan agama. Baik kewajiban yang bersifat “luar” maupun kewajiban yang bersifat “dalam”. Kewajiban yang bersifat luar adalah kewajiban yang bersifat formal, seperti shalat, puasa, dan haji. Kewajiban yang bersifat dalam contohnya yaitu: imaan, ketaatan dan kecintaan kepada Tuhan. Tahalli dilakuakan setalah pengosongan jiwa. Jiwa yang telah kosong harus diisi dengan akhlak terpuji dan dibiasakan dalam perbuatan agar menjadi manusia paripurna (insan kamil).

Tajalli ialah hialngnya hijab dari sifat-sifat ke-bassyariyyah-an (kemanusian). Kata tajalli artinya terungkapnya nur ghaib. Setia[ calon sufi perlu mengadakan latihan-latihan jiwa berusaha membersihkan diri dari sifat tercela, mengosongkan diri dari sifat-sifat keji dan melepaskan segala sangkut paut dengan dunia. Setelah itu mengisi diri dengan akhlak terpuji, setiap tindakan selalu dalam rangka ibadah dan menghindari diri dari segala yang dapat mengurangi kesucian diri baik lahir maupun batin. Seluruh hati diupayakan hanya untuk memperoleh tajjali atau pancaran nur dari Tuhan. Apabila Tuhan telah menembus hati hamba-Nya dengan cahanya-Nya pada saat ini hamba-Nya memperoleh cahaya yang terang benderang.

Tokoh-Tokoh Tasawuf Akhlaki

Hasan Al-Bashri

Nama lengkap adalah Abu Sa’id Al-Hasan bin Yasir. Ia lahir dimadinah pada tahun 21 H (623M) dan wafat pada hari kamis 10 Rajab 110 H (728H). Dasar pendiriannya yang paling utama adalah menolak segala kenikmatan duniawi. Prinsipr ajarannya, dalam bukunya Samsul Munir Amin (2012:223) mengatakan bahwa “prinsip ajaran hasan Al-Bashri adalah khauf dan raja’, dengan pengartian takut terhadap siksa Allah karena perbuatan dosa dan sering melalaikan perintah-Nya”. Dari kutipan ini dapat disimpulkan ajaran tasawuf Hasan Al-Bashri adalah khauf dan raja’ yakni khauf (perasaan takut) kepada Allah SWT, dan raja’ (pengharapan) tidak akan dirundung kemuraman dan keluhan, dan tidak pernah tidur senang karena selalu mengingat Allah. Ajarannya yang lain adalah anjuran pada setiap manusia untuk senantiasa bersedih hati dan takut kalau tidak mampu melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya.

Al-Muhasbi

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Al-Harits bin As’ad Al-Muhasibi. Ia lahir di Bashrah 165 H dan wafat 243 H (857 M). Makrifat, Al-Muhasbi menjelaskan tahapan-tahapan ma’rifat antara lain; Ta’at, awal kecintaan kepada Allah adalah taat, dan beribadah. Setelah melaksanakan yang dua ini ia akan menyaksikan berbagai rahasia yang selama ini disimpan Allah, dan terakhir adalah apa yang dikatakan oleh sementara sufi dengan fana’ yang menyebabkan baqa’.

Khauf dan Raja’, Al-Muhasibi dalam pandangannya menempatkan khauf dan raja’ dalam posisi penting dalam perjalanan seseorang untuk membersihkan jiwa. Pangkal dari khauf dan raja’ adalah pengetahuai tentang janji dan ancaman Allah. Menurut Solihi dan Anwar (2008:128), “khauf dan raja’ dapat dilakukan dengan sempurna hanya dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah.” Dalam hal ini mengaikan kedua sifat itu dengan ibadah dan dengan janji serta ancaman Allah.

Al-Qusyairi

Nama lengkap adalah Abdul Karim bin Abdul Malik bin Thalhah bin Muhammad An-Naisaburi. Ia lahir tahun 376 H di Istiwa dan wafat tahun 445 H. Mengembalikan tasawauf ke landasan Ahlussunah, akan nampak jelas bagaimana al-Qusyairi cenderung mengembalikan tasawuf ke atas landasan dokrin Ahlussunnah, sebagai pernyataannya: ketahuilah! Para tokoh aliran ini membina prinsip-prinsip tasawuf atas landasan tauhid yang benar, sehingga terpeliharalah dokrin mereka dari penyimpangan. Secara implikasi ungkapan Al-Qusyairi terkandung penolakan terhadap para sufi syathahi, yang mengucapkan penuh kesan terjadinya perpaduan antara sifat-sifat Ketuhanan, khusus sifat terdahulu-Nya, dengan sifat-sifat kemanusian, khusunya sifat baharunya. Dalam hal kesehatan batin, Al-Qusyairi pun mengecam keras para sufi pada masanya, karena gemar mereka mempergunakan pakaian orang-orang miskin, sementara tindakan mereka pada waktu yang sama bertantangan dengan pakaian mereka. Ia menekankan kesehatan batin dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Al-Sunnah lebih penting ketimbang pakaian lahiriah.

Al-Ghazali

Abu Hamid Al-Ghazali adalah pendiri tasawuf sunni yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, dan ditambah lagi Ahlussunah wal Jamaah. Ajarannya adalah Ma’rifat yakni mengetahui rahasia Allah dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan dengan segala yang ada. As-Sa’adah, menurut Al-Ghazali kelezatan dan kebahagian yang paling utama adalah melihat Allah (ru’yatullah). Di dalam kitabnya Kimiyat al-Sa‘adah menjelaskan bahwa as-sa‘adah (kebahagian) itu sesuai dengan watak (tabiat), sedangkan watak sesuatu itu sesuai dengan ciptaannya.

Daftar Pustaka

Anwar Rosihan, Akhlak tasawuf. Bandung: Pustaka Setia, 2010.
Ahmad,”Epistemologi Ilmu-Ilmu Tasawuf”. Fakultas Ushuluddi dan Humaniora IAIN
Antarsari Banjarmasin,vol.14, no.1.(2015).
Nilyati, “Sistim Pembinaan Akhlak Dalam Tasawuf Akhlaki”. Tajdid, Vol.XIII, NO.2. (2014).
Hasan Ismail,”Jalan Rupil Menuju Tuhan”.An-Nuha,Vol. 1, No. 1,(2014).
Khoirurrijal, “Pendidikan Dalam Dunian Sufistik”. Nizham, Vol 4, No.2.(2015).
Amin Samsul Munir, Ilmu Tasawuf. Jakarta: Amzah,2012.
Solihin, Anwar Rosihan, Ilmu Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia, 2008.

Penulis: Yevit Marda Yetty (Mahasiswa BPI Fakultas Ushuluddin UIN Jambi)

About Mahasiswa FU 9 Articles
Mahasiswa FU adalah Mahasiswa yang menyumbangkan artikelnya untuk website Kajian Pemikiran Islam. Identitas personal terdapat pada bagian bawah artikel.

Be the first to comment

Leave a Reply