WARNA-WARNI ISLAM

TASAWUF DAN TAREKAT NUSANTARA

Pengertian Tasawu dan Tarekat

Tasawuf atau tarekat menurut Rosihon Anwar dalam bukunya Akhlak Tasawuf adalah “usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sedangkan tarekat adalah cara dan jalan yang di tempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah SWT”. Tasawuf sendiri memiliki banyak pengartian dan salah satunya adalah menurut pendapat Habib Luthfi bahwasanya tasawuf dapat dilihat dari 3 sudut pandang yaitu;

1. Tasawuf/tarekat inda al-akhlaq wa al adab adalah tasawuf ditinjau sebagai etika, adab, dan akhlak.
2. Tasawuf/tarekat inda al-fuqaba yakni tasawuf dalam pandangan Ahli Fiqh.
3. Tasawuf/tarekat inda abl am’rifab adalah tasawuf menurut para Ahli Ma’rifah.”

Menurut Faisal Bahar Susanto bahwasanya “Tasawuf disebut tarekat yang berarti jalan menuju Allah. Sedangkan Orang yangmenempuh tarekat untuk sampai kepada Allah diibaratkan sebagai musafir dandisebut salik. perkataan tasawuf dapat pula diartikan secara khusus sebagai jalan rohani(Tarekat).” Ini secara esensial menjadi sebuah metode praktis untuk membimbing seseorang mengikuti suatu cara berfikir, merasa dan bertindak tertentu. Namun tasawuf maupun tarekat sendiri intinya atau tujuan dari kedua mazhab ini adalah untu jauh lebih mengenal agama islam, untuk lebih dekat dengan tuhan dan untuk mencari keridoan Allah SWT, dalam hal lebih dekat dengan akhirat dan meninggal kan segala macam sifat keduniawian.

Sejarah Timbul dan Perkembangan Tasawuf dan Tarekat di Nusantara

Sejarah Islam menjelaskan bahwa perkataan tasawuf baru dikenal setelah abad ketiga, namun begitu bukan berarti perkataan ini tidak ada dalam Islam, perkataan tasawuf sudahpun dikenal dan kandungan dari ajaran tasawuf juga sudah ada pada diri Nabi SAW dan para sahabat beliau. Indonesia sangat kaya dengan khazanah naskah Islam. Hal ini diakui oleh banyak sarjana dan peneliti yang salah satunya ditulis oleh Arsyad yaitu Kanz al-Ma’rifah meskipun sebuah risalah kecil,namun isinya sudah dapat dianggap mencakup struktur minimal suatu ajaran tasawuf.”

“Teori Hill menyebutkan bahwa dalam Hikayat Raja-Raja Pasai yang disusun pada abad ke 14 mengatakan Islam yang datang di Nusantara beraliran tasawuf. Data ini di dukung oleh Sejarah Melayu yang sumbernya juga dari Hikayat Raja-raja Pasai.”

Kemudian tarekat sendiri juga berkembang di Nusantara, yang mana perkembangan tarekat di Nusantara salah satu-nya ialah dengan cara, penyampaian qalam Allah melalui music yang di iringi dengan lagu, seperti yang di katakana oleh Abu Amr Ismail bin Nujaid berkata, “Saya pernah mendengar Abu Usman bin Said bin Usman ar-Razi al-Wa’iz berkata, “sama” (musik yang diiringi oleh lagu).”

Tarekat sendiri kalau dilihat pada tujuan awalnya ialah untuk mencapai spiritual tertinggi,penyucian diri atau jiwa yaitu dalam bentuk intensifikasi dzikrullah. Namun pada tingkatan yang lebih tinggi, seseorang juga bisa merasakan kenikmatan spiritual sebagai manifestasi dari pengenalan hakiki terhadap Allah SWT. Kondisi yang sedemikian pada akhirnya (abad ke-6 dan ke-7 H.) melembaga sebagai sebuah kelompok atau organisasi atau ordo sufi yang terdiri dari syekh, murid, dan doktrin atau ajaran sufi yang selanjutnya dikenal dengan ta’ifah sufiyyah, dan lebih teknis lagi sebagai tarekat.”

Tasawuf mengalami perkembangan seiring dengan situasi dan kondisi zaman. Saat ini telah bermunculan genre atau aliran dalam tasawuf, salah satunya adalah tasawuf sosial di Nusantara; yakni tasawuf yang tidak hanya mementingkan kesalehan individual, tapi juga peka dan terlibat dalam gerakan perubahan sosial-politik. Corak tasawuf sosial-politik ini berbeda dengan model tasawuf dalam bentuk zuhud, di mana empati sosial dan kepekaan terhadap ketidakadilan sosial menjadi dasar utama gerakan tasawuf model ini model tasawuf ini pada intinya mengajak keseimbangan antara hidup dunia dan akhirat, atau melakukan zikir dan doa sekaligus tetap melakukan aktifitas sehari-hari.

