ISLAM DAN KEBUDAYAAN

TENGKONG SEBAGAI SIMBOL KEKAYAAN BUDAYA JAMBI

marlinaBy: Marlina
Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits pada Fakultas Ushuluddin
IAIN STS Jambi

Kita ketahui bahwasanya Indonesia memiliki bermacam suku dan budaya, tidak hanya sekedar dimiliki tetapi kaya akan keanekaragaman dan ciri khas dari masing-masing daerah yang telah menghasilkan sebuah adat istiadat. Mengapa perlu membicarakan adat istiadat? Adat istiadat sudah menjadi hal yang tak bisa  ditinggalkan bagi setiap daerah. Hal ini menurut penulis disebabkan oleh dua pertimbangan yakni pertama rasa ingin  menghargai cipta karya yang telah nenek moyang ciptakan di masa lalu, dan yang kedua ada unsur yang tersurat di dalamnya, di mana nenek moyang terdahulu jualah yang lebih paham sebab dan akibat sebuah adat itu sendiri ada.

tengkongAdat istiadat di Jambi masih menjunjung tinggi akan adat istiadat yang ada dari terdahulunya. Hanya saja, pada praktek di lapangan ditemukan agak sedikit berbeda. Kemungkinan hal itu disebabkan perkembangan zaman yang semakin modern, sebagai kelanjutan dari masa klasik. Ada yang menarik bagi penulis dalam adat Jambi, penulis menemukan sebuah peninggalan nenek moyang yang menjadi saksi bisu yang ada di Jambi. Sebuah benda yang kecil terbuat dari besi kira-kira dengan berat setengah kilo gram, dengan panjang 15 cm, dan lebar 7cm mempunyai tutup, kurang lebih seperti peti. Pembaca sendiri mungkin pernah menemukan benda ini bukan? Pernahkah pembaca ingin mengetahui asal mula benda di atas? Jika itu juga masalah pembaca, maka sama halnya dengan keingintahuan penulis.

Sering penulis  temukan di masyarakat Jambi, benda tersebut berisikan bahan untuk menyirih yang mana didalamnya ada daun sirih sekitar 5 lembar, buah pinang, dan getah kapur. Penulis juga sering menemukan benda tersebut dalam acara penyambutan tamu besar, yang mana diiringi dengan tarian yang sering disebut dengan tarian “sekapur sirih”. Selain itu penulis juga sering menemukan pada acara peminangan. Dalam hal peminangan tidak hanya alat untuk menyirih saja, tetapi ada sepasang cincin di dalam benda tersebut.

Sebelum mengetahaui ke salah satu sumber pakar sejarawannya langsung, langkah pertama yang  penulis  lakukan  ialah  menanyakan benda tersebut dari setiap daerah yang ada di Jambi, yang mana kita ketahui Jambi juga mempunyai berbagai penduduk daerah, ada Jawa, Bugis, Banjar, dan lain sebagainya. Dari berbagai daerah yang penulis tanyakan terdapat bermacam jawaban yang beragam pula. Ada yang menjawab benda tersebut adalah kotak amal, peti, tengkong, cerano, tempat sirih, dan lain sebagainya. Ketika penulis menanyakan asal mulanya, satu Jawaban pun tak penulis temukan.

ceranoUntuk itulah kembali penulis tanyakan langsung kepada salah satu pakar sejarawan dan juga salah satu Dosen di salah satu universitas yang bernama Aminuddin. Beliau mengatakan bahwasanya benda tersebut dalam daerah Jambi dinamakan dengan kata “Cerano”,  sedangkan orang Bathin menyebutnya dengan “Paliman” tetapi ada juga yang menyebutnya dengan “Tengkong.” Di dalam benda tersebut terdapat sirih, pinang, kapur, gambir, benda ini dahulunya berasal dari budaya Melayu lama dan Kerajaan Majapahit,  Singosari, dan Mataram. Adapun kegunaan pada kerajaan dahulu adalah sebagai penyambutan tamu agung seperti kunjungan Raja.

Dalam Seloko Melayu dikatakan:

“Nenek mamak kami tunggu dengan cerano nan berisi sirih Paliman nan sabuah,     sebelum kito berunding cubolah makan siri kami agak secabik Pinang agak setemis rokok agak sebatang, kareno becakap kito selepas litak, berunding kito sesudah makan”

Selain itu, beliau juga mengatakan Cerano bukan hanya tempat penyambutan tamu agung saja, tetapi juga tempat perhiasan yang ada di kerajaan, baik yang terbuat dari emas, perak, ataupun tembaga. Dalam wawancara yang penulis lakukan bersama sejarawan tersebut, maka penulis dapat menarik kesimpulan dengan kegunaan  benda tersebut yang sering digunakan oleh masyarakat Jambi sekarang.

Cerano adalah sebuah benda yang turun temurun menjadi alat sebuah pengantar  adanya tamu besar. Jika dahulunya kunjungan sebuah Raja, tapi sekarang lebih diperuntukan orang yang berpangkat tinggi. Seperti Camat, Bupati, dan lain sebagainya yang berpangkat. Dalam adat Melayu Jambi, selain untuk  peminangan, penyambutan tamu mempelai pria, di dalam Cerano juga terdapat sepasang cincin. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pada masa dahulu Cerano merupakan tempat perhiasan sebuah kerajaan, sedangkan saat ini Cerano digunakan sebagai tempat perhiasan dalam sebuah peminangan.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!