Di sini tasawuf dijadikan sebagai jalan bagi perubahan sosial-politik. Lalu Apakah yang dimaksud tasawuf berdimensi sosial-politik itu. “Nurcholis Madjid, seraya merujuk pendapat Said Ramadlan, menyebut tasawuf yang kontekstual pada zaman ini sebagai spiritualisme sosial (al-Ruhaniyyat al-Ijtima’iyah).”

Tokoh-Tokoh Tasawuf Tarekat di Nusantara

Di Kalimantan Selatan juga berkembang beberapa aliran tarekat, di antaranya adalah;

1. Al-Imam al-`Allamah al-Sayyid Abdullâh bin Alwî al-Haddâd

Di antara tokohnya yang menonjol dan terkenal di kalangan masyarakat Indonesia termasuk di Kalimantan Selatan,terutama pengikut Alawiyah adalah al-Imam al-Allamah al-Sayyid Abdullâh bin Alwî al-Haddâd. Dia dilahirkan di pinggiran Kota Tarîm, Hadralmaut pada tahun 1044 H, dan wafat pada tahun 1132 H di kota yang sama. Namanya di sini menjadi terkenal melalui wirid yang dinamai dengan Râtib Habib Abdullâh Haddâd, yang oleh sebagian masyarakat setiap malam dibaca di banyak rumah, Masjid dan Surau.”

2. Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri as-Sinkili

Merupakan syiah atau alim ulama yang berasal dari Aceh, Ia dilahirkan di Suro, sebuah desa pinggiran sungai dalam wilayah Kabupaten Singkil, sedangkan tahun kelahiran beliau tidak di ketahui secara pasti namun suatu pendapat mengatakan,” ia lahir pada tahun tahun 1620 M namun ada juga penpat lain yang mengatakan bahwa beliau lahirkan sekitar tahun 1024 M/1615 H. dan beliau merupakan pembawa Tarekat Syatariyah pertama ke Nusantara.”

3. Shaykh Hasanuddin b. Muhammad Maksum b. Abi Bakar al-Deli

“Shaykh Hasanuddin bin Muhammad Maksum bin Abi Bakar al-Deli al-Sumatrawi dilahirkan di Labuhan Deli, Sumatera Timur, pada hari Sabtu pada tanggal 17 Muharram 1301 H, bertepatan dengan tahun 1884 M. Beliau merupakan penganut Tarekat Naqshabandîyah di Sumatera Utara. Walaupun beliau menjadi sosok yang kurang dikenal dalam bidang tasawuf, akan tetapi beliau memiliki karya-karya di bidang tasawuf.”

Sumber Rujukan

Rosihon anwar.”,akhlak tasawuf.”,bandung,cv pustaka setia,2010,
Imam Khanafi.”kajian antropologi sufi terhadap pemikiran nasionalisme habib lithf.” Fahmi november 2013
Faisal bahar susanto.”tarekat qadariyah naqsabandiyah”
Nuraida.”konsep tasawuf syekh Muhammad arsyad al-banjari.”wardah, desember 2015.
Nurkhalis A.Ghaffar.”tasawuf dan penyebaran islam di Indonesia.” Rihlah, Oktober 2015
Fikri Sholeh..”strategi tarekat dalam menyebarkan dakwah di Nusantara.”Hikmah, Juli 2014,
riyadi Agus.”tarekat sebagai organisasi tasawuf” at-Taqaddum, Nopember 2014
eka putra Andi.”tasawuf dan perubahan sosial politik di Nusantara” tapis,Januari-Juni 2012
Asmaran As.”tarekat-tarekat di Kalimantan selatan (Alawiyyah, Sammâniyyah dan Tijâniyyah)” Al-Banjari, Juli 2013
Damanhuri,“umdah al-muhtajin:rujukan tarekat syattariyah Nusantara” ulumuna, Desember 2013
Ja’far.”tarekat dan gerakan sosial keagamaan shayakh hasan maksum.” Teosofi, ,desember 2015,

Penulis: Darul Ilmi (Mahasiswa Jurusan BPI Fakultas Ushuluddin UIN Jambi)

Mahasiswa FU

Mahasiswa FU adalah Mahasiswa yang menyumbangkan artikelnya untuk website Kajian Pemikiran Islam. Identitas personal terdapat pada bagian bawah artikel.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!